Blundernya Cawe-cawe Jokowi

Oleh : Sholihin MS (Pemerhati Sosial dan Politik)

Cawe-cawe Jokowi semakin blunder. Niat hati ingin mengamankan dirinya dan keluarganya, tapi justru yang terjadi malah bisa menjadikan semua rencananya ambyar dan berantakan bahkan bisa memunculkan banyak problematika baru. Jika Jokowi tidak mau legowo dan segera menghentikan cawe-cawenya, keadaan negara makin tambah runyam tanpa solusi komprehensif, sedangkan keinginannya untuk lepas dari tanggung jawab hukum atas dosa-dosa politiknya tidak akan bisa terwujud. Dalam suasana kepanikan yang amat tinggi karena harus segera lengser keprabon, tindakan Jokowi makin aneh, hanya solusi sesaat, dan merugikan banyak pihak terutama rakyat tidak berdosa harus menanggung akibat atas kebodohan dan syahwat kekuasaannya.

Cawe-cawe Jokowi selain tidak lazim bagi seorang Presiden yang mau lengser, melanggar hukum, tidak etis, juga memberikan dampak buruk yang lain.

Ini di antara dampak buruk atas cawe-cawe Jokowi :

Pertama, Blunder soal Ganjar

Ganjar yang semula digadang-gadang jadi penerus Jokowi, dan Ganjar juga sangat antusias menerimanya, akibat “retaknya” hubungan Jokowi dan Megawati, Ganjar akhirnya diambil alih oleh PDIP. Kenapa PDIP mengambil alih Ganjar ? Bisa jadi karena Megawati, atau lebih tepatnya PDIP faksi Ganjar ditambah hasil lembaga survey pesanan “menggiring” Megawati untuk mencapreskan Ganjar karena dari laporan hasil survei (rekayasa) elektabilitas Ganjar di posisi tertinggi mengalahkan Prabowo dan Anies. Tapi belakangan ketahuan belangnya, ternyata tingginya elektabilitas Ganjar cuma bohong (rekayasa) dan setiap Ganjar safari politik ke berbagai daerah tidak ada sambutan. Di satu sisi Jokowi telah “kehilangan” jagoannya, di sisi yang lain capres Ganjar dari PDIP tidak laku. Jokowi menjadi semakin gamang.

Baca juga:  Tantangan Pemilu 2024

Kedua, Blunder Prabowo

Blunder dengan Ganjar, saat ini Jokowi coba merapat ke Prabowo. Atau, Jokowi mungkin masih ingin bermain di dua kaki : ke Ganjar belum melepas (tapi mulai ragu), lalu ke Prabowo (dipastikan) belum sepenuh hati. Kekhawatiran para oligarki taipan terhadap Prabowo bahwa Prabowo bisa berbalik arah belum bisa dihilangkan. Sebagai seorang yang memiliki jiwa korsa (militer sejati), Prabowo tidak mungkin tunduk 100% terhadap tekanan oligarki taipan. Mungkinkah kedekatan Prabowo kepada Jokowi sebagai sebuah taktik dan strategi, atau memang sudah benar-benar kehilangan jiwa ksatrianya ? Wallahu a’lam

Ketiga, Blunder Memusuhi Anies

Ada dua hal yang Jokowi tidak bisa melepaskan diri dari laju dan majunya Anis : 1. Anies sebagai satria piningit yang telah dinanti-nantikan oleh sejarah, merupakan kehendak Allah dan kehendak Alam; 2. Anies dikehendaki oleh sekitar 85% rakyat Indonesia untuk menggantikan Jokowi. Yang menafikan Anies bisa dipastikan orang yang bermasalah karena melawan akal sehat dana hati nuraninya sendiri. Usaha penjegalan terhadap Anies adalah sebuah kezhaliman, kejahatan kemanusiaan, serta melawan takdir Allah karena telah menghalangi hak azasi seseorang yang telah dijamin dan dilindungi oleh Undang-undang manusia dan Undang-undang Allah.

Baca juga:  Jubir Era Presiden Gus Dur Nilai Polri Sangat Lebay Lindungi Jokowi

Keempat, Blunder politik dinasti keluarga

Kekacauan lain yang ditunjukan oleh Jokowi adalah melakukan KKN (korupsi-kolusi-nepotisme) yang disematkan karena punya jabatan dan kekuasaan. Seandainya Jokowi tidak sedang memegang amanah jabatan sebagai Presiden, bisakah dia melakukan itu. Tentunya tidak bisa. Dengan demikian, KKN adalah sebuah penyimpangan dan perbuatan tercela dan bisa dikenakan hukum pidana.

Kelima, Blunder Over trust terhadap Luhut

Walaupun Luhut itu seorang militer bahkan berpangkat Jenderal (Purn), tetapi karena otaknya sudah tercuci oleh kepentingan oligarki taipan dan bisnis penguasa (pengpeng), maka orientasinya sudah bukan untuk negara dan kesejahteraan rakyat, tetapi hanya untuk melayani oligarki taipan, kepentingan China komunis, dan bisnis pribadi. “Wajah” Luhut adalah wajah rezim Jokowi : zhalim, selalu mementingkan oligarki taipan dan China komunis, menindas rakyat sendiri, dan keberhasilannya hanya kamuflase dan pencitraan, karena realitanya negara makin terpuruk dan diambang kehancuran. Semua cerita tentang kemajuan keberhasilan itu bohong belaka.

Semakin Jokowi cawe-cawe dipastikan keadaan negara akan bertambah ruwet dan pada akhirnya hanya akan menimbulkan bencana yang berkepanjangan. Oleh karena itu, hendaknya Jokowi setop cawe-cawenya Negara akan jauh lebih baik tanpa cawe-cawe Jokowi, bahkan jauh akan lebih baik jika semua yang tergabung dalam rezim Jokowi lengser atau dilengserkan.

Bandung, 2 Dzulhijjah 1444


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *