Skandal Penyelundupan Chip Nvidia ke China Terbongkar, CEO Ini Terancam 20 Tahun Penjara

Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) mengambil tindakan tegas terhadap sindikat perdagangan gelap teknologi tinggi. Greg Lui, seorang CEO berusia 38 tahun dari Earthmade Computer, ditangkap atas tuduhan mendalangi skema penyelundupan chip canggih buatan Nvidia ke China. Nilai transaksi ilegal ini diperkirakan mencapai lebih dari USD 300 juta.

Lui diduga memalsukan berbagai dokumen pengiriman untuk mengelabui otoritas keamanan AS. Pemerintah AS menduga kuat bahwa server-server canggih yang dikirimkan oleh perusahaan Lui pada akhirnya bermuara di China, negara yang saat ini dibatasi aksesnya terhadap teknologi AI mutakhir.

Modus Operandi: Memanfaatkan Celah Ekspor Asia Tenggara

Dalam menjalankan aksinya, Greg Lui tidak bekerja sendiri. Ia diduga kuat bekerja sama dengan jaringan ekspedisi kargo di beberapa negara Asia Tenggara, seperti Malaysia dan Singapura, untuk mengalihkan rute pengiriman. Chip pemrosesan grafis (GPU) kelas atas seperti Nvidia A100 dan H100 yang seharusnya dikirim ke destinasi legal, justru dialihkan ke Hong Kong hingga berakhir di tangan perusahaan teknologi di Hangzhou, yang dikenal sebagai pusat pengembangan kecerdasan buatan (AI) di China.

Penyelidikan FBI mengungkap bahwa Lui bertindak sangat jauh untuk menyembunyikan identitas pembeli sebenarnya. Pada salah satu transaksi pengiriman 100 unit server senilai USD 22 juta, ia menggunakan identitas palsu dengan nama fiktif ‘Jackie Lui’. Identitas ini diperoleh dari dokumen curian milik orang lain yang ia beli tiga tahun lalu untuk memuluskan transaksi bisnis ilegalnya.

Mengapa Chip Nvidia Sangat Diperebutkan?

Meskipun seri GPU A100 dan H100 bukan lagi teknologi paling mutakhir dari Nvidia, chip ini memiliki kemampuan luar biasa dalam memproses data skala besar dan melatih Large Language Models (LLM). Kemampuan inilah yang sangat dikhawatirkan oleh pemerintah Amerika Serikat.

Jika China berhasil mengamankan pasokan chip ini dalam jumlah besar, mereka dikhawatirkan dapat mempercepat lompatan teknologi kecerdasan buatan (AI) mereka secara drastis, sekaligus memperkuat sektor militer. Oleh karena itu, AS memberlakukan kontrol ekspor yang sangat ketat terhadap komponen-komponen ini.

Konsekuensi Hukum dan Sorotan Terhadap Nvidia

Akibat aksi nekatnya, perusahaan milik Greg Lui dilaporkan berhasil meraup keuntungan lebih dari USD 176 juta sepanjang tahun 2024 saja. Kini, Lui harus menghadapi konsekuensi hukum yang sangat berat. Ia dijerat dengan tiga dakwaan utama, termasuk konspirasi dan pencucian uang dengan ancaman hukuman maksimal hingga 20 tahun penjara, serta dakwaan penyelundupan dengan ancaman hukuman hingga 10 tahun penjara.

Kasus ini juga memicu tekanan publik terhadap Nvidia. Banyak pihak mempertanyakan sistem penyaringan (due diligence) internal Nvidia yang dinilai longgar karena gagal mendeteksi penipuan dokumen yang dinilai cukup kentara oleh otoritas AS. Di sisi lain, kedekatan CEO Nvidia, Jensen Huang, dengan pemerintahan Donald Trump memunculkan spekulasi mengenai pelonggaran kontrol ekspor di masa mendatang.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News