by

Tips Mencari Jodoh

Taushiah: KH. Luthfi Bashori
Transkrip: Rizal Affandi

Kepada para pemuda yang sudah waktunya menikah, kalau kita di Indonesia biasanya para pemuda sudah waktunya menikah, menurut kaidah umum yaitu sekitar usia 25 tahunan.

Bagaimana tips mencari jodoh?
Orang mencari jodoh itu macam-macam.

Ada orang mencari jodoh yang kadang-kadang sulit mendapatkannya, maka boleh dia mencari sendiri kalau mampu, kalau tidak mampu hendaklah mencari bantuan, misalnya bantuan orang tua atau bantuan guru atau bantuan kawan.

Tapi memilih mereka yang benar-benar serius di dalam membantu mencarikan jodoh.

Kemudian kriteria seorang calon istri bagi remaja lelaki, sedangkan bagi remaja wanita ya kriteria mencari calon suami itu, bagaimana?

Pertama, kita katakan bahwasanya tidak ada orang di dunia ini yang sempurna.

Kalau sebagain laki-laki dalam mencari calon istri itu, misalnya yang cantik, yang kaya, yang pandai kemudian yang baik hati, yang sholehah, ahli ibadah.

Maunya dicari yang super-super, ini mungkin ada dari 1000 wanita cuma ketemu satu. Itupun mungkin ketemu satu, dan sudah ada yang punya, kadang-kadang begitu.

Maka tidak indah kalau mencari calon suami atau calon istri itu dicari yang sempurna.

Baca juga:  Bahaya Sekulerisme

Tapi berpeganglah kepada calon yang mempunyai pendidikan agama yang baik, kemudian juga nasab yang bagus.

Diharap adanya pendidikan agama yang baik dan nasab yang bagus ini, jika ada pada sang calon, barulah melangkah pada pencarian berikutnya, seperti kondisi ekonominya, bagi wanita misalnya mencari calon suami yang ekonominya sudah mulai mapan, atau setengah mapan, jadi tidak harus mapan betulan, tapi bisa juga calon mapan.

Karena kalau pengangguran dan tidak mempunyai pendidikan yang baik, maka janganlah dipilih.

Karena itu, para remaja lelaki jangan sampai kalian menganggur, karena takut-takut tidak laku nikah.

Kemudian yang terpenting juga di dalam pernikahan itu bagaimana mengemas atau mencari solusi agar bisa menikah di samping untuk kepentingan dirinya sendiri, yaitu calon mempelai laki-laki dan calon mempelai wanita, juga penting sekali dipertimbangkan bagaimana bisa menyatukan dua keluarga, yaitu keluarga dari calon lelaki serta keluarga dari calon perempuan, maksudnya menyetting besanan yang baik.

Yaitu bagaimana cara mengemas agar kedua besan, antara orang tua dan mertua, atau keluarga dari besan yaitu keluarga dari mempelai wanita serta keluarga dari mempelai laki-laki ini bisa klop tanpa ada permasalahan.

Baca juga:  Menuduh, Membully dan Nge-Prank

Kalau seperti ini yang ditempuh, bisa dikatakan arah pernikahannya telah menuju kepada pernikahan yang sakinah, mawaddah dan rahmah, dan yang seperti ini akan didapatkan.

Tapi, kalau dalam satu keluarga ini ada yang tidak setuju, tidak sepakat, tidak mendukung, maka ke depan akan susah juga.

Mengapa?
Seorang yang sudah menikah, suatu saat dia akan mendapatkan anak atau keturunan.

Lah anak ini kan perlu juga akrab dengan kakeknya dari pihak ayah, dan kakeknya dari pihak ibu. Demikian juga dengan paman dan bibi dari pihak ayah dan ibunya, serta dengan sepupu-sepupunya. Kan begitu..?

Inilah yang dikatakan bahwa membangun rumah tangga yang bagus, yang baik dan lestari, adalah bilamana bisa membangun kebersamaan kedua keluarga.

Jadi bukan sekedar menikah untuk diri sendiri, tapi menikahkan dua keluarga juga.

Maksudnya di samping merintis kebahagiaan untuk kedua mempelai, juga bagaimana menikahkan atau mengumpulkan, menyatukan dua keluarga dari masing-masing besanan ini. Seperti inilah yang terbagus dalam sebuah pernikahan.

Loading...
Loading...

loading...

News Feed