_ap_ufes{"success":true,"siteUrl":"suaranasional.com","urls":{"Home":"https://suaranasional.com","Category":"https://suaranasional.com/category/gadget/aplikasi/","Archive":"https://suaranasional.com/2017/09/","Post":"https://suaranasional.com/2017/09/24/mendagri-minta-kekerasan-pki-di-film-g30spki-dihilangkan/","Page":"https://suaranasional.com/karir/","Attachment":"https://suaranasional.com/logosn/","Nav_menu_item":"https://suaranasional.com/2016/03/11/5480/","Vecb_editor_buttons":"https://suaranasional.com/vecb_editor_buttons/baca-juga/"}}_ap_ufee
Monday , 25 September 2017
Breaking News
Home > Politik > Pemuda Aswaja: Minta Robohkan Patung Dewa Perang China, Kelompok Radikal & AntiPancsila

Pemuda Aswaja: Minta Robohkan Patung Dewa Perang China, Kelompok Radikal & AntiPancsila

Demo meminta merobohkan patung dewa perang China di Tuban (IST)

Demo meminta merobohkan patung dewa perang China di Tuban (IST)

Kelompok radikal dan anti-Pancasila yang menginginkan merobohkan patung dewa perang china Kong Co Kwan Sing Tee Koen di Tuban.

Demikian dikatakan Koordinator Pemuda Aswaja, Nur Khalim kepada suaranasional, Selasa (8/8). “Warga Tuban sendiri tidak mempermasalahkan patung itu, ini gerakan kelompok radikal dan antiPancasila,” ungkap Nur Khalim.

Kata Nur Khalim, patung dewa perang China justru mendatangkan wisatawan ke Tuban. “Wisatawan datang, ekonomi Tuban meningkat,” ungkap Nur Khalim.

Menurut Khalim, kelompok radikal dan antiPancasila sengaja ingin menghancurkan NKRI dengan isu-isu SARA.

“Tionghoa sudah menjadi bagian dari bangsa Indonesia. Dan patung itu atas swadaya masyarakat Tionghoa dan diresmikan oleh Ketua MPR Zulkifli Hasan. Ketua MPR itu simbol negara yang harus dihormati,” papar Nur Khalim.

Sekitar 300 orang yang terdiri dari puluhan elemen melakukan aksi unjuk rasa di depan gedung DPRD Jatim, jalan Indrapura Surabaya. Dalam aksinya, mereka menuntut agar patung Kong Co Kwan Sing Tee Koen yang berdiri menjulang tinggi di Tuban, segera dirobohkan.

“Keberadaan patung simbol Dewa Perang China itu, seolah-olah  tidak menghargai semangat kebangsaan Indonesia. Jelas patung itu tidak menghargai Indonesia, tidak sesuai pada tempatnya,” ujar korlap Aksi, Didik, di Surabaya, Senin (7/8).

Didik menjelaskan, patung setinggi 30 meter sangat terkesan intoleran. Sebab, keberadaan patung tersebut tidak ada historisnya dengan Indonesia. Apalagi patung raksasa itu seakan menunjukkan kecongkakan di tengah masyarakat Indonesia yang sedang menyambut peringatan HUT ke 72 kemerdekaan RI.

loading...
loading...


About Ibnu Maksum