Geger Kontroversi AI Fotografi: Pemenang Kontes Ilmiah Nikon Diselidiki

Dunia fotografi ilmiah baru-baru ini diguncang oleh isu hangat seputar penggunaan kecerdasan buatan (AI). Penyelenggara kompetisi mikroskopi bergengsi, Nikon Small World, kini tengah melakukan investigasi mendalam terhadap karya video yang berhasil meraih juara pertama pada kategori ‘Small World in Motion’ bulan September lalu.

Langkah ini diambil setelah munculnya gelombang kritik dari komunitas ilmiah yang menduga adanya manipulasi menggunakan teknologi generator visual pintar dalam karya pemenang tersebut.

Kronologi Kontroversi AI di Kontes Nikon Small World

Karya yang menjadi pusat perdebatan ini merupakan sebuah video pendek yang menampilkan pergerakan rumit dari silia saluran pernapasan pada pasien penderita primary ciliary dyskinesia (PCD)—sebuah kelainan genetik langka. Video tersebut dibuat oleh Ning Xu, seorang peneliti yang sebelumnya berbasis di Tsinghua University, China, dan kini telah bergabung dengan National University of Singapore (NUS).

Baca juga:  Ambisi Donald Trump Bentuk Satgas 'AI Force' dan Cari 'Tsar' Ber-IQ Tinggi

Pada pertengahan September lalu, Nikon secara resmi menobatkan karya Xu sebagai pemenang utama kompetisi tahunan ke-16 ini. Namun, situasi memanas setelah video tersebut diunggah ke platform profesional LinkedIn, yang langsung memicu reaksi skeptis dari para ahli mikroskop dunia.

Kritik Tajam dari Komunitas Ilmiah dan Temuan Watermark AI

Kritik keras datang dari para akademisi, salah satunya Edward Phelps, Lektor Kepala di University of Florida. Phelps menyatakan bahwa struktur biologis dalam rekaman tersebut menunjukkan pola gerakan yang tidak alami dan tidak sesuai dengan hukum biologi seluler.

Temuan yang lebih mengejutkan diungkapkan oleh Ian Donovan, seorang kandidat PhD di UT Southwestern Medical Center. Donovan mengeklaim telah menemukan tanda air (watermark) digital berupa SynthID pada video tersebut. Sebagai informasi, SynthID adalah teknologi besutan Google yang digunakan untuk menandai konten yang dibuat atau dimodifikasi oleh kecerdasan buatan (synthetic content).

Baca juga:  Ambisi Donald Trump Bentuk Satgas 'AI Force' dan Cari 'Tsar' Ber-IQ Tinggi

Klarifikasi Peneliti: AI Hanya untuk Pewarnaan

Merespons tuduhan yang berkembang, Ning Xu memberikan klarifikasi resmi melalui kolom komentar di LinkedIn. Ia menegaskan bahwa teknologi kecerdasan buatan sama sekali tidak digunakan untuk merekayasa data eksperimen utama, bentuk silia, maupun dinamika gerakannya.

‘AI hanya diterapkan pada tahap pascapemrosesan data grayscale (hitam-putih) hasil rekonstruksi. Tujuannya murni untuk membantu membedakan serta memberikan warna pada struktur seluler yang memiliki morfologi serupa,’ jelas Xu.

Pihak Nikon sendiri menyatakan bahwa Ning Xu sangat kooperatif dan telah menyerahkan dokumen teknis lengkap terkait metodologi pencitraan yang digunakannya. Saat ini, komunitas sains masih menunggu hasil investigasi resmi serta publikasi analisis kuantitatif lebih lanjut dari pihak peneliti untuk membuktikan keaslian karya tersebut.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News