Menyoal Tuduhan Penikmat Demokrasi Mbelgendes Pada Anies Rasyid Baswedan

Oleh: Irfan S Awwas

Apakah umat Islam bisa bersatu? Dulu umat Islam pernah bersatu di bawah payung Masyumi, dan menang. Dua orang tokoh Masyumi, M. Natsir dan Burhanuddin Harahap jadi Perdana Menteri rezim Soekarno, Indonesia berjaya. Pasca bubarnya Masyumi, akibat perpecahan sekaligus kezaliman penguasa, nasib umat Islam hingga sekarang selalu jadi korban politik belah bambu. Jangankan diseru bersatu untuk berjihad bil qital seperti Palestina melawan zionis Israel. Diseru bersatu untuk pilih capres Muslim saja, ogah.

Akibatnya, Indonesia secara terus menerus dipimpin penguasa zalim yang menolak syariat Islam. Berlakulah firman Allah Swt:

وَكَذٰلِكَ نُوَلِّيْ بَعْضَ الظّٰلِمِيْنَ بَعْضًاۢ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

Begitulah ketetapan Kami bagi orang-orang yang berbuat zhalim. Orang-orang zhalim itu saling tolong menolong dalam berbuat dosa. (QS Al-An’am (6) : 129)

Semula, Saya merasa heran dan mempertanyakan sikap politik beberapa kenalan pengurus MPUII, yang bersikap apriori terhadap Capres Anies Rasyid Baswedan. Sebaliknya, malah condong memilih paslon yang diorbitkan oleh dinasti oligarki yang jahat dan curang.

Namun setelah membaca aise pendek Prof. Ir. Daniel Mohammad Rosyid, M.Phil., Ph.D., kurator Kuliah Kebangsaan Bung Karno di ITS, baru saya memahami sudut pandang mereka yang berseberangan dengan pendukung Anies.

Menurut Prof Daniel, ideologi Jokowi dan Prabowo adalah sosio nasionalis, yang berusaha melawan demokrasi liberal dengan hilirisasi. Kedekatan keduanya dengan China, kata Daniel tidak berbahaya, karena China tidak intervensionis dan tidak mengekspor komunisme. Wis wayahe Prabowo karena berkontribusi terbanyak dalam demokrasi mbelgedes. Sedangkan Ganjar dan Anies Baswedan, menurut Daniel lagi, keduanya setia kepada demokrasi liberal, yang disebutnya demokrasi embelgedhes (serba negatif), dan hanya penikmat keistimewaan parpol ala UUD 2002. Daniel, secara apriori, memperkirakan Anies dan Ganjar akan masuk dalam Kabinet Prabowo.

Narasi insinuatif anggota komite kepemimpinan MPUII ini, bisa disebut kejahatan verbal, yang mungkin suatu saat nanti akan disesalinya. Mengapa, sesama intelektual Muslim lebih sibuk menanam investasi su’udhan ketimbang melakukan tansiq atau aliansi husnudhan, saling menguatkan dan tolong menolong mengusung calon pemimpin negara yang dikenal cerdas, berakhlak mulia, dan melakukan amaliyah rukun Islam?

Baca juga:  Survei LSI : Ali Lubis Berpeluang Besar Lolos ke DPRD DKI Jakarta Tahun 2024

Barangkali, karena kecewa terhadap pernyataan Daniel inilah, yang membuat KH. Luthfi Bashari ingin memisahkan diri dari MPUII, seperti dipublish dalam media group ini. Wallahu a’lam !

Menjawab Tuduhan liberal

Performan Anies yang santun, bajik dan bijak, telah membikin seorang Dato’ Sri Syed Hussein Al Habshee menangis haru saat Anies jadi pembicara dalam kuliah Profesional Dunia ISTAC di Universiti Islam Antarbangsa (IIUM) di Kuala Lumpur, Malaysia, 11 Oktober 2023. Dato’ Sri menggambarkan kekagumannya pada sosok Anies dengan mengutip sebuah ungkapan yang ditulis oleh Imam Abdur Rahman Ad-Diba’i: “Apabila beliau tersenyum, senyumnya sejuk bagai butiran embun. Dan bila beliau berbicara, seakan mutiara berjatuhan dari ucapannya”. Inilah kesan yang saya dapatkan dari Dr. Anies Baswedan,” ungkapnya sembari menahan isak tangis.

