Tak Ada Jaminan OPZ Konvensional Tergerus Perubahan Zaman

Oleh: Nana Sudiana (Direktur Akademizi, Associate Expert FOZ)

Setelah kemudahan berzakat nyata adanya, semuanya berpulang pada muzaki dan calon muzaki. Apakah kemudahan ini mendorong semangat mereka untuk juga semakin tinggi dalam membantu sesama ataukah malah muzaki dan calon muzaki justru mencari lembaga lainnya lagi yang malah masih berada dalam kategori konvensional.

Bagaimanapun juga, tak ada jaminan juga apakah Organisasi Pengelola Zakat (OPZ) atau lembaga filantropi lainnya yang konvensional atau belum banyak tersentuh digitalisasi, akan mati dan tenggelam digerus perubahan zaman. Yang tak boleh dilupakan oleh kita semua adalah kadang ada sisi tak terduga yang ada pada benak setiap orang, termasuk para muzaki, yakni mereka malah tertarik membantu lembaga yang terlihat lemah, tak berdaya dan tanpa kemampuan sistem organisasi yang memadai.

Bagi OPZ-OPZ besar dan berskala nasional, jangan pernah lupa bahwa urusan sumbang menyumbang atau donasi ini, termasuk zakat, kadang tak linier adanya. Ada sejumlah tren yang bisa berubah di setiap situasi dan kondisi yang ada. Semua ini bisa dipengaruhi situasi sosial atau budaya yang terjadi dalam kurun waktu tertentu, atau adanya regulasi yang muncul dan kemudian diberlakukan. Pengguna internet memang semakin banyak, namun kadang orang orang yang sangat kaya malah tak suka memiliki smartphone yang dianggapnya mengganggu privasi.

Baca juga:  OPZ Harus Meyakinkan Kelas Menengah Muslim

Di lain pihak, pada masyarakat yang akrab dengan internet, selalu ada tren yang harus jadi perhatian OPZ. Semisal, para pengguna media sosial belakangan ini banyak yang beralih dari kebiasaan komunikasi dengan tulisan menuju video. Jumlah konten (termasuk yang berupa live streaming ataupun live broadcast) yang diunggah oleh para pengguna YouTube, Facebook, Instagram, dan Periscope terus melesat. Dalam data mutakhir Periscope (22 Januari 2017), tercatat ada 1,9 juta video live setiap hari menggunakan aplikasi ini. Di kalangan muzaki, mereka memilih lembaga untuk tempatnya berdonasi tidak berdasarkan hanya dengan melihat profil, aktivitas, serta jaringan OPZ. Merujuk sebuah analisis, tak lama lagi video streaming akan mewakili hampir 75% dari semua lalu lintas internet. Hal ini terjadi karena pengguna internet ingin lebih banyak-dan cenderung suka dengan-konten video. Apa maknanya fakta ini? muzaki dan calon muzaki ke depannya kian membutuhkan liputan video yang bisa lebih meyakinkannya untuk melabuhkan donasi atau zakat.

Baca juga:  Persoalan Umat tak Bisa Diselesaikan Secara Sendirian

Kendatipun kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi terus diperbarui OPZ, toh pada para muzaki dan calon muzaki tetap ada sisi-sisi manusiawi. Sentuhan lebih pribadi, penuh kesungguhan serta ketulusan dalam berkomunikasi, tetap masih mendapat tempat memadai dalam menjalin komunikasi dengan mereka. Mereka juga manusia biasa, bukan robot yang tak punya perasaan dan nurani.

Usaha-usaha pendekatan yang baik dibarengi ketulusan akan punya peluang tinggi untuk bisa diterima dan akhirnya dibantu oleh mereka. Karena itu, seluruh peluang lain dalam pendekatan dan komunikasi yang ada, tetap harus dilakukan oleh OPZ. Bukan semata seberapa kuat OPZ memengaruhi mereka dengan berbagai konten menarik dan canggih agar mereka luluh dan berzakat. Jangan lupa pada hal mendasar ini: ketulusanlah yang bisa membuka pintu hati dan meluluhkan sebuah pilihan. Tentu saja, ini bukan berarti mengecilkan upaya-upaya serius kalangan OPZ merespons perkembangan zaman digital sebagaimana yang diterangkan di atas.

 


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *