Erupsi Anak Krakatau Diduga Tembus Tropopause, Ini Analisis dan Dampaknya

Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang luar biasa. Letusan dahsyat yang terjadi sejak Jumat malam hingga Sabtu terpantau sangat jelas melalui citra satelit. Bahkan, tinggi kolom abu vulkanik dari erupsi kali ini diduga kuat telah menembus lapisan tropopause atmosfer bumi.

Analisis Citra Satelit: Awan Vulkanik Menembus Lapisan Tropopause

Peneliti klimatologi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Erma Yulihastin, mengungkapkan bahwa letusan signifikan mulai terdeteksi sekitar pukul 23.00 WIB. Awan piroklastik hasil erupsi terpantau bergerak ke arah barat dan membentang hingga sepanjang 851 kilometer.

Berdasarkan hasil simulasi atmosfer, tinggi kolom letusan diperkirakan mencapai 13 hingga 14 kilometer, yang berarti telah menyentuh batas tropopause. Sebagai informasi, tropopause merupakan lapisan transisi kritis yang membatasi troposfer (tempat terjadinya fenomena cuaca) dengan stratosfer di atasnya.

Senada dengan analisis BRIN, analisis satelit cuaca juga melaporkan bahwa suhu puncak awan erupsi terpantau sangat dingin, yakni di bawah minus 70 derajat Celsius. Berdasarkan indikator suhu ekstrem tersebut, tinggi kolom abu diperkirakan bisa mencapai antara 14 hingga 17 kilometer, menembus wilayah tropopause tropis.

Baca juga:  Gempa 5,7 SR Guncang Berbagai Pulau Jawa Pagi Tadi

Karakteristik Erupsi: Fenomena Air Mancur Lava

Badan Geologi Kementerian ESDM membenarkan adanya aktivitas vulkanik yang masif dari Gunung Anak Krakatau. Menurut laporan resmi, erupsi kali ini bertipe menerus dan memperlihatkan fenomena ‘lava fountain’ atau air mancur lava merah menyala yang sangat jelas.

Meskipun ketinggian kolom letusan sulit dipantau secara visual secara langsung karena faktor cuaca dan malam hari, suara dentuman serta gemuruh terdengar secara terus-menerus selama beberapa jam sejak fase awal erupsi dimulai.

Apakah Erupsi Ini Berdampak pada Iklim Global?

Tingginya kolom abu yang mencapai lapisan tropopause memicu spekulasi mengenai potensi dampak iklim global. Berdasarkan penjelasan ilmiah dari US Geological Survey (USGS), dampak iklim global biasanya terjadi jika letusan gunung berapi menyemburkan gas sulfur dioksida (SO2) dalam jumlah masif ke lapisan stratosfer.

Gas SO2 yang masuk ke stratosfer akan bereaksi membentuk aerosol sulfat yang mampu memantulkan sinar matahari kembali ke luar angkasa, sehingga memicu penurunan suhu bumi (‘global cooling’). Namun, untuk kasus erupsi Anak Krakatau saat ini, para ahli menegaskan bahwa masih terlalu dini untuk menyimpulkan adanya efek perubahan iklim, mengingat volume gas SO2 yang masuk ke stratosfer masih memerlukan analisis lebih lanjut.

Baca juga:  Bencana Longsor di Bengkulu, 2 Orang Meninggal, 15 Lainnya Tertimbun

Selain itu, para pengamat memastikan bahwa skala erupsi kali ini jauh berbeda dan tidak sebanding dengan letusan dahsyat Krakatau legendaris pada tahun 1883 silam.

Waspada Arah Penyebaran Awan Abu Vulkanik

Meskipun dampak global belum terbukti, dampak lokal tetap harus diwaspadai. Saat ini, awan pirocumulus yang membawa material vulkanik dan senyawa sulfur oksida dilaporkan telah menyelimuti wilayah Pulau Enggano, Bengkulu.

Masyarakat di wilayah Banten juga diimbau untuk tetap waspada. Jika terjadi penguatan angin laut bersamaan dengan adanya tekanan rendah di wilayah Banten, abu vulkanik berpotensi besar bergeser dan mengarah ke Serang, Banten, dan sekitarnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News