Mengapa Pro-Kontra Pilpres Indonesia Tak Menimbulkan Konflik Besar?

Oleh: Agusto Sulistio – Mantan Kepala Aksi dan Advokasi PIJAR era90an.

Pemilihan presiden di Indonesia selalu menjadi momen penting dalam dinamika politik negara ini. Meskipun seringkali diwarnai oleh dugaan kecurangan, menariknya, perselisihan pilihan politik dalam pilpres jarang menghasilkan konflik sosial yang besar, berbeda dengan perbedaan idiologi yang diwarnai oleh konflik besar dan berkepanjangan. Penulis mencoba untuk menganalisis fenomena ini dengan melihat beberapa faktor yang mempengaruhinya.

Stabilitas Politik yang Meningkat

Salah satu faktor utama adalah peningkatan stabilitas politik di Indonesia. Sejak periode reformasi, proses demokratisasi telah menguat, memberikan landasan yang lebih kokoh bagi penyelesaian konflik politik secara damai. Contohnya adalah Pemilihan Umum Presiden tahun 2014 yang berlangsung relatif damai meskipun terjadi perselisihan yang mengemuka antara kedua kubu calon.

Kesepakatan Nasional dan Pendidikan Politik

Masyarakat Indonesia semakin sadar akan pentingnya kesepakatan nasional dan pendidikan politik yang kuat. Ideologi Pancasila telah menjadi landasan bersama yang mempersatukan beragam pilihan politik. Hal ini mengurangi potensi konflik ideologis yang mendalam seperti yang terjadi pada masa lalu.

Fokus pada Masalah Ekonomi dan Kesejahteraan

Perhatian utama masyarakat dan pemerintah telah bergeser ke masalah ekonomi dan kesejahteraan. Pertumbuhan ekonomi, pengentasan kemiskinan, dan penciptaan lapangan kerja menjadi prioritas, sehingga masalah ideologi menjadi kurang dominan dalam politik sehari-hari.

Pengalaman Sejarah dan Kepemimpinan

Pengalaman dari konflik-konflik masa lalu, seperti Pemberontakan PKI dan peristiwa G30S/PKI, memberikan pelajaran berharga bagi bangsa Indonesia untuk tidak mengulangi kesalahan tersebut. Kepemimpinan Indonesia setelah era Soekarno, Soeharto dan memasuki orde reformasi, Habibie, Gus Dur, Megawati, SBY, Jokowi turut berperan dalam menjaga stabilitas politik dan menyelesaikan konflik dengan baik.

Baca juga:  Ngeri, PRIMA: SIPOL Pemilu 2024 Tidak Wajar

Upaya Kelompok Berbasis Ideologis yang Tidak Berkembang

Meskipun dalam perselisihan pilpres di Indonesia tidak menutup kemungkinan terjadi upaya sebagian kelompok berbasis ideologis, namub upaya tersebut tidak selalu berkembang menjadi luas seperti yang diharapkan oleh kelompok itu. Contoh konkritnya dapat dilihat pada Pilpres 2019 yang mana dua calon presiden yang bersaing, yaitu Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto. Keduanya memiliki perbedaan pendapat terkait kinerja pemerintahan Jokowi. Kelompok yang menentang Jokowi merasa tidak puas dengan kebijakan pemerintahannya terutama terkait pembangunan infrastruktur, program ekonomi, dan isu-isu sosial dan politik. Sementara itu, Prabowo dan pendukungnya mengkritik kinerja ekonomi, merasa ada ketidakadilan dalam proses politik dan pemilihan, serta meragukan integritas kebijakan pemerintahan Jokowi. Perselisihan ini terutama dipicu oleh perbedaan pandangan terhadap arah dan kebijakan pemerintahan serta upaya untuk mendapatkan dukungan masyarakat.

Meskipun dalam pilpres 2019 terjadi kericuhan yang menegangkan dan terindikasi terdapat upaya-upaya dari sebagian kelompok yang mencoba memanfaatkan isu-isu ideologis, namun hal tersebut tidak berhasil membawa perselisihan dalam pilpres dengan memecahbelah masyarakat secara luas. Sebagian besar masyarakat tetap memilih untuk menyelesaikan perselisihan politik secara damai dengan menggunakan saluran demokratis yang ada.

Perselisihan Pilpres di Amerika Serikat

Di negara lain, perselisihan pilihan politik dalam pemilihan presiden seringkali menimbulkan ketegangan dan konflik yang besar. Sebagai contoh, Amerika Serikat sering mengalami polarisasi politik yang dalam selama proses pemilihan presiden. Dalam pemilihan presiden Amerika Serikat tahun 2020, dua calon utama adalah Donald Trump dan Joe Biden. Trump menolak mengakui hasil pemilu dan mengatakan ada kecurangan dalam pemungutan suara. Hal ini menyebabkan ketegangan di masyarakat, dengan protes dan kekerasan. Biden harus bekerja keras untuk menenangkan situasi dan menyatukan negara. Trump juga mengajukan tuntutan hukum terhadap hasil pemilu. Biden menyatakan pemilihan berlangsung adil, sementara Trump meragukan integritas sistem pemilihan. Ini semua menyebabkan ketegangan dan perselisihan yang besar di Amerika Serikat saat itu.

Baca juga:  Kasus Corona, 25 Hari Tembus Empat Digit

Kesimpulan

Meskipun perbedaan pilihan politik dalam pilpres di Indonesia seringkali menegangkan, faktor-faktor seperti stabilitas politik yang meningkat, kesepakatan nasional, fokus pada masalah ekonomi, pengalaman sejarah, dan upaya kelompok berbasis ideologis yang tidak berkembang secara luas telah mengurangi potensi konflik sosial yang besar. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia telah belajar dari masa lalu dan semakin matang dalam mengelola dinamika politik, berbeda dengan beberapa negara lain yang masih menghadapi tantangan besar dalam menangani perselisihan pilihan politik. Kesadaran politik masyarakat Indonesia patut di apresiasi dan dipertahankan dalam rangka untuk menjaga persatuan Indonesia dan senantiasa menghindari konflik yang dapat memecah belah bangsa.

Masjid Seberang Kantor BIN, Stasiun Pasar Minggu Baru, Jumat 29 Maret 2024, 12:54 Wib.