Gerakan Tolak Prabowo-Gibran Semakin Membahana

Oleh : Sholihin MS (Pemerhati Sosial dan Politik)

Akhir-akhir ini muncul gerakan Asal Bukan Prabowo-Gibran dan Salam 4 Jari secara masif dan semakin meluas serta menjadi sikap politik kaum milenial dan Gen Z. Sikap menolak paslon Prabowo-Gibran juga muncul dari Komunitas Muhammadiyah. Belakangan ini para Guru Besar dan Civitas Akademika dari berbagai kampus di seluruh Indonesia juga telah menyatakan sikap menolak pencawapresan Gibran yang sarat dengan nepotisme, pelanggaran etik, dan penyalahgunaan kekuasaan.

Gerakan tolak Prabowo-Gibran terus meluas bak angin badai yang melanda ke seluruh penjuru negeri. Hampir dipastikan elektabilitas paslon 02, Prabowo-Gibran akan terus merosot hingga titik terendah ketika sampai di hari H pencoblosan.

Para surveyor yang selalu menempatkan pasangan Prabowo-Gibran di urutan teratas akan semakin ditertawakan masyarakat karena bohongnya kebangetan. Mereka hanya bermain utak-atik angka di depan laptop tanpa melihat kondisi real di masyarakat. Para lembaga survey “pelacur” itu hanya membuat rilis sesuai pesanan yang bayar.

Ada lima faktor yang bakal menjatuhkan elektabilitas pasangan Prabowo Gibran :

Pertama, kepercayaan rakyat terhadap Jokowi sudah habis
Paslon 02 Prabowo-Gibran sebagai pelanjut dan proxy Jokowi sudah pasti bakal terdampak secara langsung. Jokowi sekarang sudah jadi comnon enemy baga rakyat.

Kedua, Pencawapresan Gibran yang “tidak sah” akan terus dipermasalahkan

Para pakar hukum, akademisi, aktivis pemuda, kaum milenial dan Gen Z, serta rakyat yang berakal sehat tetap tidak menerima pencawapresan Gibran yang cacat hukum, cacat moral, dan cacat etik.

Ketiga, Rekam jejak Prabowo yang penuh misteri dan karakternya yang kejam, pelanggar HAM, dan emosian akan terus menjadi ingatan rakyat.

Baca juga:  Tokoh Mega Bintang: Umat Islam yang Waras Pasti Pilih Anies Baswedan

Rekam jejak Prabowo yang kelam di tahun 1998 yang menjadikannya dia dipecat dari militer, yang juga jadi pembicaraan di media-media internasional, sampai saat ini belum terselesaikan. Sebenarnya banyak video beredar berupa pernyataan dari Jend. Agum Gumelar, AM Hendropriyono, Luhut BP, termasuk SBY yang ikut dalam tim Dewan Kehormatan yang memecat Prabowo, tapi anehnya mereka sekarang kok malah ikut mendukungnya.

Selama menjabat Menhan, ada tiga kasus besar yang tidak pernah diaudit, yaitu : korupsi di kemenhan, soal pembelian alutsista bekas, dan kegagalan dana triliunan di food estate

Tentang rekam penyakit Prabowo yang terus menghantuinya (konon sudah dua kali stroke) ditambah usia yang sudah sangat tua (73 tahun) menjadi persoalan tersendiri.

Sikapnya yang emosional sangat tidak cocok untuk menjadi seorang pemimpin.

Keempat, Faktor Gibran yang belum matang tapi sudah dipaksa jadi cawapres menjadi persoalan yang sangat besar

Dua kali debat cawapres ternyata selalu dibantu dengan alat komunikasi yang disembunyikan yang bisa menerima transfer suara dari luar menunjukkan kalau kemampuan Gibran itu palsu. Ketika bicara dalam keadaan tidak dibimbing, bicaranya ngalor-ngidul gak nyambung, malah cerita kebon binatang. Bicara hilirisasi tapi cuma menghafal teks sehingga penjelasannya tepat.

Gibran bukan sekedar “otaknya kosong”, plonga-plongo, tidak punya prestasi dan rekam jejak, tidak mampu berkomunikasi dengan baik, tetapi Gibran juga banyak tersangkut kasus korupsi yang karena ayahnya penguasa sehingga tidak tersentuh hukum.

Kelima, Lima kali debat capres dan cawapres baik Prabowo maupun Gibran selalu kalah, gagasannya kalau tidak nyambung ya tampak kosmetikan

Baca juga:  Tidak akan Dipecat, Megawati Perlu Gibran di Kubu Prabowo

Tiga kali debat capres Prabowo terus blunder dan keok, sehingga para pendukungnya banyak yang berganti haluan. Demikian juga setelah dua kali debat cawapres Gibran telah memunculkan “kelicikan” dengan menggunakan alat tranformasi pesan suara sehingga memunculkan sikap anti pati dari kaum milenial dan Gen Z. Demikian juga sikapnya yang tidak beretika kepada Prof. Mahfud MD telah menjadi catatan buruk baginya.

Kesimpulannya, hanya orang-orang yang dibutakan mata hatinya yang masih memilih capres-cawapres 02. Semua laporan tingginya elektabilitas Paslon 02 hanya permanan utak-atik angka dari lembaga survey abal-abal yang ditugaskan untuk penggiringan opini, seperti : LSI Denny JA, indikator, Indo Barometer, Charta Politica, Poltracking, SMRC, dll

Jika Pemilu tanpa kecurangan, Paslon 02 Prabowo-Gibran dipastikan bakal kalah, bahkan sudah bakal tereliminasi di putaran pertama.

Ketua KPU sudah beberapa kali melakukan pelanggaran, tapi yang ditegur keras oleh DKPP sudah dua kali. Jika Ketua KPU sekali lagi curang dan melanggar etika, bukan saja dia alan diberhentikan dari jabatannya sebagai Ketua KPU, tapi juga bakal dijebloskan ke jeruji besi dan mungkin bakal dimiskinkan.

Semoga Pemilu 2024 bisa jujur dan adil sehingga Indonesia bisa mendapatkan pemimpin yang adil, amanah, cerdas, berwibawa dan cinta kepada rakyat dan ulama.

Bandung, 26 Rajab 1445


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *