Gibran Anak Songong

Sutoyo Abadi (Koordinator Kajian Politik Merah Putih)

Dalam percapakan sehari-hari songong sering diartikan sombong, suka meninggikan diri, dan suka merendahkan orang lain, dalam KBBI songong artinya adalah tidak tahu adat. “Arti songong adalah sombong atau tinggi hati.” “Asal kata songong dari bahasa gaul anak-anak remaja.”

Dalam waktu tidak kurang dari 24 jam “songong” langsung merajai media sosial. “Songong” dibahas sebanyak 13.500 lebih. Topik ini melampaui tagar debat Cawapres.

Banyak nitizen yang menyayangkan sikap Gibran yang seakan-akan paling pintar dan menguasai materi debat Cawapres

Seperti ingin tampil lebih prima dari cawapres lainnya yang pasti lebih senior dalam keilmuan dan jam terbangnya di belantara politi

Tentor Timses yang memandu Gibran dalam persiapan masuk dalam debat Cawapres ada kesan terlalu memaksakan diri agar Gibran harus bisa tampil prima, yang muncul jutsru kesan anak ideot atau songong.

Tampilan tingak tinguk seakan akan mencari barang hilang untuk mengcounter Cawapres Mahfud MD adalah contoh paling vulgar atas kesombongan, songong dan ideotnya.

Baca juga:  Beathor: Ucapan Politik Jokowi Susah Dipercaya Termasuk Isu Gibran Jadi Cawapres

Bagi Timses atas kejadian tersebut sangat berat untuk mengembalikan citra Gibran yang memang masih dalam keterbatasan kemampuannya yang sangat minim ( bahkan kosong ) untuk masuk dalam dunia politik yang sangat ganas dan keras.

Rentetan stigna hitam, busuk dan negatif terus menerpannya dari sebutan anak haram konstitusi, lahir sungsang sampai anak songong dan sangat mungkinkah akan muncul stigma lainnya karena kebodohan dan ketololannya akan muncul di kemudian hari.

Stigma dengan predikat anak “songong” sangat dekat dengan kalimat tokoh komunis “Stalin’ tentang -“useful ideot” (si dungu yang bermanfaat).

Inilah akibat anak yang masih ingusan di paksakan untuk menempati posisi sebagai Cawapres yang sangat tidak logis dan melanggar nilai nilai kepatutan dan hanya akan merusak harga diri bangsa dan kerusakan negara.

Ada saudara kandung dari “useful ideot” (si dungu yang bermanfaat ) yaitu _”fellow traveller” ( kawan seperjalanan ) suka pasang badan kelompok ini sebenarnya sama sama ideot dan tolol.

Baca juga:  Tipu-tipu Berbagai Lembaga Survei Bayaran

Bisa jadi saudara kandung ini ada pada peran Tim Suksesnya karena harus berperan hanya sebagai kawan seperjuangan atau seperjalanan.

Modal aksinya kesetiaan total tanpa reserve asal pasang badan, tugasnya adalah membuat skenario asal asalan dengan semangat membabi buta.

Inilah dampak pemaksaan dari praktek politik dinasti yang membabi buta. Role model para pejabat pemburu jabatan untuk memuaskan syahwat berkuasa harus tampil totalitas malah terjerembab di got dan kubangan comberan.

Dusta, bohong, licik, menipu menjadi menu hariannya sebagai kawan seperjalanan dan seperjuangan.

Mereka beternak para ediot, tolol dan dungu bersekongkol sebagai peliharaan para bandar dan bandit politik yang harus terus berkuasa secara absolut … bagi kehancuran bangsa dan NKRI.

 

 

 


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *