Gerombolan Demo Tolak Hak Angket Akui Dibayar Rp100 Ribu

Beberapa orang yang mengaku pelajar ikut berdemonstrasi menolak hak angket di DPR dibayar Rp100 ribu, Jumat (1/3/2023).

Wawan (16) mengaku pelajar dari Jakarta Utara diminta demo dengan imbalan Rp100 ribu. “Ada teman yang mengajak demo dan dikasih uang cepek (100-maksudnya Rp100 ribu-red). Saya sih ikut saja,” ungkapnya.

Ia sendiri tidak tahu persoalan politik termasuk hak angket DPR. “Saya tidak tahu hak angket. Saya ikut demo dan dibayar saja,” tegasnya.

Rahmat ikut demo menolak hak angket karena dikasih uang Rp100 ribu. “Saya ikut-ikutan saja. Yang penting dapat bayaran,” ungkapnya.

Ribuan pelajar dan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa se-Jabodetabek dan Pemuda Indonesia Center (PIC) menggelar aksi unjuk rasa penolakan hak angket dan penolakan terhadap pemakzulan presiden di depan Gedung DPR/MPR RI, Jumat (1/2).

Baca juga:  PPP Usulkan Sandiaga Cawapres Ganjar, Beathor: Pertarungan Jokowi Vs Megawati Makin Keras

Aksi damai tersebut sempat mendapat kecaman dari massa lainnya yang juga melakukan aksi unjuk rasa dengan tuntutan berbeda. Meski begitu, situasi tetap kondusif karena aksi unjuk rasa tersebut dibatasi oleh barikade aparat Kepolisian bersenjata tameng.

“Seluruh pelajar Indonesia agar tidak terprovokasi oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab seperti yang kita lihat di sini (depan gedung DPR RI), kita pelajar dan gerakan aliansi mahasiswa di sini menolak hak angket dan pemakzulan presiden,” kata Ketua Gerakan Pelajar Solid, Abdul Fakih Ramadani di lokasi aksi.

Baca juga:  Karyawan TransJ Ancam Demo Lagi, Djarot: Kita Rekrut yang Baru

Abdul beralasan, kelompok pelajar tersebut menolak pemakzulan presiden karena dinilai sudah ada Undang-Undang yang mengatur.

“Jadi tidak seharusnya kita mengintimidasi presiden seperti sekarang ini yang sedang panas,” ucapnya.

Abdul mengaku, aksi pelajar tersebut mendapat dukungan positif dari rekan-rekan mahasiswa lainnya. Mereka pun sepakat untuk menggelar aksi unjuk rasa bersama di gedung DPR/MPR RI.

“Kita gerakan pelajar solid menolak intimidasi terhadap KPU dan Bawaslu. Kita sangat mendukung KPU dan Bawaslu untuk menjalankan proses Pemilu ini secara optimal,” katanya.