90 Hari Terendam Banjir, Warga Bengawan Jero Lamongan Protes: Kami Butuh Air Surut, Bukan Mi Instan

Penderitaan ribuan warga di kawasan Bengawan Jero, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, belum juga berakhir meski telah memasuki bulan Maret 2026. Banjir yang merendam pemukiman, lahan pertanian, dan tambak warga tercatat telah berlangsung lebih dari 90 hari atau sekitar tiga bulan tanpa tanda-tanda akan surut sepenuhnya.

Kondisi ini memicu gelombang protes dan keputusasaan dari masyarakat yang merasa selama ini hanya mendapatkan penanganan sementara tanpa solusi permanen dari pemerintah.

Sejumlah wilayah di kawasan Bengawan Jero masih terendam cukup parah, terutama di lima kecamatan yakni Kalitengah, Karangbinangun, Turi, Glagah, dan Deket. Aktivitas ekonomi masyarakat nyaris lumpuh total, sementara akses pendidikan dan layanan kesehatan juga terganggu akibat genangan air yang masih tinggi.

Banyak warga terpaksa menggunakan perahu kecil untuk beraktivitas sehari-hari, termasuk anak-anak yang harus menyeberangi genangan banjir untuk berangkat ke sekolah.

Salah satu faktor utama yang menyebabkan banjir tak kunjung surut adalah kondisi Sluis atau Pintu Air Kuro yang hingga kini belum bisa dibuka secara maksimal.

Air dari kawasan Bengawan Jero yang seharusnya dialirkan menuju Sungai Bengawan Solo justru tertahan karena ketinggian permukaan air di sungai utama tersebut lebih tinggi.

“Pintu air belum bisa dibuka maksimal karena posisi air di Bengawan Solo lebih tinggi daripada di Kali Blawi. Kalau dipaksakan, air justru akan balik masuk ke wilayah kami,” ungkap salah seorang warga dengan nada kecewa.

Baca juga:  Lapas Kelas IIB Lamongan Peringati HUT ke-81 RI: Khidmat, Penuh Makna, dan Harapan Baru

Situasi ini membuat kawasan Bengawan Jero seperti menjadi kolam raksasa yang menampung air hujan dan limpasan sungai tanpa jalur pembuangan yang efektif.

Di tengah kondisi tersebut, masyarakat mulai merasa jenuh dengan bantuan logistik yang diberikan pemerintah berupa sembako seperti beras dan mi instan.

Bagi warga, bantuan tersebut hanya bersifat sementara dan tidak menyelesaikan persoalan utama yang mereka hadapi selama bertahun-tahun.

“Kami tidak butuh mi instan terus-menerus. Kami butuh air ini hilang. Tambak kami hancur, sawah gagal panen, anak-anak sekolah harus naik perahu setiap hari. Sudah tiga bulan kami hidup di atas air,” keluh seorang warga di Kecamatan Kalitengah.

Kerugian ekonomi yang dialami masyarakat pun diperkirakan mencapai miliaran rupiah. Banyak petani tambak dan petani padi kehilangan seluruh hasil panennya akibat genangan air yang terlalu lama.

Pemerintah Kabupaten Lamongan mengaku telah berupaya maksimal untuk mengurangi genangan banjir dengan mengoperasikan hingga 15 unit pompa air di berbagai titik pembuangan.

Pompa-pompa tersebut digunakan untuk mempercepat proses pembuangan air dari kawasan pemukiman menuju saluran utama.

Namun upaya tersebut masih belum mampu mengatasi persoalan secara menyeluruh karena faktor utama tetap bergantung pada kondisi debit air di Bengawan Solo.

Baca juga:  Audiensi Berujung Kekecewaan, JAMAL-KALIS Nilai Pimpinan DPRD Lamongan Ingkar Komitmen, Petani Hutan Dipermainkan

Selain itu, Bupati Lamongan bersama jajaran terkait juga telah berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) serta pemerintah pusat untuk mengusulkan solusi jangka panjang.

Salah satu usulan tersebut adalah pembangunan Waduk Karangnongko serta program normalisasi sungai secara menyeluruh guna mengendalikan banjir di kawasan Bengawan Jero.

Tokoh masyarakat setempat, H. Heri, meminta agar Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) segera turun tangan secara serius.

Menurutnya, pendangkalan sungai dan banyaknya eceng gondok yang menyumbat aliran air menjadi faktor besar yang memperparah banjir.

“Normalisasi sungai harus segera dilakukan. Pendangkalan sudah sangat parah, ditambah eceng gondok yang menutup aliran air. Kalau tidak ada pengerukan dan perbaikan pintu air, banjir ini akan terus berulang setiap tahun,” tegasnya.

Warga Bengawan Jero kini berharap pemerintah tidak lagi hanya memberikan bantuan darurat, tetapi benar-benar menghadirkan solusi struktural yang mampu menghentikan banjir tahunan yang selama ini menjadi momok bagi kehidupan mereka.

Tanpa langkah drastis dalam perbaikan infrastruktur pengendali banjir dan normalisasi sungai, masyarakat khawatir kawasan Bengawan Jero akan terus menjadi “langganan banjir abadi” setiap musim penghujan tiba. Pewarta: Hadi Hoy

 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News