Lebaran Duluan, Politikus PAN Minta Warga Muhammadiyah tak Makan Minum Secara Vulgar

Warga Muhammadiyah yang lebih dulu lebaran tidak perlu memperlihatkan makan dan minum di tempat publik secara vulgar.

“Diharapkan tidak makan dan minum di sembarang tempat atau makan minum secara vulgar, sebagai bentuk penghormatan bagi masyarakat yang masih ingin menyempurnakan puasanya sampai di hari ke-30,” kata Politikus PAN Ashabul Kahfi dalam konferensi pers di Kementerian Agama, Jakarta Pusat, Kamis (20/4/2023).

Kahfi mengatakan perbedaan mengenai penetapan Hari Raya Idul Fitri antara pemerintah dengan Muhammadiyah sudah sering terjadi. Sehingga, ia berharap tidak perlu adanya perdebatan yang mengarah pada debat kusir yang tidak perlu.

“Masing-masing pihak pasti memiliki argumen syari dan ahli untuk membenarkan pandangannya,” kata Kahfi.

Kahfi menyambut baik hasil sidang isbat Kementerian Agama yang menetapkan Hari Raya Idul Fitri 1444 Hijriah jatuh pada Sabtu, 22 April 2023. Meski begitu, Kahfi meminta agar hasil sidang isbat yang berbeda dengan ormas Islam Muhammadiyah tidak dihubung-hubungkan dengan politik.

Baca juga:  Bunuh Saja Lalu Minta Maaf

“Keputusan sidang isbat ini tidak boleh dibawa kemana-mana, termasuk dibawa ke ranah politik. Hasil sidang isbat ini menurut saya justru harus dijadikan sebagai sarana untuk memperkokoh ukhuwah di kalangan umat Islam,” ujar Kahfi.

Kahfi menyatakan menghormati hasil sidang isbat tersebut. Menurut dia, sidang isbat adalah bagian dari penghormatan pemerintah terhadap umat Islam di Indonesia.

Namun, dia meminta agar warga Muhammadiyah tetap bisa menghargai masyarakat yang masih berpuasa.

“Bagi yang menetapkan lebih awal dari keputusan pemerintah, diharapkan menghormati umat Islam yang masih menyempurnakan puasanya di hari terakhir,” kata Kahfi.

Sementara itu, Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas mengimbau kepada seluruh lapisan masyarakat untuk menjunjung tinggi toleransi menyikapi perbedaan Hari Raya Idul Fitri 1444 Hijriah.

“Jika pada hari ini atau mungkin di hari besok ada perbedaan dalam pelaksanaan Idulfitri, kami berharap bahwa kita tidak menonjolkan perbedaan, tapi mencari titik temu dari persamaan yang mungkin kita miliki. kita harus memberikan toleransi,” ujar Yaqut.

Baca juga:  Penceramah Agama Diusir, Wartawan Senior: Anarki dan Anti Demokrasi

Ia menjelaskan visibilitas hilal yang menjadi syarat utama ditentukannya 1 Syawal, yakni tinggi hilal 3 derajat dan sudut elongasi 6,4 derajat. Kesepakatan ini, kata Yaqut, menjadi pedoman di empat negara ASEAN dan sudah sangat moderat.

Sementara menurut hasil tim Hisab Rukyat, hilal di seluruh wilayah Indonesia pada posisi 0 derajat 45 menit sampai 2 derajat 21,6 menit dengan sudut elongasi 1 derajat 28,2 menit sampai dengan 3 derajat 5,4 menit. Sehingga menurut hasil pemantauan tersebut, 1 Syawal belum dapat ditentukan besok.

“Berdasarkan hisab posisi hilal di seluruh Indonesia sudah di atas ufuk dan tidak memenuhi kriteria mabim baru, serta ketiadaan laporan melihat hilal. Sidang isbat secara sepakat menetapkan 1 Syawal 1444 H jatuh pada hari Sabtu, 2023 Masehi,” ujar Yaqut.