Beathor Bocorkan Mahfud MD akan Jadi Pendamping Ganjar Pranowo

Menteri Koordinator politik, hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Mahfud MD akan menjadi pendamping Ganjar Prabowo di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024.

“Mahfud yang didukung PPP menjadi pendamping Ganjar di Pilpres 2024,” kata Penasihat Repdem Beathor Suryadi kepada redaksi www.suaranasional.com, Sabtu (22/4/2022). “Wakil Ketua Dewan Kehormatan DPP PPP Emron Pangkapi mengajukan Mahfud menjadi calon wakil presiden untuk mendampingi capres yang diusung PDIP,” paparnya

Kata Beathor, seandainya pasangan calon (paslon) tersebut adalah Ganjar dan Mahfud, maka kegaduhan Politik ini menjadi sejuk. “Parpol-parpol yang lain ikut mendaftar untuk mendukung paslon kandidat PDIP tersebut,” jelasnya.

Ganjar-Mahfud, kata Beathor menjadikan berbagai parpol menyatakan dukungan terhadap paslon yang didukung PDIP itu. “Paslon PDIP didukung berbagai parpol bukan bentuk koalisi karena PT PDIP sudah di atas 20 persen,” tegas mantan tahan politik era Rezim Soeharto ini.

Parpol mulai mendukung paslon yang didukung PDIP Kata Beathor, karena Mahfud MD yang mendapat simpati dari masyarakat.

“Nama Mahfud di ujung kegaduhan ini mulai mendapat simpati dari berbagai kalangan masyarakat,” papar Beathor

Politikus PDIP Hamid Basyaib dalam artikel berjudul “Siapa Calon Ganjar Pranowo” mengatakan, bisa dipastikan Mahfud MD adalah yang paling dapat diterima dalam konteks berdampingan dengan tokoh PDIP Ganjar Pranowo.

Baca juga:  Soal Pakta Integritas Pj Bupati Sorong Menangkan Ganjar, Praktisi Hukum: Mahfud MD Ngawur

Preferensi terhadap Mahfud MD bukan hanya karena alasan akseptabilitas, tapi juga karena pertimbangan-pertimbangan yang lebih luas.

Kata Hamid, saat ini Mahfud MD merupakan tokoh Islam-NU-nasionalis yang semakin berwibawa, terutama karena konsistensi dan kegigihannya dalam ikhtiar menegakkan hukum dan pemerintahan yang bersih.

“Setelah selama hampir seperempat abad ia tak putus menduduki jabatan kenegaraan di tiga sayap (dua kali menteri, anggota DPR, Ketua Mahkamah Konstitusi), Mahfud MD menjadi salah satu tokoh negara yang paling senior. Bobot senioritas ini diperlukan untuk menduduki jabatan yang lebih tinggi,” tegas Hamid.

Kredensial keislamannya tidak mungkin diragukan. Ia mengerti detail-detail ajaran dan pemikiran Islam klasik hingga yang paling modern. Ia belajar Islam sejak sekolah dasar sampai hari ini. Kredensial yang kokoh ini diperlukan dalam konteks dinamika politik kita akhir-akhir ini, yang diwarnai oleh politik identitas — yang tidak akan membawa bangsa ke mana-mana kecuali ke kemunduran multifaset, seperti sudah terlalu jelas dicontohkan oleh beberapa negara.

Kata Hamid, Mahfud MD bukan hanya sangat memahami tapi juga sepenuhnya menghayati hukum dan Konstitusi, seperti antara lain terlihat dalam berbagai peristiwa besar hukum akhir-akhir ini.

“Karakter ini akan membuat pemerintahan mendatang terus berada di jalur hukum dan Konstitusi yang stabil,” tegasnya.

Baca juga:  Prof Mahfud MD Bongkar Kebobrokan Pembela LGBT

Usianya kini memasuki 66; tetapi jauh sebelumnya ia sudah selesai dengan dirinya. Dengan semakin matang usia, pengalaman dan penghayatannya atas kehidupan, ia hanya ingin mengoptimalkan seluruh kemampuannya untuk disumbangkan kepada Indonesia.

Mahfud MD, kata Hamid, tak pernah silau pada gemerlap jabatan berikut aneka privilese yang menyertainya. Baginya apa yang sudah ia capai sejauh ini telah lebih dari cukup, terutama jika diukur dari latar-belakang dan asal-usulnya di sebuah desa kecil di Sumenep, Madura.

Tetapi, sebagai santri yang menghayati esensi ajaran agama yang dianutnya dengan baik, ia tahu bahwa perjuangan tidak boleh berhenti semenit pun. Jika Sejarah memang memanggilnya, ia tahu bahwa panggilan itu tidak boleh diabaikan.

Kini, panggilan itu ditentukan oleh Ibu Megawati, sahabat dan senior yang sangat dihormatinya; juga oleh Capres Ganjar Pranowo dan semua mereka yang memiliki kata putus. Semoga mereka semua berani tegak berdiri di sisi Sejarah yang tepat.

“Mahfud MD pasti sangat membutuhkan Indonesia. Di sisi sebaliknya, barangkali — dalam konteks momen yang menentukan hari-hari ini — Indonesia lebih membutuhkan peran aktifnya di level tertinggi kenegaraan,” pungkas Hamid.