Dunia kembali berada di persimpangan berbahaya. Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah mengingatkan pemerintah Presiden Prabowo Subianto agar mewaspadai potensi serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran. Menurutnya, jika skenario itu benar-benar terjadi, dampaknya bukan hanya mengguncang Timur Tengah, tetapi juga bisa menghantam perekonomian Indonesia secara langsung.
Dalam analisa yang disampaikannya, Amir melihat eskalasi ketegangan antara Washington dan Teheran tidak bisa lagi dipandang sebagai retorika diplomatik biasa. Dinamika militer di kawasan Teluk, tekanan sanksi ekonomi, serta rivalitas terbuka antara blok Barat dan poros kekuatan Timur telah membentuk lanskap geopolitik yang sangat rapuh. “Ini bukan sekadar konflik dua negara. Ini pertarungan pengaruh global,” tegasnya kepada wartawan, Kamis (26/2/2026).
Amir menilai, serangan terbuka AS ke Iran akan langsung memicu kepanikan pasar energi dunia. Iran merupakan salah satu pemain penting dalam pasokan minyak global. Jika fasilitas produksi atau jalur distribusinya terganggu, harga minyak mentah berpotensi melonjak drastis dalam waktu singkat. Lonjakan ini, menurutnya, akan menciptakan efek domino: biaya logistik naik, harga pangan terdorong, inflasi meningkat, dan daya beli masyarakat tertekan.
Indonesia, yang masih bergantung pada impor energi, tidak akan kebal dari guncangan tersebut.
“Setiap kenaikan harga minyak dunia berarti tekanan tambahan pada APBN dan risiko inflasi domestik,” kata Amir. Ia mengingatkan bahwa dalam situasi global yang tidak stabil, kebijakan fiskal dan energi harus disiapkan dengan skenario terburuk.
Lebih jauh, Amir menggarisbawahi potensi keterlibatan diam-diam China jika Iran diserang. Dalam pandangannya, Beijing memiliki kepentingan strategis besar terhadap stabilitas Iran, terutama dalam konteks pasokan energi dan persaingan geopolitik dengan Washington.
“China tidak akan tinggal diam. Bantuan bisa saja diberikan secara tidak langsung, baik melalui dukungan ekonomi, logistik, maupun transfer teknologi,” ujarnya.
Ia bahkan menyinggung perkembangan teknologi militer Iran yang dinilai semakin canggih. Dalam beberapa konflik terakhir dengan Israel, sistem rudal Iran disebut menunjukkan kemampuan penetrasi pertahanan yang sebelumnya dianggap sulit ditembus, termasuk sistem pertahanan udara seperti Iron Dome. Bagi Amir, hal ini menandakan bahwa peta kekuatan militer di kawasan telah berubah dan tidak bisa lagi diremehkan.
Menurutnya, jika konflik pecah, bukan tidak mungkin akan terjadi perang proksi berskala luas. Amerika Serikat akan menghadapi risiko keterlibatan lebih dalam, sementara China dan sekutunya bisa memanfaatkan momentum untuk memperluas pengaruh. Dalam situasi seperti ini, Timur Tengah berpotensi menjadi episentrum konflik global baru.
Amir juga menekankan pentingnya langkah antisipatif dari pemerintah Indonesia. Ia mendorong penguatan cadangan energi nasional, percepatan diversifikasi sumber energi, serta diplomasi aktif untuk menjaga stabilitas kawasan.
“Indonesia harus bersikap cerdas dan tidak terseret arus rivalitas global. Kita perlu strategi jangka panjang,” katanya.
Di tengah ketidakpastian dunia, peringatan ini menjadi alarm keras bahwa dinamika geopolitik jauh di luar negeri dapat berdampak langsung pada dapur rakyat Indonesia.
“Jika benar skenario serangan AS ke Iran terjadi, bukan hanya pasar energi yang bergejolak, tetapi juga stabilitas ekonomi nasional yang diuji,” pungkasnya.





