Oleh: Yunus Hanis Syam, Alumni FAI UMY
Kabar itu datang begitu tiba-tiba, nyaris tak memberi ruang bagi hati untuk bersiap. Sebuah pesan singkat di grup WhatsApp alumni Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (FAI UMY) menyampaikan berita duka: Dr. Muhammad Samsuddin, S.Ag., M.Pd. telah berpulang. Sejenak suasana terasa hening. Setengah tidak percaya, setengah lagi mencoba menerima kenyataan bahwa seorang dosen, sahabat, dan teladan telah menutup lembar pengabdiannya di dunia.
Bagi saya pribadi, almarhum bukan hanya dosen. Ia adalah sosok yang menghadirkan kehangatan di ruang-ruang kelas, menjembatani jarak antara pengajar dan mahasiswa dengan sikap ramah, senyum yang tulus, serta perhatian yang terasa begitu dekat. Kami biasa menyapanya dengan sederhana: Pak Samsuddin. Sapaan yang menyimpan rasa hormat sekaligus kedekatan emosional.
Saat saya masih menempuh studi di FAI UMY, beliau termasuk dosen muda yang energik. Cara mengajarnya hidup, komunikatif, dan menyentuh sisi kemanusiaan mahasiswa. Ia tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga menanamkan nilai—tentang kesungguhan belajar, kejujuran intelektual, dan pentingnya menjaga akhlak dalam setiap langkah kehidupan. Di balik ketegasannya sebagai pendidik, tersimpan kepedulian mendalam terhadap masa depan anak didiknya.
Banyak mahasiswa merasakan bahwa Pak Samsuddin hadir bukan hanya di ruang kuliah, tetapi juga dalam percakapan-percakapan ringan setelah kelas, dalam nasihat sederhana yang menguatkan, dan dalam doa-doa yang diam-diam ia panjatkan untuk keberhasilan para muridnya. Ia memahami bahwa pendidikan bukan hanya urusan transfer ilmu, melainkan juga proses membentuk manusia yang utuh—berilmu, beriman, dan berakhlak.
Menurut kabar yang beredar, sebelum wafat beliau sempat menjalani operasi batu ginjal. Kondisinya disebut membaik, memberi harapan bahwa beliau akan segera pulih dan kembali beraktivitas seperti biasa. Namun takdir berkata lain. Serangan stroke parah datang mendadak, menjadi penutup perjalanan hidup seorang pendidik yang sepanjang hayatnya dihabiskan untuk ilmu dan pengabdian.
Kepergian Pak Samsuddin menyisakan duka mendalam, bukan hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi civitas akademika UMY, para alumni, serta siapa pun yang pernah merasakan sentuhan kebaikannya. Sosoknya mungkin telah tiada secara fisik, tetapi jejaknya tetap hidup—dalam ilmu yang diajarkan, dalam nilai yang ditanamkan, dan dalam kenangan yang terpatri di hati para muridnya.
Seorang dosen sejati tidak diukur dari berapa lama ia hidup, melainkan dari seberapa luas manfaat yang ia tinggalkan. Dalam hal ini, Pak Samsuddin telah menorehkan warisan yang tak ternilai. Setiap mahasiswa yang ia bimbing, setiap kebaikan yang ia tanam, menjadi amal jariyah yang terus mengalir, melintasi batas waktu.
Kini beliau telah kembali kepada Sang Pemilik Kehidupan. Kita yang ditinggalkan hanya mampu menengadahkan tangan, memohonkan ampunan dan tempat terbaik di sisi-Nya.
Selamat jalan, Pak Muhammad Samsuddin.
Terima kasih atas ilmu, keteladanan, dan kasih sayang yang telah engkau berikan.
Namamu akan selalu hidup dalam doa dan kenangan kami.
Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadahmu, melapangkan kuburmu, dan menempatkanmu di surga terbaik-Nya. Aamiin.





