Guru Besar UII Puji Buku “Zakatnomics: Pengelolaan Zakat dari Good To Great”

Buku berjudul “Zakatnomics: Pengelolaan Zakat dari Good To Great” ditulis para praktisi di bidang zakat di antaranya Edo Segara Gustanto, Nana Sudiana, dan April Purwanto. Buku ini menampilkan berbagai teori dan praktik dalam pengelolaan zakat secara profesional.

“Buku ini luar biasa ditulis para praktisi yang mengenal pengelolaan zakat secara baik. Buku ini kuat dari segi kajian karena ditulis para pegiat zakat yang saat ini melakukan refleksi capaian-capain yang dicapai dan meningkatkan kompetensi, kapabilitas dalam melakukan kapitalisasi pengelolaan zakat di Indonesia,” kata Guru Besar Ilmu Akuntasi-Akuntasi Syariah Universitas Islam Indonesia (UII) Prof Rifqi Muhammad di acara bedah buku “Zakatnomics: Pengelolaan Zakat dari Good To Great”, Kamis (14/12/2023).

Kata Rifqi, buku ini diawal membahas sumber daya manusia (SDM) dalam pengelolaan lembaga zakat. SDM menjadi kunci kesuksesan dalam pengelolaan zakat di lembaga filantropi Islam.

Baca juga:  Ujian Kekompakan dan Kerja Sama Jamaah Haji di Tanah Suci

“Isu human resources ditampilkan di bagian awal. Menurut saya untuk mengkaji sebuah entitas dari kelembagaan tapi buku ini menggali dari human resources, ini menjadi kunci entitas tersebut. Memilih human resources mempunyai entitas dan berdaya untuk lembaga zakat,” jelas Rifqi.

Zakat sangat penting dalam konteks ekonomi karena hampir ormas Islam besar mempunyai lembaga zakat di mana penghimpunannya sampai triliunan rupiah. Dengan adanya riset masyarakat Indonesia dermawan membuat lembaga zakat berkembang baik.

“Cara pemasaran lembaga zakat dikaji dalam buku ini. Ada beberapa hal kita dskusikan, Islam menjaga kesimbangan umat di tengah. Zakat mempunyai nilai moderasi yang kuat. Zakat kebutuhan seorang muslim bukan hanya kewajiban. Posisi di masyarakat dipengaruhi behavior lingkungan,” paparnya.

Rifqi mengatakan, zakat membuat masyarakat Islam menjadi baik, mengayomi berbagai kelompok dan sebagai solusi di dalam negara Indonesia. Filantropi aspek multi dimensi termasuk di dalamnya lembaga zakat. “Penulis buku ini cukup cerdas mengambil peran zakat secara ekonomi dan sosial dalam membawa kemaslahatan bagi umat,” tegasnya.

Baca juga:  Per Juni, Bayar Tol Cipali Kini Bisa Menggunakan Uang Elektronik Semua Bank

Isu kemiskinan bisa menjadi branding lembaga pengelolaan zakat. kita masih punya problem masalah kemiskinan. Hal ini menjadi tugas lembaga zakat mengedukasi mustahik dalam mengatasi kemiskinan.

Selain itu, kata Rifqi pemerintah menjadi kunci terhadap lembaga zakat karena menjadi regulasi dan monitoring.

Lembaga zakat profesional bisa dilihat sesuai visi dan misi termasuk keberadaan ada audit syariah, audit keuangan, ada manajemen SDM, marketing dan digitalisasi. “Lembaga zakat mengikuti perkembangan zaman termasuk ke arah digitalisasi. Ke depan lembaga zakat bisa kerja sama dengan fintech. Saya ucapkan selamat atas peluncuran buku atas buku ini,” pungkasnya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *