Yunarto Wijaya: Prabowo Kini Makin Mahir Bermain Politik, Ada Peran Dasco

Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia, Yunarto Wijaya, menduga Sufmi Dasco Ahmad memiliki peran penting dalam membentuk kemampuan politik Presiden Prabowo Subianto. Menurut Yunarto, Prabowo kini tampil berbeda dibandingkan sebelumnya. Ia dinilai semakin piawai membaca irama politik, mengelola kompromi, dan menjaga keseimbangan kekuasaan.

Pandangan tersebut disampaikan Yunarto dalam podcast Akbar Faizal Uncensored. Ia menilai Prabowo tidak lagi melihat politik secara hitam putih, melainkan telah berkembang menjadi pemain politik yang memahami pentingnya strategi dan perhitungan.

“Prabowo tidak lagi hitam putih seperti dulu. Prabowo sudah menjadi pemain politik. Apakah kemampuan itu ditularkan oleh Jokowi? Mungkin saja,” kata Yunarto.

Menurut dia, Prabowo sekarang semakin memahami bagaimana menghadapi dinamika politik dengan memberikan kompensasi melalui apa yang disebutnya sebagai polesan politik. Langkah tersebut membuat sebuah keputusan politik tidak selalu berujung pada pencopotan atau pemutusan hubungan, tetapi dapat dikemas melalui penempatan seseorang pada posisi lain.

Baca juga:  Rakyat: Adili Jokowi! Presiden: Hidup Jokowi! Prabowo Presiden Rakyat atau Petugas Jokowi?

Yunarto mencontohkan penempatan Listyo Sigit Prabowo sebagai Kepala Staf Kepresidenan (KSP). Menurut dia, langkah tersebut dapat dibaca sebagai bentuk kompromi politik. Seseorang yang secara politik dianggap tersingkir belum tentu benar-benar disingkirkan, melainkan masih diberi jabatan dalam lingkaran pemerintahan.

Namun, Yunarto menilai penempatan tersebut lebih bersifat kosmetik daripada menunjukkan pemberian kewenangan strategis.

“Apakah Listyo Sigit disingkirkan sebagai simbol pencopotan? Tidak. Dia justru dijadikan Kepala Staf Kepresidenan (KSP). Namun, saya menyebutnya kosmetik karena kita tahu KSP tidak memiliki fungsi strategis yang menentukan. KSP hanya menjadi etalase,” ujarnya.

Ia juga menyinggung penempatan Anwar Usman di Dewan Pertimbangan Presiden. Yunarto memandang langkah tersebut sebagai contoh lain bagaimana penempatan seseorang dalam jabatan dapat menjadi bagian dari pengelolaan dinamika politik.

Dalam pembacaan Yunarto, jabatan tidak selalu dapat dimaknai sebagai ukuran langsung atas besarnya pengaruh seseorang. Penempatan dalam sebuah lembaga bisa menjadi cara untuk menjaga hubungan politik, meredam persoalan, atau memberikan ruang bagi pihak tertentu tanpa harus memberinya peran yang menentukan dalam pengambilan keputusan.

Baca juga:  Pemenang Pilpres 2024 bukan Prabowo-Gibran, tapi Jokowi dan Luhut

Yunarto mengajukan dua kemungkinan untuk menjelaskan perubahan gaya politik Prabowo.

Pertama, Prabowo mempelajari dan mengembangkan kemampuan tersebut secara mandiri melalui pengalaman politiknya. Kedua, ada sosok di lingkaran dekatnya yang ikut membentuk cara berpikir dan strategi politik Presiden.

Dalam kemungkinan kedua, Yunarto secara terbuka menyebut nama Sufmi Dasco Ahmad. Wakil Ketua DPR RI tersebut dinilai memiliki posisi penting karena berperan dalam dinamika koalisi pemerintahan dan hubungan politik di parlemen.

“Saya akan menyebut nama Bang Dasco saja, terus terang,” kata Yunarto.

Ia menilai gaya politik Prabowo sekarang menunjukkan perubahan yang cukup jelas. Jika sebelumnya Prabowo kerap dipersepsikan bertindak impulsif, kini ia dianggap lebih mampu memperhitungkan konsekuensi dari langkah-langkah politiknya.

Bagi Yunarto, perubahan itu menunjukkan bahwa Prabowo semakin memahami politik sebagai permainan yang membutuhkan kalkulasi, kompromi, dan kemampuan membaca kepentingan berbagai kelompok.

“Kemampuan seperti ini bukanlah kemampuan seorang tentara, Bang. Ini adalah kemampuan seorang politisi kawakan,” ujarnya.

 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News