Bos Cyrus Network: Bung Karno Penyalur Romusha dan Jugun Ianfu

Presiden Indonesia pertama Soekarno (Bung Karno) pernah sebagai penyalur Romusha dan Jugun Ianfu saat di era Penjajahan Jepang.

“Beliau Presdir penyalur Romusha dan Jugun Ianfu. Beliau yang menyiapkan, mencuci otak, dan mengirim orang-orang itu ke “tempat kerja” masing-masing,” kata Bos Cyrus Network Hasan Nasbi di akun X, Rabu (28/2/2024).

Hasan Nasbi mengatakan seperti itu menjawab pertanyaan dari pemilik akun X Eddy Kriting @edykrit22: “Beneran tanya: Memangnya apa peran Bung Karno dengan romusha dan jugun ianfu? BK ikut merancang dan/atau melaksanakan? Atau bagaimana?”

Kata Hasan Nasbi, orang Indonesia yang dijadikan Romusha dan Jugun Ianfu dikirim ke Singapura dan Thailand. Saat itu, masyarakat Indonesia yang dikirim ke negara lain saat penjajahan Jepang seperti perdangan manusia.

“Termasuk pengiriman orang-orang Indonesia ke Singapura dan Thailand. Yang dikirim dengan kontainer-kontainer macam anda lihat dalam film-film perdagangan manusia,” jelasnya.

Baca juga:  Soekarno, PKI dan Militer 1965

Dalam buku biografi ‘Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia’ yang ditulis Cindy Adams, proklamator itu mengaku ditugasi Jepang mendata dan ‘merayu’ rakyatnya memasuki ranah kerja paksa yang mengerikan tersebut.

Ini pernyataan Bung Karno tentang romusha:

“Sesungguhnya akulah –Sukarno– yang mengirim mereka kerja paksa. Ya, akulah orangnya. Aku menyuruh mereka berlayar menuju kematian. Ya, ya, ya, ya akulah orangnya. Aku membuat pernyataan untuk menyokong pengerahan romusha. Aku bergambar dekat Bogor dengan topi di kepala dan cangkul di tangan untuk menunjukkan betapa mudah dan enaknya menjadi seorang romusha.”

“Dengan para wartawan, juru potret, Gunseikan –Kepala Pemerintahan Militer- dan para pembesar pemerintahan aku membuat perjalanan ke Banten untuk menyaksikan tulang-tulang-kerangka-hidup yang menimbulkan belas, membudak di garis-belakang, itu jauh di dalam tambang batubara dan tambang mas. Mengerikan. Ini membikin hati di dalam seperti diremuk-remuk.”

Sementara dalam buku ‘Total Bung Karno’ karya Roso Daras diceritakan bahwa langkah Bung Karno bukannya tidak menuai protes. Lima mahasiswa kedokteran yang juga aktivis pergerakan segera mendatangi Bung Karno, sesaat setelah gambar Bung Karno bersama romusha dan terkesan mendukung romusha tersebar di mana-mana.

Baca juga:  PDIP Klaim Stadion JIS Berkat Ahok dan Jokowi, Politikus Golkar: Sakit Jiwanya tak Terkira

“Nampaknya Bung Karno tidak dipercayai lagi oleh rakyat. Cara bagaimana Bung Karno bisa menjawab persoalan romusha?” seorang mahasiswa membuka percakapan yang menegangkan.

Bung Karno menjawab, ada dua jalan untuk bekerja (menuju Indonesia merdeka). Pertama dengan tindakan revolusioner, yang menurut Bung Karno, kita belum siap.

Jalan yang kedua adalah dengan bekerja-sama dengan Jepang sambil mengkonsolidasikan kekuatan dan menantikan sampai tiba saatnya ia (Jepang) jatuh.

“Saya mengikuti jalan kedua”, begitu kata Bung Karno.

Tidak puas dengan jawaban Bung Karno, mahasiswa lain menimpali, “Tapi kenapa Bung Karno sampai hati memberikan rakyat kita kepada mereka?”