Jokowi Vs Jokowi

Oleh : Sholihin MS (Pemerhati Sosial dan Politik)

Jokowi adalah misteri. Sulit memahami karakter seorang Jokowi. Wajahnya yang ndeso ternyata jiwanya sangat bengis. Saking sulitnya, ada pengamat yang justru mencoba memahami Jokowi dengan cara terbalik. Omongan Jokowi sudah tidak berharga dan tidak dipercaya rakyat, kecuali bawahannya yang secara hirarki memang harus taat atasan.

Ini bukan sebuah fenomena, tapi sebuah pencerminan pribadi yang tidak jujur, pendusta, dan hipokrit yang terakumulasi sekian lama. Seorang pendusta akan selalu membuat siasat pembenaran untuk mengelabui orang lain. Saking seringnya berdusta dan menipu, sehingga terbentuk sebuah karakter pribadi.

Pers luar negeri menjuluki Jokowi sebagai man of contradiction (pribadi yang selalu kontradiktif). Lalu muncul julukan lain yang datang dari BEM UI dan UGM : King of lip service (Raja Pembual) dan consistent in inconsistency (konsisten dalam ketidak- konsistenan).

Berikut ini beberapa catatan penulis tentang berbagai statemen yang bertolak belakang. Sebut saja ada Jokowi kamuflase dan Pencitraan (Jokowi K), dan Jokowi yang sebenarnya atau Asli (Jokowi A).

Pertama, Baru-baru ini Jokowi (K) meminta KPK untuk mempertajam pemberantasan korupsi dan masyarakat untuk rajin melaporkan jika ditemukan pelanggaran korupsi. Padahal penyebab lemahnya KPK terutama setelah direvisinya UU KPK sumbernya adalah Jokowi (A), termasuk yang mempertahankan Firli “sang perusak KPK” Bahuri.

Baca juga:  Kemungkinan Ngeles Jokowi Ditanya Guru Honorer

Kedua, Ketika Jokowi (K) menerima kedatangan 3 capres, yaitu Prabowo, Ganjar dan Anies untuk makan siang di istana, dia berkomitmem untuk netral dalam Pilprea. Hal senada ditegaskan kembali di depan para kepala daerah seluruh Indonesia, bahkan yang melanggar bakal disangsi.

Tapi tidak berselang lama, Jokowi (A) justru sengaja buru-buru mengganti Panglima TNI, KASAD, mengerahkan aparat kepolisian untuk mendukung capres 02, mengintervensi KPK, MK, KPU, Bawaslu, dan membiarkan paslon 02 menyuap kyai-kyai Pesantren, money politic, dan bagi-bagi sembako.

Ketiga, Jokowi (K) ketika ditanya untuk tiga periode bilang tidak berminat, tapi di balik itu Jokowi (A) mengerahkan istana untuk bikin survey palsu (pakai big data), membentuk Musra, dan menggerakkan beberapa tokoh istana, menteri, ketua MPR, Ketua DPD, dan Ketum Parpol untuk “berkampanye” 3 periode, sebelum akhirnya ditenggelamkan rakyat dan dihentikan oleh Megawati.

Keempat, Jokowi (K) berkali menyatakan dirinya dan anak-anaknya tidak berminat ke politik, tapi nyatanya Jokowi (A) bukan saja terjun ke politik secara dalam, bahkan terus haus kekuasaan sampai nekad menghalalkan segala cara dan melakukan berbagai kecurangan.

Kelima, Semula, Jokowi (K) menyatakan berkali-kali tidak akan cawe-cawe urusan copras-capres karena itu katanya wewenang Ketum Parpol, tapi sekarang justru cawe-cawe Jokowi (A) sangat brutal dan vulgar.

Keenam, Jokowi (K) mengingatkan rakyat, termasuk mahasiswa untuk menjaga sopan santun, tapi faktanya Jokowi (A) bukan saja tidak sopan dan tidak punya etika, bahkan hukum juga terus menerus dilanggar.

Baca juga:  Wartawan Senior: Pertemuan Tertutup Aktivis Medsos-Jokowi, Perang Gerilya Terhadap Penguasa di Dunia Maya Makin Kuat

Ketujuh, Jokowi (K) bilang tidak akan menaikkan BBM, tapi faktanya Jokowi (A) menaikkan BBM sampai 15 kali.

Kedelapan, Jokowi (K) berkali-kali bilang tidak akan impor beras dan kebituhan pokok lain, tapi faktanya Jokowi (A) terus menerus impor

Kesembilan, Jokowi (K) menjanjikan pengurusan surat-surat tanah, termasuk warga Rempang, tapi faktanya Jokowi (A) malah hampir menggusur warga Rempang hanya demi memenuhi oligarki taipan dan dijanjikan investasi oleh TW sebesar 172 triliun.

Kesepuluh, Jokowi (K) ketika di awal-awal kampanye menjanjikan pemberantasan korupai, mafia, dan membela rakyat. Tapi faktanya, Jokowi (A) malah menjadi bagian dari korupsi, mafia dan rezim yang menyengsarakan rakyat.

Masih percayakah Anda terhadap omongan Jokowi. Sepertinya bukan lagi tidak percaya omongannya, tapi rakyat sudah muak terhadap Pemerintahan Jokowi, apalagi adanya politik dinasti dengan “mengkarbit” Gibran untuk jadi cawapres dan Kaesang memimpin Parpol PSI (yang ke depan diplot untuk jadi Gubernur DKI).

Demi ambisi jabatan dan kekuasaan Jokowi telah sengaja menghancurkan Indonesia.

Semoga Jokowi bisa bertobat sebelum datang adzab yang mengerikan.

Bandung, 29 J. Awwal 1445


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *