Ketahanan Amil di Lembaga Zakat

Oleh: Nana Sudiana (Direktur Akademizi, Associate Expert FOZ)

Ketika kita berbicara soal ketahanan untuk tetap bertahan di atas jalan kebaikan zakat, harus kita pahami bersama bahwa jalan ini- sebagaimana karakternya bukanlah jalan dipenuhi oleh bunga-bunga pujian. Jalan kebaikan ini pun bukanlah jalan yang dipenuhi dengan kemudahan, melainkan ada banyak kesulitan, fitnah, dan tekanan. Oleh karena itu, diperlukan ketahanan internal yang kuat lantaran jalan ini merupakan jalan yang panjang. Bisa jadi, aktivis gerakan zakat tidak merasakan buah perjuangannya di dunia ini karena singkatnya umur yang dimiliki. Jalan ini, sekali lagi, jalan teramat panjang Umur kita bisa jadi tidak sebanding dengan panjangnya cita-cita yang dibawa dalam misi kebaikan ini.

Namun, di balik semua kesabaran dalam menghadapi cobaan, di balik kesabaran menghadapi fitnah, dan di balik kesabaran atas kelelahan karena berjuang dalam waktu yang panjang, sesungguhnya Allah telah menyiapkan balasan yang setimpal: surga dan seisinya. Sebagaimana firman-Nya dalam surat at- Taubah ayat 111, “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.”

Demikianlah, hidup aktivis zakat adalah amal lazimnya jalan orang-orang beriman. Tanpa ada amal kita tak berhak menjalani hidup Tanpa amal hidup akan hampa layaknya tongkat kayu yang tertanap di tanah, membusuk perlahan dan jatuh kala di makan rayap. Hidup adalah amal, dan amalnya jelas amal yang baik dan bermanfaat b manusia dan makhluk Allah lainnya.

Ketika sudah mulai berbuat baik, ketika itu pulalah harus kita terus pertahankan. Hanya saja, memang tidak mudah untuk bertahan di jalan kebaikan sehingga Allah pun telah menyiapkan balasan yang besar bagi siapa saja yang dengan tulus ikhlas tetap istiqamah berjuang di jalan kebaikan yang Allah ridhai. Allah subhanahu wata’ala telah menyiapkan surga untuk mereka yang dengan ikhlas menginfakkan harta dan jiwanya di jalan kebaikan ini.

Baca juga:  Eggi Sudjana: Ada Rekayasa Penetapan Status Tersangka HRS

Di dunia amil zakat sendiri ternyata tidak sedikit mereka yang awalnya berjuang bersama di jalan kebaikan ini akhirnya harus meminggir atau menepi bahkan berhenti memperjuangkan. Mereka bisa jadi berubah sikap dan sebagiannya akibat tidak sanggup untuk bertahan atas cobaan yang ada di jalan ini. Belum lagi ada godaan kekuasaan atau jabatan yang dulunya belum pernah dibayangkan. Mereka yang memutuskan diri berhenti dan tak ikut kafilah gerakan zakat barangkali bisa disebut dengan istilah futur. Ada yang harus futur karena alasan tidak sanggup akan cobaan berupa kesulitan-kesulitan. Namun, tidak sedikit yang harus insilakh atau keluar dari gerakan zakat karena cobaan berupa kenikmatan, yakni ketika jalan kebaikan yang disemai pada akhirnya masuk pada pusat-pusat kekuasaan. Saat harta, tahta, dan jabatan begitu mudah didapatkan, maka bukan tidak mungkin para aktivis gerakan zakat yang sebelumnya lurus berjuang untuk kebaikan umat dan bangsa, malah justru terlena oleh godaan-godaan tersebut. Bukan mustahil para aktivis yang bahkan berjuluk “ahlinya ahli” ataupun “intinya inti” gerakan zakat berubah orientasi.

Di sejumlah sejarah pergerakan, banyak aktivisnya yang kuat dan mampu bertahan dalam kekurangan, kemiskinan, tekanan hidup dan ancaman dari kekuasaan. Namun, justru begitu muncul godaan kenikmatan, panjangnya perjuangan dan pedih perihnya proses yang dilalui, seolah begitu saja dilupakan. Lebih parahnya justru ketika para aktivis gerakan ini berubah orientasi dan mulai menikmati arus kehidupan baru yang dijalani, mereka malah memengaruhi aktivis lainnya untuk bergabung dan menjadi bagiannya. Akhirnya, sebuah gerakan kebaikan apa pun akan terbelah bila tak ada ketahanan visi dan gerakan di dalam diri para aktivisnya. Situasi yang ada bukan hanya merusak citra gerakan tapi juga akan memobilisasi orang-orang yang masih ingin lurus dan terus berjuang. Oleh karena itulah, mari kita renungkan lagi firman Allah berikut ini:

Baca juga:  Dianggap Bisa Amankan Keluarganya, Pemerhati Sosial dan Politik: Jokowi Ngotot Ganjar Capres

“Mahasuci Allah Yang di Tangan-Nya lah segala kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun…” (Quran surat al-Mulk [67]: 1-2)

Yang mesti kita pahami bersama, sejatinya ujian dan cobaan yang diberikan oleh Allah itu semacam screening atau seleksi untuk membuktikan siapakah di antara hamba-hamba-Nya yang memiliki kualitas amal terbaik. Di surat dan ayat yang lain, Allah juga menegaskan bahwa ujian dan cobaan yang diberikan itu untuk membuktikan keimanan kita.

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (Quran surat al-Baqarah [2]: 214)

Ayat-ayat di atas semoga jadi bahan perenungan para aktivis gerakan gerakan. Bahan perenungan ini diharapkan bisa menguatkan daya tahan gerakan zakat. Daya tahan yang kuat di tengah pelbagai perubahan, terlebih ketika hari ini kita menghadapi era disrupsi.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *