Bahlil Lahadalia kembali menjadi sorotan publik setelah resmi mengemban dua posisi strategis di dalam Kabinet Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Selain tetap mempertahankan posisinya sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil kini juga dipercaya menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi.
Total Kekayaan Bahlil Lahadalia Berdasarkan LHKPN
Di tengah penugasan ganda yang diembannya, sorotan juga tertuju pada Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) milik Bahlil. Berdasarkan laporan yang disampaikannya pada 31 Maret 2026, total kekayaan bersih politisi sekaligus pejabat tinggi ini tercatat mencapai Rp344,42 miliar.
Isi Garasi dan Koleksi Kendaraan Bahlil
Menariknya, di balik total kekayaan yang menyentuh angka ratusan miliar rupiah, garasi Bahlil tercatat hanya diisi oleh dua unit kendaraan roda empat saja. Berdasarkan data LHKPN tersebut, total nilai aset transportasi dan mesin miliknya dilaporkan senilai Rp75,28 juta.
Adapun rincian kendaraan yang terdaftar meliputi:
- Mobil Toyota Harrier keluaran tahun 2007 dengan estimasi nilai Rp44,22 juta.
- Mobil Honda CR-V keluaran tahun 2010 dengan estimasi nilai Rp31,06 juta.
Kedua kendaraan tersebut dilaporkan murni diperoleh dari hasil usaha sendiri. Tidak ada tambahan aset kendaraan mewah lain yang tercatat di dalam dokumen LHKPN tersebut.
Alasan Penunjukan Bahlil Sebagai Menko Hilirisasi dan Transisi Energi
Pelantikan Bahlil sebagai Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi dilangsungkan di Istana Negara, Jakarta, pada Kamis (1/10/2026). Dengan penugasan baru ini, ia menjadi salah satu menteri yang memegang peran ganda di kabinet.
Bahlil menyatakan bahwa jabatan baru ini adalah amanah besar yang harus dijalankan sebaik mungkin. Pembentukan kementerian koordinator baru ini sangat erat kaitannya dengan percepatan agenda hilirisasi industri dan transisi energi hijau di Indonesia.
Ia juga menjelaskan bahwa untuk sementara waktu, pusat koordinasi kementerian baru ini akan bertempat di kantor Kementerian ESDM. Keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan bahwa sebagian besar porsi investasi hilirisasi saat ini terkonsentrasi di sektor ESDM.
“Kantornya akan tetap di Kementerian ESDM sambil kita melihat tahap perkembangan. Karena saya melihat bahwa fokus kita kan hilirisasi, dari total investasi 100 persen, 90 persennya itu ada di sektor ESDM,” ujar Bahlil dalam keterangannya.
Koordinasi Sektoral di Pemerintahan Baru
Dalam arsitektur pemerintahan saat ini, Kementerian Investasi dan Hilirisasi tetap berfungsi sebagai kementerian teknis. Namun, operasional dan kinerjanya akan berada di bawah koordinasi langsung Kementerian Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi yang dipimpin oleh Bahlil.
“Kalau Menko kan Kemenko saja, Menteri Koordinator. Sementara Menteri Investasi dan Hilirisasi kan dia menteri teknis. Jadi kementeriannya, Kementerian Investasi dan Hilirisasi itu berada di dalam koordinasi Kemenko,” pungkasnya.





