Brigjen (Purn) Purnomo: Jejak Sunyi Sang Perwira Intelijen dari Medan Timor Timur

Tubuhnya masih tegap meski usia terus berjalan. Bahunya lebar, sorot matanya tajam, dan tutur katanya terukur. Dialah Brigjen (Purn) Purnomo—seorang prajurit yang menapaki jalan panjang pengabdian hingga mencapai posisi strategis sebagai mantan Direktur E BAIS, bidang penggalangan intelijen. Ia juga pernah berada dalam lingkar kepemimpinan BAIS pada era Jenderal (Purn) Tyasno Sudarto.

Namun, bagi Purnomo, jabatan tinggi bukanlah puncak cerita. Justru kisah sesungguhnya terletak jauh di belakang—di masa muda penuh tempaan, di medan operasi yang sunyi, dan di ruang-ruang pengabdian yang tak banyak diketahui publik.

Purnomo merupakan lulusan Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri) tahun 1975, satu angkatan dengan Jenderal TNI (Purn) Djoko Santoso, mantan Panglima TNI. Angkatan ini dikenal sebagai generasi yang ditempa dalam masa transisi keamanan nasional, ketika stabilitas negara menjadi prioritas utama.

Selepas lulus, ia tidak langsung menikmati kenyamanan markas. Seperti banyak perwira muda lainnya, Purnomo harus menjalani penugasan lapangan dalam berbagai tim operasi. Setahun pertama menjadi fase penting—masa di mana idealisme akademi diuji oleh realitas medan tugas.

Setelah itu, ia menempuh pendidikan kecabangan infanteri. Di sinilah fondasi keprajuritan tempur benar-benar dibangun: disiplin keras, ketahanan fisik, dan kemampuan bertahan dalam kondisi ekstrem.

Baca juga:  AM Hendropriyono Sebut Pernyataan Purnawirawan TNI Terukur, Pengamat Intelijen dan Geopolitik: Tanda Perubahan Politik di Pemerintahan Prabowo

Salah satu bab paling menentukan dalam hidup Purnomo adalah penugasannya di Timor Timur. Saat itu, wilayah tersebut masih berada dalam situasi konflik bersenjata dengan kelompok Fretilin.

Ia masih muda, bahkan dikenal berambut gondrong—sebuah gambaran khas prajurit lapangan yang hidup jauh dari kenyamanan. Di hutan-hutan Timor Timur, aturan hidup berubah. Alam menjadi guru sekaligus penentu keselamatan.

Makanan tidak selalu datang dari logistik resmi. Bertahan hidup berarti memanfaatkan apa yang tersedia di sekitar: umbi-umbian, dedaunan, hingga sumber protein dari alam. Dalam kondisi seperti itulah mental seorang prajurit benar-benar ditempa—antara hidup dan mati, antara tugas dan ketahanan diri.

Bagi Purnomo, Timor Timur bukan sekadar medan operasi. Ia adalah sekolah kehidupan. Tempat di mana keberanian, kesetiaan pada negara, dan solidaritas antar prajurit menemukan makna paling nyata.

Tak lama setelah menikah, panggilan tugas kembali datang. Purnomo harus kembali ke Timor Timur—sebuah keputusan yang tidak mudah bagi seorang prajurit muda yang baru membangun keluarga.

Di sinilah letak dilema klasik seorang tentara: antara keluarga dan negara. Namun sumpah prajurit menuntut kesetiaan tanpa syarat. Ia berangkat kembali ke wilayah konflik, meninggalkan keluarga demi tanggung jawab yang lebih besar.

Pengalaman ini memperkaya perspektifnya—bahwa pengabdian bukan hanya soal keberanian di medan tempur, tetapi juga keteguhan hati menghadapi pengorbanan pribadi.

Baca juga:  Presiden Obral Info Intelijen

Seiring waktu, perjalanan karier Purnomo membawanya masuk ke ranah intelijen strategis. Pengalaman lapangan yang keras menjadi modal berharga dalam memahami dinamika keamanan, jaringan, dan operasi penggalangan.

Di BAIS, ia dipercaya mengemban tugas sebagai Direktur E bidang penggalangan—posisi yang menuntut kecermatan membaca situasi, kemampuan membangun jaringan, serta ketenangan mengambil keputusan dalam ruang sunyi yang jauh dari sorotan publik.

Berbeda dengan medan tempur yang penuh dentuman, dunia intelijen bekerja dalam senyap. Keberhasilan tidak diumumkan, kegagalan pun jarang terdengar. Namun dampaknya bisa menentukan arah kebijakan negara.

Kini, di masa purnawirawan, sosok Purnomo tetap memancarkan aura prajurit. Tegap, sederhana, dan tidak banyak bicara tentang jasa. Baginya, pengabdian kepada negara adalah kewajiban, bukan sesuatu yang perlu dibanggakan.

Generasi muda mungkin hanya mengenal nama-nama besar dalam buku sejarah. Namun di balik itu, ada sosok-sosok seperti Purnomo—perwira yang bekerja dalam diam, menapaki jalan sunyi demi menjaga kedaulatan negeri.

Kisah hidupnya mengingatkan bahwa sejarah bangsa tidak hanya ditulis oleh mereka yang berdiri di podium, tetapi juga oleh para prajurit yang berjalan jauh di hutan, bertahan dengan makanan dari alam, dan tetap setia meski harus meninggalkan keluarga.

Dan Brigjen (Purn) Purnomo adalah salah satu dari mereka.

 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News