Hamas Menang Banyak, Teroris Israel Semakin Hancur

Oleh : Memet Hakim (Pengamat sosial, Wanhat APIB & APP TNI)

Pada hari ke-81 perang Hamas dan Israel, terlihat Israel sangat kewalahan. Israel rugi besar di segala bidang. Secara fisik Israel mengalami kerugian besar, setidaknya ada 700 tank dan kendaraan lapis bajanya hancur, ribuan tentaranya tewas tidak sebanding dengan jumlah gugurnya mujahid Hamas. Belum belasan ribu tentara Israel mengalami luka2 dan sekitar 2.000 orang dilaporkan cacat permanen. Kemudian 2 ribuan orang yang terkena gangguan jiwa. Sungguh besar kerugian Israel. Dari segi ekonomi Israel sudah keteteran, sehingga akan menaikkan pajak, pembubaran beberapa Kementerian serta meminta donasi kepada negara sekutunya. Blokade ekonomi dan laut dari beberapa negara yang pro Palestina sungguh sangat efektip, Besarnya biaya perang dan blokade laut ini membuat perekonomian Israel berantakan.

Dari segi opini masyarakat dunia juga Israel semakin terpojok karena kekejaman, percobaan genosida dan kebohongan propagandanya terbongkar. Nama Hamas yang dianggap teroris justru semakin harum di dunia, semakin banyak pendukung kemerdekaannya. Di dunia maya tentara dan pejabat Israel diserang jutaan pegiat media social (Julid-fisabilillah) dari Indonesia, Malaysia bahkan dari negeri Uni Eropa, sehingga mereka kewalahan.

Secara moral, tentara Israel (IDF) mengalami penurunan sampai ketitik terendah, ada yang lari dari kewajiban berperang, ada tentara yang disersi, bahkan banyak tentara yang kena gangguan jiwa dan ada yang mulai melawan perintah atasan.

Pasukan Israel tewas lebih dari 3.000 dan luka-luka 11.000 orang serta  stress/gangguan jiwa 2.000 orang. Alat-alat perang Israel yang terkenal canggih, ternyata tidak berkutik melawan roket Hamas yang sebagian besar dibuat sendiri. Tank Merkava andalan Israel dianggap mainan oleh pasukan Hamas, telah dihancurkan. Hanya pesawat terbang saja yang belum dapat dilawan oleh Hamas, itulah sebabnya mereka menyiapkan terowongan jauh dibawah tanah seperti jaring laba-laba, sehingga tidak dapat di deteksi dan dikalahkan. Iron dome andalan Israel seringkali kebobolan menghadapi serangan roket Hamas. Perang gerilya yang dilakukan Hamas sangat berhasil.

Sebenarnya tentara Israel dibantu oleh tentara Amerika, Inggris serta tentara bayaran, walaupun demikian tetap juga kalah melawan pasukan Hamas. Ditarik mundurnya pasukan elite Israel, menandakan kekalahan telak bagi Israel. Akan tetapi Benyamin Netanyahu PM Israel tidak mau tahu, tetap ingin melanjutkan perang dengan Hamas. Tekanan dari dalam negeri agar PM Israel mundur semakin kuat, demo di depan rumahnya sudah dilakukan oleh keluarga sandera dan simpatisannya. Netanyahu sudah kehilangan kepercayaan dari rakyatnya sendiri.

Dapat dibayangkan oleh kita alih2 mau membebaskan sekitar 150 orang tawanan tentara Israel, malah mengorbankan jiwa ribuan tentara Israel lainnya. Israel tetap sombong, karakter aslinya sebagai pendusta, firnah tidak berkurang, sekarang mencoba agar Amerika & Inggris agar mau terlibat langsung dalam perang. Aneh juga negara sekaya dan sekuat Israel bisa kalah melawan Hamas, sebuat organisasi politik di Palestina. Tentu ada tangan Allah yang bekerja disini dan mungkin ini merupakan pertanda akan hilangnya Israel dari bumi Palestina.

Israel yang menganggap remeh perjuangan kemerdekaan Hamas, harus membayar mahal sekali. Blokade laut yang awalnya hanya dilakukan oleh pasukan Houthi dari Yaman di laut Merah yang sangat strategis, akan ditambah  blockadenya  dilaut Mediterranean oleh Iran. Dukungan 20.000 pasukan darat Houthi tentu akan memperbaiki keseimbangan kekuatan bagi Hamas. Pasukan Hamas Brigade al Qassam, dibantu oleh Brigade Hizbullah dari Libanon, Brigade Jihad Islam (Saraya Al Quds) dan laskar pejuang kemerdekaan Palestina akhirnya bersatu melawan Israel.

Korban rakyat sipil Palestina lebih dari 20.000 jiwa yang didominasi oleh anak-anak, Wanita dan orang tua itu, merupakan kejahatan perang Israel, tapi mungkin “dianggap prestasi” oleh Israel, pada hal faktanya merupakan genosida. Rumah sakit Indonesia misalnya dianggap sebagai markas pasukan Hamas, setelah tidak terbukti malah dijadikan markas tentara Israel. Para sandera yang dibebaskan Hamas diminta untuk mengatakan hal yang sebaliknya oleh Israel. Beda perlakukan antara sandera Hamas dan Israel membuat dunia terkejut atas kenyataan perlakuan manusiawi Hamas yang dianggap teroris dan geram atas perlakuan kejam Israel pada tawanannya. Pertukaran sandera telah membuka mata dunia, siapa teroris sebenarnya Israel sang penjajah, yang tidak ingin melepaskan negara jajahannya atau Hamas yang dijajah ingin Merdeka.

Agar terwujud perdamaian sesungguhnya, “Solusi perdamaian 2 negara harus diperbaiki menjadi 1 negara yakni Palestina Merdeka”. Penduduk Palestina selama 75 tahun dibawah negara Israel selalu ditindas. Penahanan, pembunuhan dan perampokan tanah milik orang Palestina sepertinya bukan merupakan perbuatan terkutuk buat orang Israel. Akan berbeda seandainya penduduk Yahudi berada di negara Palestina, pasti mereka dilindungi oleh Pemerintahan Palestina. Orang Yahudi, Palestina dan etnis lainnya akan hidup damai dan sejahtera dibawah kepemimpinan Pemerintahan baru Palestina.

Jika Amerika mau belajar dari kesombongannya berperang melawan tentara Vietnam dan Afganistan, tentu tidak akan ceroboh membantu Israel secara fisik. Amerika akan dipermalukan lagi oleh Hamas, sebuah organisasi politik di Gaza. Membantu penjajah saja sudah salah, apalagi ikut berperang dengan penjajah. Seharusnya Amerika membantu agar tidak ada lagi negara yang dijajah di seluruh dunia ini. Amerika harus ikut bertanggung jawab atas kejahatan perang di Gaza, berupa lebih dari pembunuhan lebih dari 20.000 jiwa masyarakat sipil yang didominasi oleh anak-anak, Wanita dan orang tua di Palestina ini

Bandung, 26.12.2023

Baca juga:  Jokowi - Wong Jawa Ilang Jawane


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *