Tolak Kompromi dengan Keluarga Jokowi!

Joko Widodo (Jokowi) telah mengkhianati PDIP demi memperpanjang kekuasaan dengan menempatkan anaknya Gibran Rakabuming Raka (Gibran) menjadi wapres mendampingi Prabowo Subianto.

“PDIP harus menolak kompromi dengan keluarga Jokowi. Mantan wali kota Solo itu telah berkhianat ke PDIP,” kata kader PDIP dekat almarhum Taufik Kiemas, Beathor Suryadi kepada redaksi www.suaranasional.com, Rabu (8/5/2025).

Beathor mengatakan, DPP PDIP harusnya segera merespon pernyataan Andi Widjojanto setelah bertemu Presiden Jokowi.

“Kami sangat terpukul, DPP tidak ada yang respon pernyataan Andi Wijayanto setelah jumpa Presiden Jokowi tentang 3 butir targetnya kalahkan paslon No 3 Ganjar-Mahfud, loloskan PSI ke Senayan dan turunkan angka kemenangan PDIP,” jelasnya.

Baca juga:  Jokowi dan Ahok Belum Berikan Ijin Pengajian Majelis Rasulullah di Monas

Keinginan Jokowi mengalahkan Paslon di Pilpres 2024 yang didukung PDIP tidak mendapat perlawanan dari elite partai berlambang Banteng Moncong Putih.

“Semua keinginan Jokowi terjadi dan terwujud tanpa perlawanan dari DPP, elit partai dan kader PDIP,” papar Beathor.

Ia juga mengkritik orang-orang yang membisiki Megawati saat kampanye Ganjar-Mahfud yang menyebut Paslon 03 akan menang satu putaran.

“Yang lucu dan menyedihkan, entah siapa yang membisiki Bu Mega, ketika pidato di GBK, sanggup menang satu putaran,” papar mantan tahanan politik era Presiden Soeharto ini.

Selain itu, Beathor mengaku heran dengan Arsjad Rasjid yang dijadikan Ketua Tim Pemenangan Nasional (TPN) Ganjar-Mahfud tetapi tidak berhasil memenangkan Paslon 03 di tingkatan provinsi manapun.

Baca juga:  Penguasa Boneka Harus Dimusnahkan dan Dihancurkan

“Kok bisa ya Arsjad Rasjid ini jadi Ketua tim dari Partai besar, tanpa dia paham tentang suasana Dapil dan TPS. Mosok Partai petarung ini kandidat Paslonnya tidak menang di 1 provinsi pun. Sangat memalukan,” tegas Beathor.

Tim inti relawan Tim Koordinasi Relawan Pemenangan Pilpres Ganjar-Mahfud (TKRPP) mayoritas Komisaris BUMN Jokowi, maka aktivitas lapangannya sangat minim dan terbatas. “Masuknya Arsjad sebagai Ketua tem dikira akan ada suntikan dana, ternyata hingga akhir ngak ada,” pungkasnya.