Prof Achmad Nurmandi, Rektor UMY yang Menyatukan Ilmu, Kepemimpinan, dan Lapangan Hijau

Di lingkungan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), sosok Prof Achmad Nurmandi dikenal luas. Sebagian memanggilnya “Pak Rektor”, sebagian lagi cukup menyebut “Prof Nurmandi” atau “Pak Nurmandi”. Namun di balik jabatan akademik tertinggi yang disandangnya, terdapat pribadi yang sederhana, terbuka, dan tetap membumi.

Wajahnya putih dengan mata yang sipit. Tak jarang orang yang baru mengenalnya mengira ia keturunan Tionghoa. Namun Prof Achmad Nurmandi kelahiran di Belinyu, Bangka, pada 30 November 1963. Darah dan budaya Bangka melekat kuat dalam dirinya hingga kini.

Meski telah puluhan tahun menetap di Yogyakarta, logat Bangka masih terdengar jelas ketika ia berbicara. Ia memang mampu berbahasa Jawa dengan baik, tetapi dialek khas kampung halamannya belum pernah benar-benar hilang. Justru itulah yang membuatnya terasa autentik dan apa adanya.

Karakter lugas menjadi salah satu ciri khasnya. Dalam berbagai kesempatan, ia dikenal berbicara secara langsung tanpa banyak basa-basi. Kesederhanaan itu juga terlihat dalam kesehariannya. Banyak kolega mengakui bahwa meskipun kesibukannya sebagai rektor sangat padat, ia tetap berusaha merespons pesan WhatsApp yang masuk. Sikap terbuka tersebut membuat jarak antara pemimpin dan sivitas akademika terasa lebih dekat.

Perjalanan akademiknya merupakan gambaran tentang ketekunan yang dibangun selama puluhan tahun. Pendidikan sarjananya ditempuh di Universitas Gadjah Mada (UGM). Setelah itu, ia melanjutkan studi magister di Asian Institute of Technology (AIT), Thailand, salah satu institusi pendidikan tinggi terkemuka di Asia. Gelar doktor kemudian diraihnya dari Universitas Indonesia (UI).

Perjalanan panjang tersebut mengantarkannya menjadi guru besar pertama di bidang Ilmu Pemerintahan di UMY. Pengukuhan sebagai profesor pada tahun 2017 menjadi tonggak penting, bukan hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi perkembangan disiplin ilmu pemerintahan di kampus tersebut.

Baca juga:  Terbongkar, yang Fitnah Presiden BEM UMY Belum Bayar di Silatnas BEM PTS

Di dunia akademik, nama Prof Achmad Nurmandi dikenal luas sebagai peneliti yang produktif. Publikasinya mencapai ratusan artikel ilmiah dan buku yang menjadi rujukan banyak peneliti. Ribuan sitasi yang tercatat di Google Scholar menunjukkan bahwa gagasan dan penelitiannya memiliki pengaruh yang kuat di tingkat nasional maupun internasional.

Fokus penelitiannya sangat relevan dengan tantangan zaman. Ia banyak meneliti tata kelola pemerintahan digital, smart city, demokrasi, inovasi sektor publik, hingga respons kebijakan pemerintah dalam menghadapi pandemi. Topik-topik tersebut menempatkannya sebagai salah satu akademisi Indonesia yang aktif menghubungkan teori dengan kebutuhan nyata masyarakat.

Prestasinya mendapat pengakuan internasional. Dalam pemeringkatan ScholarGPS tahun 2024-2025, namanya masuk dalam kelompok Top 5 persen ilmuwan dunia. Pencapaian ini menjadikannya salah satu akademisi Indonesia yang mampu bersaing di level global melalui karya-karya ilmiah yang konsisten dan berdampak.

Namun kehidupan Prof Nurmandi tidak hanya berkutat di ruang kelas, ruang rapat, atau jurnal ilmiah. Ada sisi lain yang mungkin tidak banyak diketahui publik, yakni kecintaannya terhadap olahraga, khususnya sepak bola.

Setiap pekan, ia masih menyempatkan diri bermain sepak bola bersama tim dosen dan karyawan UMY. Di lapangan, jabatan rektor seakan dilepas. Ia hadir sebagai bagian dari tim, berlari, bercanda, dan berkeringat bersama rekan-rekannya.

Kecintaannya terhadap olahraga kemudian diwujudkan dalam kebijakan kampus. Di bawah kepemimpinannya, UMY membangun budaya hidup sehat yang terintegrasi dengan aktivitas akademik. Salah satu program yang menjadi ciri khas adalah Sabtu Kridha, kegiatan olahraga rutin yang melibatkan dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa.

Bagi Prof Nurmandi, olahraga bukan sekadar aktivitas fisik, melainkan investasi untuk membangun karakter, disiplin, kerja sama, dan kesehatan mental sivitas akademika.

Baca juga:  Belum Mengutuk Kekerasan di UMY, KAUMY Mandul

Komitmen tersebut juga terlihat dari dukungannya terhadap pengembangan fasilitas olahraga kampus. UMY menghadirkan lapangan sepak bola berstandar FIFA dan terus memperkuat pembinaan atlet mahasiswa melalui berbagai kompetisi, termasuk Rektor Cup yang menjadi ajang pembentukan sportivitas dan solidaritas antarmahasiswa.

Peran unik lainnya adalah ketika ia dipercaya menjadi Presiden Klub PSHW UMY. Jabatan itu bukan sekadar pelengkap aktivitas kampus, melainkan bagian dari visi besar yang ingin ia bangun.

Menurutnya, banyak mahasiswa memiliki bakat olahraga yang luar biasa, tetapi sering kali tidak memiliki jalur yang jelas untuk berkembang secara profesional. Karena itu, UMY menghadirkan PSHW UMY sebagai klub sepak bola yang terdaftar secara resmi dan berkompetisi dalam Liga 4 PSSI.

Melalui PSHW UMY, mahasiswa tidak hanya memperoleh pendidikan formal di bangku kuliah, tetapi juga memiliki kesempatan mengembangkan karier olahraga secara profesional. Pendekatan ini mencerminkan keyakinan Prof Nurmandi bahwa kampus harus menjadi ruang pengembangan potensi manusia secara utuh.

Di tengah berbagai capaian akademik dan kepemimpinan yang diraihnya, Prof Achmad Nurmandi tetap mempertahankan kesederhanaan yang menjadi ciri khasnya sejak lama. Ia tetap menjadi putra Belinyu yang membawa logat Bangka ke Yogyakarta, seorang ilmuwan yang produktif namun tetap dekat dengan lapangan hijau, serta pemimpin kampus yang percaya bahwa pendidikan tidak hanya membentuk kecerdasan, tetapi juga karakter dan kesehatan.

Bagi banyak orang di UMY, Prof Achmad Nurmandi bukan hanya seorang rektor. Ia adalah akademisi kelas dunia yang tetap membumi, pemimpin yang mudah dijangkau, sekaligus sosok yang membuktikan bahwa ilmu pengetahuan, kepemimpinan, dan olahraga dapat berjalan beriringan untuk membangun generasi masa depan Indonesia. (Iwan Setiawan)

Simak berita dan artikel lainnya di Google News