Umpat Jokowi dengan Kata-kata Binatang, Loyalis Jokowi Lamongan: Penjarakan Butet Kartaredjasa!

Aparat penegak hukum harus segera menangkap Butet Kartaredjasa yang telah mengumpat Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan kata-kata binatang.

“Tangkap dan Penjarakan Butet Kartaredjasa. Ia telah mengumpat Presiden Jokowi dengan kata-kata binatang. Ini sangat tidak pantas,” kata Loyalis Jokowi Lamongan Rinto Junaidi kepada redaksi www.suaranasional.com, Kamis (1/2/2024).

Kata Rinto, Butet tidak bisa berlindung di balik kebebasan berbicara ketika mengumpat dengan kata-kata binatang kepada Presiden Jokowi. “Indonesia mempunyai tata krama dan adat ketimuran. Butet tidak bisa seenaknya bicara begitu,” paparnya.

Rinto mengatakan, aparat penegak hukum makin dicintai rakyat jika cepat menangkap dan memenjarakan Butet. “Segera tetapkan status tersangka. Selanjutnya dibawa ke pengadilan,” ungkap Rinto.

Butet mengaku tak memahami apa yang dipersoalkan relawan Jokowi itu. Ia mengaku hanya menyampaikan ekspresinya sebagai seniman saat acara kampanye pasangan calon presiden-calon wakil presiden (capres-cawapres) Ganjar-Mahfud.

“Saya kan cuma menyatakan pikiran-pikiran saya dan itu adalah bagian dari kebebasan berekspresi yang dijamin UUD 45. Saya bisa mengartikulasikan pikiran saya secara bebas melalui media seni, media apa pun. Saya seorang penulis, saya bisa berekspresi melalui karya tulis, entah itu puisi, cerpen, pantun, atau naskah monolog atau di panggung pertunjukan karena saya seorang aktor,” ujar Butet.

Baca juga:  Pengamat: PDIP Siapkan Ganjar Pranowo Capres 2024

Butet menyebut pantun yang disampaikannya memang sudah disiapkan sebelumnya. Adapun narasi sebelum membaca pantun itu, kata dia, hanya spontan. Butet membantah jika dikatakan menghina presiden soal kata “ngintili” (mengikuti) atau “wedhus”.

“Kata binatang yang mana? Wedhus? Nek ngintil itu siapa? Kan saya cuma bertanya pada khalayak, yang ngintil siapa? ‘Wedhus’ (dijawabnya). Berarti kan yang tukang ngintil, wedhus. Tafsir saja. Apa saya sebut nama Jokowi? Saya bilang ngintil kok,” kata Butet.

Soal pantunnya, Butet mengaku hal itu justru merupakan bentuk kecintaan terhadap Presiden Jokowi. “Anda tahu semua ini (saya) Jokower sejak 2014, tahu kan? Pendukung, pembela, membantu Pak Jokowi. Ini ujungnya jutaan orang kena prank, ditipu. Ini orang yang mencintai, menyayangi Jokowi, dan mengingatkan Jokowi. Diingatkan secara sopan, secara halus, enggak mau dengeri. Alus enggak iso, ya rodo kasar setitik. Justru karena saya itu menyayangi Jokowi, maka saya mengkritik, mengingatkan,” ujar Butet.

Baca juga:  Politikus Demokrat: Prabowo Beda Kelas dengan Capres Lem Aibon dan Suka Nonton Bokep

Butet mengaku siap jika dipanggil pihak kepolisian terkait laporan relawan Jokowi. Ia pun ingin membuktikan soal netralitas Polri. “Kita akan membuktikan tentang Polri-nya. Saya akan dikenai pasal apa. Pasal ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik) yang lentur, pasal karet, tergantung siapa yang menafsirkan? Jadi, di sini kita akan membuktikan, melihat netralitas kepolisian. Polisinya netral atau tidak,” ujar dia.

Butet pun mengandaikan dirinya ditangkap polisi dan dipenjarakan. “Andaikan saya ditangkap polisi, bahkan kemudian dipenjara, loh itu malah proses pembusukan dari apa yang dilakukan Pak Jokowi. Membusukkan demokrasi dan itu rakyat pasti marah,” kata dia.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *