Viral Dugaan Pelecehan Berkedok Konten Boneka di Jalan Tunjungan Surabaya, Polisi Turun Tangan

Kawasan wisata sejarah populer di Surabaya, Jalan Tunjungan, mendadak menjadi perbincangan hangat di jagat maya. Bukan karena keindahan arsitektur kolonial atau kulinernya, melainkan adanya dugaan aksi pelecehan seksual bermodus pembuatan konten video menggunakan boneka beruang (teddy bear) yang meresahkan para pengunjung perempuan.

Kabar ini pertama kali mencuat setelah seorang warganet membagikan pengalaman tidak menyenangkan tersebut melalui platform Threads, yang kemudian dengan cepat menyebar ke media sosial lainnya.

Kronologi Modus Konten Boneka di Jalan Tunjungan

Berdasarkan unggahan yang viral, terduga pelaku merupakan sekelompok pemuda yang kerap berkumpul di sekitar gerai minimarket di depan Kopi Toko Djawa, Jalan Tunjungan. Kelompok yang diperkirakan berjumlah lima orang atau lebih ini membawa sepeda motor sport dan sebuah boneka beruang berukuran sedang.

Modus yang mereka lancarkan terbilang rapi. Mereka menyasar perempuan yang sedang berjalan sendirian atau berdua, kemudian mengajak mereka untuk berkolaborasi dalam pembuatan konten video pendek.

Baca juga:  Aneh, Siswi MAN Gorontalo Tak Keberatan Video Asusila Diviralkan?

“Awalnya dicegat kemudian diajak bikin konten yang katanya itu cuma boneka. Bilangnya nanti kita tos-tosan biasa, terus nanti aku kasih boneka saja, habis itu saling lempar sama temennya sambil ketawa-ketawa,” tulis pengunggah dalam utas viral tersebut.

Desain Boneka yang Ambigu dan Manipulatif

Masalah muncul ketika para korban menyadari adanya kejanggalan pada boneka yang digunakan. Bentuk fisik boneka tersebut dinilai “ambigu” dan menjurus ke arah vulgar atau tidak senonoh. Sejumlah korban mengaku baru menyadari kejanggalan tersebut setelah proses perekaman selesai, atau saat melihat hasil video yang diunggah ke platform YouTube sang kreator.

Di kolom komentar kanal YouTube pelaku, banyak warganet yang menyuarakan kekecewaan mereka. Beberapa korban bahkan baru tersadar bahwa penjelasan awal dari pembuat konten sangat berbeda dengan realisasi video yang akhirnya dipublikasikan.

Polisi Lakukan Penyelidikan Meski Belum Ada Laporan Resmi

Menanggapi keresahan publik yang kian meluas, pihak kepolisian segera mengambil tindakan. Kasatres PPA dan PPO Polrestabes Surabaya, AKBP Melatisari, mengonfirmasi bahwa hingga saat ini belum ada laporan resmi yang masuk dari pihak yang merasa dirugikan.

Baca juga:  Menguak "Daftar Hitam" Rahasia Predator Seks di Lingkaran Elite Teknologi

Kendati demikian, AKBP Melatisari menegaskan bahwa pihak kepolisian tidak akan tinggal diam dan akan tetap melakukan penelusuran lebih lanjut terkait kebenaran informasi yang beredar luas di media sosial tersebut.

“Mohon waktu untuk cek, informasi dari petugas piket belum ada laporan masuk. Namun, informasi viral ini tetap kami telusuri,” ujarnya saat dikonfirmasi oleh awak media.

Imbauan Keamanan bagi Pengunjung Jalan Tunjungan

Jalan Tunjungan selama ini dikenal sebagai salah satu ruang publik paling dinamis di Surabaya. Menjadi pusat berkumpulnya anak muda, seniman jalanan, hingga kreator konten, kawasan ini seharusnya ramah dan aman bagi siapa saja.

Kasus dugaan pelecehan Jalan Tunjungan ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat, khususnya kaum perempuan, untuk selalu waspada dan berani menolak ajakan pembuatan konten dari orang asing jika dirasa mencurigakan atau membuat tidak nyaman.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News