Dua Bagian Tubuh yang Bisa Menentukan Baik dan Buruknya Manusia

Oleh: Drs. Madropi, M.Pd.
Wakil Ketua Umum MUI/PDM Kota Bogor

Dikisahkan dalam kitab Nawâdir karya Syekh Syihabuddin Ahmad ibn Salamah al-Qulyubi, bahwa Luqman al-Hakim, yang berasal dari Ailah, sebuah kota Islam kuno, pernah diberi seekor kambing oleh tuannya untuk disembelih. Setelah kambing itu disembelih, sang tuan meminta Luqman membawakan bagian daging yang paling baik.

Luqman kemudian membawa hati dan lidah kambing tersebut.

Tidak lama berselang, sang tuan kembali memberikan seekor kambing kepada Luqman untuk disembelih. Kali ini, ia meminta Luqman membawakan bagian daging yang paling buruk. Namun, di luar dugaan, Luqman kembali membawa hati dan lidah.

Merasa heran, sang tuan pun bertanya, “Wahai Luqman, mengapa ketika aku memintamu memberikan bagian daging yang paling baik dan paling buruk, engkau justru memberikan bagian yang sama, yaitu hati dan lidah?”

Luqman al-Hakim menjawab, “Wahai Tuan, tidak ada bagian tubuh yang lebih baik daripada hati dan lidah apabila keduanya berada dalam kebaikan. Sebaliknya, tidak ada bagian tubuh yang lebih buruk daripada hati dan lidah apabila keduanya berada dalam keburukan.”

Mendengar jawaban tersebut, sang tuan pun berkata, “Benar engkau, wahai Luqman al-Hakim.”

Dari kisah tersebut, terdapat dua hikmah penting yang dapat kita petik. Dalam diri manusia terdapat dua bagian tubuh yang memiliki peran besar dalam menentukan baik dan buruknya perilaku seseorang, yaitu hati dan lidah.

1. Hati (Qalb): Cerminan Keimanan dan Perilaku Manusia

Dalam bahasa Arab, hati disebut qalb. Rasulullah saw. bersabda:

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

Artinya:

“Ingatlah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Apabila segumpal daging itu baik, maka baiklah seluruh tubuh. Namun, apabila segumpal daging itu rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.”

(HR. Bukhari No. 52 dan Muslim No. 1599).

Hadis tersebut menegaskan betapa pentingnya menjaga hati. Hati memiliki pengaruh besar terhadap pola pikir, sikap, perkataan, dan tindakan manusia.

Dalam perspektif ajaran Islam, terdapat tiga keadaan hati yang dapat memengaruhi kehidupan seseorang, yaitu:

a. Qalbun Salim (Hati yang Selamat)

Qalbun salim adalah hati yang bersih dan selamat, yaitu hati yang menerima kebenaran dari Allah Swt., melaksanakan segala perintah-Nya, serta menjauhi segala larangan-Nya. Hati seperti ini menjadi ciri orang-orang beriman yang senantiasa berusaha menjaga ketulusan dan keikhlasan dalam menjalani kehidupan.

Baca juga:  Memahami Makna Isra’ dan Mi’raj Rasulullah SAW

Allah Swt. berfirman dalam Q.S. Asy-Syu’ara ayat 88–89:

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَّلَا بَنُوْنَ ۙ اِلَّا مَنْ اَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ ۗ

Artinya:

“(Yaitu) pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.”

Ayat ini mengingatkan kita bahwa kemuliaan manusia di hadapan Allah bukan ditentukan oleh kekayaan, jabatan, ataupun keturunan, melainkan oleh keimanan dan kebersihan hati.

b. Qalbun Marid (Hati yang Sakit)

Qalbun marid adalah hati yang sedang mengalami penyakit rohani. Hati ini berada dalam pergulatan antara menerima kebenaran dan mengikuti hawa nafsu. Terkadang kebenaran diakui, tetapi pada saat yang sama muncul keraguan, kebencian, kesombongan, atau keinginan untuk menolaknya.

Allah Swt. berfirman dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 10:

فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌۙ فَزَادَهُمُ اللّٰهُ مَرَضًاۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ ۢ ەۙ بِمَا كَانُوْا يَكْذِبُوْنَ

Artinya:

“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya dan mereka mendapat azab yang sangat pedih karena mereka selalu berdusta.”

Penyakit hati yang dimaksud dalam ayat tersebut berkaitan dengan keraguan terhadap kebenaran agama, kemunafikan, dan penolakan terhadap ajaran yang dibawa Rasulullah saw. Keadaan ini menjadi peringatan bagi setiap Muslim agar senantiasa melakukan introspeksi diri dan berusaha membersihkan hati dari berbagai penyakit rohani.

c. Qalbun Mayyit (Hati yang Mati)

Qalbun mayyit adalah hati yang telah tertutup dari kebenaran Ilahi, sehingga tidak lagi mampu menerima nasihat dan petunjuk Allah Swt. Hati seperti ini digambarkan dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 6–7:

اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا سَوَاۤءٌ عَلَيْهِمْ ءَاَنْذَرْتَهُمْ اَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَ خَتَمَ اللّٰهُ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ وَعَلٰى سَمْعِهِمْ ۗ وَعَلٰٓى اَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ وَّلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيْمٌ

Artinya:

“Sesungguhnya orang-orang yang kufur itu sama saja bagi mereka, apakah engkau (Nabi Muhammad) beri peringatan atau tidak engkau beri peringatan, mereka tidak akan beriman. Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka. Pada penglihatan mereka ada penutup, dan bagi mereka azab yang sangat berat.”

Ayat ini menjadi pengingat bahwa manusia hendaknya senantiasa membuka hati terhadap kebenaran, menerima nasihat, dan tidak membiarkan kesombongan serta hawa nafsu menutup jalan menuju petunjuk Allah Swt.

2. Lidah (Lisan): Menjaga Perkataan, Menjaga Kehidupan

Bagian tubuh kedua yang memiliki pengaruh besar terhadap baik dan buruknya manusia adalah lidah atau lisan.

Rasulullah saw. mengajarkan umatnya untuk senantiasa menjaga lisan. Sebab, meskipun tidak bertulang, lidah memiliki ketajaman yang luar biasa. Perkataan yang keluar dari lisan dapat membawa kedamaian, tetapi juga dapat menimbulkan permusuhan dan kehancuran.

Baca juga:  Menyambut Tahun Baru dengan Keberuntungan

Lisan yang baik mampu menciptakan ketenangan, ketenteraman, dan perdamaian. Melalui perkataan yang bijaksana, seseorang dapat menyatukan perbedaan, membangun persaudaraan, menyampaikan harapan, serta menggerakkan orang lain untuk melakukan kebaikan.

Sejarah para nabi dan rasul juga mengajarkan betapa besar kekuatan perkataan dalam menyampaikan kebenaran. Melalui lisan, mereka menyerukan keimanan, mengajak manusia kepada kebaikan, dan menanamkan harapan, bahkan ketika harus menghadapi penolakan serta perjuangan panjang.

Sebaliknya, lisan yang tidak terjaga dapat menjadi sumber fitnah, hasad, kebohongan, dan berbagai perbuatan dosa. Perkataan yang buruk dapat melukai perasaan, merusak persaudaraan, memicu pertengkaran, bahkan menimbulkan permusuhan dan peperangan.

Oleh karena itu, menjaga lisan bukan hanya persoalan etika berbicara, melainkan juga bagian penting dari tanggung jawab moral dan keimanan seorang Muslim.

Setiap perkataan hendaknya dipertimbangkan dengan baik sebelum diucapkan. Apakah perkataan itu membawa manfaat atau justru menyakiti orang lain? Apakah perkataan itu menyampaikan kebenaran atau malah menebarkan kebencian?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting untuk direnungkan agar lisan senantiasa menjadi sarana kebaikan, bukan sumber kerusakan.

Menjaga Hati dan Lisan untuk Keselamatan Dunia dan Akhirat

Rasulullah saw. senantiasa mengajarkan doa agar manusia terhindar dari keburukan hati dan lisan. Di antara doa yang dapat kita panjatkan adalah:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ قَلْبًا سَلِيمًا وَلِسَانًا صَادِقًا

Allahumma inni as’aluka qalban saliman wa lisanan shadiqan.

Artinya:

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu hati yang bersih dan lisan yang senantiasa berkata benar.”

Pada akhirnya, kisah Luqman al-Hakim memberikan pelajaran yang sangat mendalam bahwa baik dan buruknya manusia sangat dipengaruhi oleh apa yang tersimpan di dalam hatinya dan apa yang diucapkan melalui lisannya.

Hati yang bersih akan melahirkan pikiran, sikap, dan tindakan yang baik. Sementara itu, lisan yang terjaga akan menghadirkan kedamaian, mempererat persaudaraan, serta menjauhkan manusia dari pertikaian.

Oleh karena itu, marilah kita senantiasa menjaga hati dari segala penyakit rohani dan menjaga lisan dari perkataan yang buruk. Jangan sampai hati dipenuhi kebencian dan lisan digunakan untuk menyebarkan fitnah, kebohongan, serta permusuhan.

Semoga Allah Swt. senantiasa membimbing kita agar memiliki hati yang bersih, lisan yang jujur, dan perilaku yang mencerminkan akhlak mulia, sehingga kita memperoleh keselamatan, baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Amin ya Rabbal ‘alamin.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News