Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Indonesia kembali memicu krisis kualitas udara di negara tetangga, Malaysia. Kabut asap lintas batas ini tidak hanya memperburuk indeks pencemaran udara, tetapi juga berdampak langsung pada kesehatan masyarakat setempat. Sejumlah klinik dan fasilitas kesehatan di Malaysia melaporkan lonjakan signifikan jumlah pasien yang mengalami masalah pernapasan akut.
Lonjakan Kasus Gangguan Pernapasan dan Terapi Nebulisasi
Peningkatan pasien berobat akibat polusi asap ini dirasakan langsung oleh sejumlah praktisi medis swasta. Banyak warga mengeluhkan gejala seperti batuk, iritasi mata dan tenggorokan, hidung tersumbat, hingga kekambuhan asma yang memburuk. Bahkan, sejumlah klinik melaporkan kenaikan permintaan terapi nebulisasi untuk meredakan saluran pernapasan yang menyempit.
Sekretaris Jenderal Federation of Private Medical Practitioners’ Associations Malaysia, dr. Eugene Chooi, mengonfirmasi bahwa penanganan medis dengan bronkodilator atau nebulisasi meningkat, terutama pada pasien yang mengalami bronkospasme berat.
Fenomena serupa diungkapkan oleh dr. Lim, seorang dokter umum di klinik swasta Malaysia. Ia mengungkapkan bahwa kliniknya kini menangani rata-rata hingga 10 pasien asma per hari untuk terapi nebulisasi. Angka ini melonjak drastis dibandingkan hari normal yang biasanya hanya menerima satu hingga dua pasien.
Iritasi Saluran Napas dan Risiko Komplikasi
Menurut para pakar kesehatan, partikel mikroskopis dalam kabut asap karhutla tidak secara langsung membawa infeksi virus. Namun, polutan tersebut bertindak sebagai iritan kuat yang merusak dinding saluran pernapasan dan memperparah penyakit paru bawaan.
Mantan Presiden Medical Practitioners Coalition Association of Malaysia, dr. Raj Kumar Maharajah, mencatat adanya kenaikan sekitar 20 persen pada jumlah pasien yang datang dengan keluhan terkait asap, termasuk iritasi kulit dan pemicu serangan asma berat.
Langkah Pencegahan dan Imbauan Kesehatan
Untuk meminimalkan dampak buruk dari kualitas udara yang tidak sehat, tenaga medis mengimbau masyarakat untuk mengambil langkah antisipasi sejak dini:
- Pantau Indeks Pencemaran Udara: Selalu periksa kualitas udara secara berkala sebelum beraktivitas.
- Batasi Aktivitas Luar Ruangan: Kurangi kegiatan fisik di luar rumah yang tidak mendesak.
- Gunakan Masker Pelindung: Pakai masker N95 atau KN95 yang pas di wajah jika terpaksa beraktivitas di luar ruangan.
- Sediakan Obat-obatan Rutin: Pastikan inhaler atau obat pereda pernapasan selalu siap digunakan.
Permintaan Masker dan Obat Tetes Mata Melonjak
Dampak kabut asap ini juga memicu lonjakan pembelian alat pelindung diri di sektor farmasi. Presiden Malaysian Community Pharmacy Guild (MCPG), Sarah Abdullah, menyebutkan bahwa permintaan masyarakat terhadap masker jenis N95, KN95, serta obat tetes mata mengalami kenaikan tajam.
Masyarakat menggejala berat—seperti sesak napas yang memburuk, nyeri dada, atau ketika inhaler biasa tidak lagi mempan—disarankan untuk segera mendatangi fasilitas kesehatan terdekat guna mendapatkan perawatan medis yang tepat.