Sejauh ini kita belum pernah sekalipun mendengar pernyataan kontroversial dari Anies terkait agama Islam, seperti halnya orang-orang JIL. Begitupun ketika bicara demokrasi, tidak terkesan menjadi antek barat. Anies piawai bicara persatuan, kemanusiaan, dan keadilan sosial berbasis Ketuhanan YME.

Karya dan kehadirannya memimpin DKI Jakarta, membuat Indonesia dilihat sejajar oleh bangsa lain. Reputasi, prestasi, dan kompetensinya membuat namanya harum di antara para pemimpin dunia.

Anies bergerak membawa misi perubahan. Hadir memimpin saat krisis moral melanda negeri ini. Setiap kata dan perbuatannya merupakan cerminan dari kepemimpinannya. Ia mengemban amanah dengan penuh cinta.

Selain membangun infrastruktur, kebijakan program sosial saat jadi Gubernur DKI merupakan program perintis yang belum pernah dilakukan gubernur manapun di Indonesia. Anies bebaskan pajak bangunan bagi pahlawan nasional, mantan gubernur DKI, dosen, guru, dan bangunan dibawah nilai 2 M. Saat Idul Adha, atas nama pemda DKI, sembelih hewan qurban untuk rakyat. Lalu dagingnya dimasak oleh koki Hotel mewah, kemudian dibagikan kepada rakyat yang membutuhkan. (Saya sudah senang dengar kabar, bila Anies jadi Presiden RI, ONH akan turun, dan akan bangun kampung Haji di Mekah ) 😀Jelas, ini bukan program pemimpin liberal berbasis demokrasi mbelgedes.

Baca juga:  Menteri Jokowi akan Gemetar di Depan Hakim MK

Ketika dicurigai dekat dengan Amerika, dia berkomentar. “Saya sampai bosan menjawabnya. Saya dianggap JIL karena pernah menjadi rektor Universitas Paramadina. Saya dituduh Syiah karena pernah berfoto dengan duta besar Iran,” katanya.

Tuduhan kedekatannya dengan Amerika, karena kuliah di negera Paman Sam itu, Anies menjawab: “Mohammad Hatta kuliah di Belanda, tapi dia berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Sri Sultan Hamengkubuwono IX, sejak kecil hingga dewasa belajar di Belanda, pulang ke Indonesia ia melawan Belanda.”

Sebagai penikmat demokrasi mbelgedes? Jika kita memaknai istilah mbelgedes sebagai hal yang serba negatif, maka bukan hanya sistem demokrasi bahkan negara ini adalah republik mbelgedes. Ini bukan salah Anies, tapi hanya itulah perangkat konstitusional yang disediakan negara untuk memilih Kepala Negara. Adapun pemilihan berdasar musyawarah bil hikmah melalui MPR seperti diatur dalam UUD 1945. Jangan lupa, dalam UUD 1945 tidak diatur masa jabatan presiden.

“Presiden dan Wakil Presiden memegang jabatannya selama masa lima tahun, dan sesudahnya dapat dipilih kembali,” demikian bunyi Pasal 7 UUD 1945 sebelum amandemen. Sehingga Seokarno diusulkan sebagai presiden seumur hidup, dan berdasarkan ketentuan tersebut Soeharto berkuasa hingga 32 tahun lamanya. Adalah naif sekali bila rakyat Indonesia kembali ke alam orla dan orba.

Tapi, benarkah Jokowi dan Prabowo berideologi sosio nasionalis, yang tidak berbahaya bagi Indonesia? Tentu saja, kita tidak buta tuli menyaksikan kejahatan yang terbentang di depan mata selama 10 tahun berkuasa.

Dimasa rezim Jokowi, harlah Pancasila diganti jadi 1 Juni 45. Lalu, ingin ganti Pancasila jadi Trisila, bahkan Ekasila. Kemudian ingin merubah dasar negara Ketuhanan YME jadi Tuhan kebudayaan. Ini Gak Bahaya Ta ?

Yogyakarta, 17 Februari 2024
IRFAN S. AWWAS