Paceklik, Harga Beras Melejit

oleh: Sigit Iko Sugondo (Praktisi Pemberdayaan Masyarakat)

Lonjakan harga beras kembali terjadi di berbagai daerah bahkan ada beberapa daerah yang terpantau mencetak hara hingga Rp 16.000/kg. Hal ini tentu menyebabkan kesulitan bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) dalam memenuhi kebutuhan pangan.

Di level produksi, faktor perubahan iklim yang tidak menentu menjadi penyebab petani terlambat tanam hingga gagal panen. Dengan demikian penurunan supply beras menyebabkan harga beras di pasaran menjadi naik. Penurunan hasil panen yang diikuti oleh kejadian inflasi harga pangan berpotensi akan berdampak menjadi krisis multi dimensi yang berkepanjangan.

Dampak El Nino sangat juga dirasakan oleh para petani yang merupakan masa paceklik yang cukup panjang. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa Indonesia mengalami El Nino pada 2023 dengan cakupan 79 persen wilayah Indonesia. Khusus petani dampingan kami di Sukabumi Selatan hingga Banten Selatan yang sebagian besar merupakan sawah tadah hujan dan padi huma sangat bergantung pada musim. Mereka baru memulai tanam padi awal Februari 2024.

Baca juga:  Baznas Tulang Bawang Barat Santuni Warga

Berdasarkan Global Risk Report 2024 yang dikeluarkan oleh World Economic Forum, kondisi iklim global 2024 akan dipengaruhi siklus iklim ENSO (El Nino-Southern Oscillation). Fenomena ENSO menyebabkan terjadinya variabilitas curah hujan yang akan mempengaruhi hasil panen petani. Variabilitas curah hujan juga dapat menyebabkan pertumbuhan populasi hama di lahan sawah mengalami peningkatan sehingga tanaman padi menjadi kerdil bahkan mudah rebah.

Potensi kelangkaan air akan berdampak buruk terhadap pertanian. Sudah banyak penelitian di berbagai wilayah di Indonesia yang menunjukkan bagaimana signifikannya air terhadap sektor pertanian. Mitigasi perubahan iklim dengan menjadikan potensi kelangkaan air sebagai identifikasi masalah yang serius untuk sektor pertanian (Ica Wulansari, 2024).

Pemerintah sebetulnya sudah membangun banyak waduk dan embung. Namun demikian, ketersediaan air untuk sektor pertanian tidak hanya dapat dipecahkan melalui infrastruktur irigasi saja karena ketersediaan air dipengaruhi oleh kondisi cuaca dan iklim. Kemarau panjang menyebabkan debit air turun drastis.

Petani umumnya menggunakan pompa air dengan menyedot sumber air sebagai upaya untuk mengairi lahan pertanian yang kering di musim kemarau. Penggunaan pompa air tersebut menambah ongkos bertani karena petani harus membeli bahan bakar untuk mengoperasikan pompa air tersebut. Belum lagi diperlukan modal investasi yang tidak sedikit untuk pengadaan sumur bor. Sementara itu,  petani mengalami kesulitan modal kerja. Akibat kemarau panjang, petani terpaksa menjual stok gabahnya untuk  memenuhi kebutuhan sehari hari. Disisi lain momen kenaikan harga gabah memicu petani cenderung menjual gabahnya.

Baca juga:  PPJNA 98: El Nino Penyebab Beras Mahal dan Diatasi Jokowi secara Cepat

Menyikapi fenomena tersbut diatas, upaya mitigasi yang dilakukan di tingkat rumah tangga petani, dilakukan dengan tiga pendekatan, yaitu :

  1. Jadwal tanam yangg menyesuaikan kalender musim,
  2. Aplikasi teknologi; teknologi tanam lahan tadah hujan, benih, dan pengairan. dan
  3. Diversifikasi tanaman untuk ketahanan pangan keluarga

Selain itu juga memperkuat sistem cadangan pangan keluarga melalui mekanisme:

  1. Mengkondisiakn petani hanya menjual 50% gabah setiap kali musim panen. Sisanya (50%) disimpan sebagai cadangan pangan hingga musin berikutnya.

Pemanfaatan pekarangan utk menuhi sebagian kebutuhan  dan diversifikasi pangan