Tanda-tanda Kemenangan Hamas dan Solusi Permusuhan Israel-Palestina

Oleh : Memet Hakim (Pengamat sosial, Wanhat APIB & APP TNI)

Perang Hamas (baca Palestina) – Israel sudah mencapai hari ke 71, masih berlanjut. Israel semakin kewalahan, Hamas masih tetap kuat. Sesumbar Gaza akan ditaklukan dalam tempo 6 jam itu ternyata sudah menginjak bulan ke-3. Pasukan Israel tewas lebih dari 3.000 luka-luka 11.000 dan stress/gangguan mental 2.000 orang, sedang dipihak Hamas diperkirakan tidak lebih dari 25 orang yang syahid. Penduduk sipil yang tewas sudah melewati angka 18.000 orang di dominasi oleh anak-anak, Wanita dan orang tua.

Ada perbedaan prinsip di antara ke-2 pasukan ini sebb :
1. Pasukan Hamas, al Qassam dibantu oleh brigade Hizullah, Jihad Islam, Saraya Al Qud, al Martyr, al Jenin dll di Palestina adalah bukan tentara, tapi semacam laskar bagian dari organisasi partai. Pasukan ini disebut mujahid dan jika meninggal disebut syuhada, mereka adalah para pejuang kemerdekaan Palestina. Sebagai laskar Islam, akhlak nya sangat bagus, tetapi Israel dan sekutunya menyebutnya teroris.

2. Pasukan Israel, merupakan tentara penjajah Israel (Israel Defence Force), mereka merupakan pasukan yang sudah terbiasa nyaman menghadapi rakyat Palestina yang tidak bersenjata. Tentu saja sebagai tentara, mereka memiliki sejumlah alat2 perang yang canggih termasuk kapal laut dan pesawat tempur. Mereka disebut tentara IDF dan jika tewas disebut mati. Akhlak tentara IDF ini dikenal buruk, sering berbohong, melontarkan fitnah dan kejam sekali. Mereka ini dibantu oleh pemerintah Inggris, Amerika, Jerman, dll.

Hamas sangat cerdik di dalam berperang, “ilmu perang gerilya” digunakan dengan baik. Guru perang gerilya ini adalah Indonesia (pengalaman perang dengan Belanda, Jepang, Sekutu), kemudian dikuti oleh Vietnam dan Afganistan di mana Amerika kalah telak dan kabur dari kedua negara tersebut. Hit and run itulah metodanya. Jika di Indonesia banyak Hutan untuk bersembunyi, di Vietnam harus membuat terowongan tanah untuk berlindung.

Lubang terowongan di Vietnam ini kecil sekali, cukup untuk mereka masuk, bergerak dan berlindung, tapi tidak bisa untuk berdiri. Di Palestina terowongannya jauh lebih besar, sehingga bisa berdiri dan menggunakan beton, sangat canggih. Di Afganistan gerilyanya di bukit2 batu dan gua yang sangat banyak terdapat di sana.

Baca juga:  Zionis Israel: Melupakan Sejarah

Baik Vietnam maupun di Palestina terowongan itu seperti jaring laba-laba, dilengkapi dengan jebakan-jebakan maut bagi orang luar. Jika di Mesir ada pyramid yang di dalamnya banyak ruang rahasia, di terowongan di Palestina pun seperti itu. Hanya Gerilya yang dapat mengalahkan negara besar dan sombong. Amerika pendukung utama Israelpun kabur melawan gerilyawan Vietnam dan Afganistan. Israel belum pernah mencobanya, tidaklah heran jika mengalami kerugian besar disegala bidang.

Ada upaya Israel untuk memompa air ke terowongan di Gaza, tentu pasukan Hamas sudah mengantisipasinya. Terowongan tidak mungkin datar pasti naik turun, apalagi ada 3 tingkat terowongan. Diperkirakan Hamas membiarkan terowongannya dialiri air, supaya beberapa sanderanya mati disana. Ini akan membuat rakyat Israel semakin marah pada pemimpinnya.

Bagi Hamas sendiri, lokasinya selalu berpindah bisa di Gedung, di reruntuhan gedung, di terowongan, ditepi laut, bahkan bisa muncul di kemah pasukan Israel sendiri. Itulah sebabnya pasukan Israel kesulitan dan ketakutan menghadapi Hamas.

Serangan Hizbullah dari Utara dan al Qud dari Timur dan Jihad Islam di bagian Utara membuat Israel harus menghadapi perang di beberapa front sekaligus. Belum lagi serangan pasukan Yaman ikut mengisolasi kapal dagang yang lewat laut merah, Yordania dan Suriah menghancurkan pangkalan udara Amerika di negara tersebut. Dukungan dari Rusia, Iran, Irak, Afganistan, Qatar, dll sangat membantu. Dukungan dari rakyat Indonesia dan Malaysia ternyata membantu psy-war juga, cukup efektip membungkam rakyat, tentara dan pejabat Israel.

Banyaknya dukungan terhadap Hamas, merupakan bukti bahwa Hamas ada diposisi yang benar. Para mujahid ini berjuang melawan penjajah. Sudah ada 139 dari 193 negara anggota PBB (72 % %) sudah mengakui kemerdekaan Palestina. Sebenarnya Palestina sudah menjadi negara Merdeka, sayangnya tidak semua pejabat Palestina teguh dan ulet seperti Hamas. Sebenarnya tidak masalah jika Palestina tidak masuk menjadi anggota PBB, Indonesiapun dulu pernah mengalaminya.

Baca juga:  Vihara Bersejarah Harus Ditangani

Propaganda Israel untuk menjatuhkan Hamas lewat media berupa kebohongan dan fitnah, dilawan oleh Hamas dengan bukti dan tindakan. Langkah Hamas ini tepat sekali, saat ini semakin banyak orang percaya kepada Hamas, operasi simpatik ini membuahkan hasil yang baik.

Dalam kondisi kalahpun Israel masih dapat sesumbar mengancam Hamas dan merencanakan pengambil tanggung jawab keamaman di Gaza dari Hamas, mungkin itulah sisa-sisa kesombongan Israel yang dapat dilontarkan di akhir kekalahannya.
Setidaknya ada 500.000 orang Israel mengungsi dan 1 juta orang di Gaza yang mengungsi. Kegiatan ekonomi tentu terganggu. Tekanan warga Israel agar Benyamin Netanyahu mundur semakin kuat, sekarang Kabinet perangnya sudah pecah. Sebaliknya di Hamas semakin kuat. Tidak hanya itu Joe Bidden presiden Amerika yang mengaku Zionis juga semakin terasing, akibat dukungannya terhadap Israel. Amerika dan Israel bertanggung jawab atas tewasnya lebih dari 18.000 orang tewas di Gaza yang mayoritas anak-anak , wanita dan orang tua.

Solusi paling tepat dalam menyelesaikan perang Hamas-Israel ini adalah mengusir & membubarkan pemerintahan Israel yang jahat dan kejam itu menjadi 1 negara yakni negara Palestina. Orang Yahudi, Palestina dan yang lainnya tentu dapat hidup berdampingan tanpa perbedaan dibawah pemerintahan Palestina. Artinya Israel harus dikalahkan terlebih dahulu secara total, mungkin perlu waktu lebih lama dan perlu menghancurkan markas militer termasuk kekuatan udara militer dan markas pemerintahan Israel terlebih dahulu.

Solusi 2 negara diperkirakan akan tetap menyimpan bara api, yang suatu saat akan berkobar kembali, apalagi jika kembali ke posisi awal. Palestina berhak mendapatkan kemerdekaan seutuhnya. Pada saat negosiasi pertukaran tawanan, sebagai salah satu pra-syarat adalah Palestina harus bebas dari semua tentara dan polisi Israel yang berada di Gaza dan Tepi barat termasuk di Yerusalem. Buka blokade diseluruh sektor dan mengakui Palestina sebagai negara yang Merdeka dengan batas sebelum Isarel Merdeka. Seperti halnya Indonesia Merdeka, Belanda angkat kaki dari Indonesia.

Bandung, 18.12.2023


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *