Belakangan ini, media sosial diramaikan oleh perbincangan hangat seputar tren kecantikan terbaru asal Korea Selatan. Tren tersebut adalah skin booster yang santer disebut-sebut menggunakan bahan dasar “kulit mayat”. Istilah yang terdengar ekstrem ini sontak memicu rasa penasaran sekaligus kekhawatiran di kalangan pencinta estetika medis. Lantas, apa sebenarnya prosedur ini dan bagaimana perbedaannya dengan perawatan biasa?
Apa Bedanya Skin Booster Biasa dengan yang Sedang Viral?
Perbedaan mendasar antara kedua jenis perawatan kulit ini terletak pada kandungan aktif atau bahan dasar yang disuntikkan ke dalam lapisan kulit pasien.
1. Skin Booster Hyaluronic Acid (HA) Konvensional
Pada umumnya, perawatan skin booster konvensional menggunakan Hyaluronic Acid (HA) murni. Zat ini bekerja efektif dengan cara mengikat molekul air di dalam kulit. Hasilnya, kulit mendapatkan hidrasi mendalam yang maksimal sekaligus merangsang produksi kolagen secara alami dari dalam.
2. Skin Booster hADM (Human Acellular Dermal Matrix)
Sementara itu, produk kecantikan yang diisukan menggunakan “kulit mayat” sebenarnya memakai teknologi medis bernama Human Acellular Dermal Matrix (hADM). Ini merupakan ekstrak matriks jaringan dermis yang diperoleh dari donor manusia dan telah melewati berbagai proses pengolahan medis yang sangat ketat.
Penjelasan Ahli Mengenai Kandungan hADM
Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Dermatologi dan Venereologi Indonesia (PERDOSKI), Dr. dr. Hanny Nilasari, Sp.DVE, memberikan penjelasan mendalam mengenai perbedaan struktur serta komposisi dari kedua perawatan ini.
“Skin booster konvensional umumnya berbasis Hyaluronic Acid untuk menghidrasi dan memicu kolagen alami. Sementara hADM membawa komponen dermis yang lebih lengkap seperti kolagen, elastin, dan HA secara langsung,” ungkap dr. Hanny.
Faktanya, penggunaan teknologi hADM di dunia medis bukanlah hal baru. Metode ini sudah lama diandalkan dalam prosedur bedah rekonstruksi kulit serta penanganan pasien luka bakar.
Meluruskan Istilah “Suntik Kulit Mayat”
Dr. Hanny juga menegaskan bahwa narasi liar yang beredar di masyarakat mengenai istilah “suntik kulit mayat” sangatlah berlebihan dan cenderung sensasional. Bahan yang digunakan dalam perawatan ini bukanlah kulit mentah, melainkan matriks jaringan donor yang telah melalui tahap pemurnian dan sterilisasi tingkat tinggi untuk menjamin keamanannya.
Kendati demikian, dr. Hanny mengimbau masyarakat untuk tetap bijak dan kritis sebelum mencoba tren kecantikan ini. Mengingat penggunaannya untuk estetika kulit tergolong baru, sangat penting bagi pasien untuk memastikan legalitas, keamanan, serta asal-usul jaringan kulit manusia yang digunakan dalam produk skin booster hADM tersebut.





