by

Sang Raja-Telinga Tuli Mata Buta

Oleh: Sutoyo Abadi (Koordinator Kajian Politik Merah Putih)

Solitudinem faciunt pacem appellant (mereka menciptakan kehancuran dan menyebutnya perdamaian)

Seorang raja hutan dalam kondisi lapar atau kenyang, yang ada dalam benaknya adalah memangsa lawan. Karena semua di luar dirinya semua adalah ancaman.

Seorang penguasa tirani pasti memiliki paling tidak sifat “mata buta telinga tuli”, dalam menatap, mendengar dan memahami realitas kondisi objektif Indonesia, terusik berbeda pendapat apalagi melawan sasaran empuk dimangsa.

Indonesia sudah dilanda krisis multi dimensi kondisinya benar benar sudah terjerembab ke titik nadir. Akibat ketidak cakapan , ambisi dan keserakahan rezim.

Tidak sadar negara sudah diambang negara gagal, mengantisipasi dinamika geo politik dunia dan gagal mengelola problematika dalam negeri. Gagal menjaga negara politik luar negeri bebas aktif. Indonesia terjepit ditengah turbulensi politik global akibat kesembronoannya.

Rezim telah kehilangan kepercayaan masyarakat mayoritas rakyat Indonesia. Korupsi merajalela dan hutang menggunung, keserakahan oligarki sudah menelikung.

Baca juga:  Awal Tahun Bencana Beruntun, Mana Relawan Gerak Cepatnya?

Bahwa subsidi dicabut, tarif kebutuhan dasar dan pajak melambung mencekik hidup rakyat ketika saya beli terus menurun. Gagal melindungi rakyatnya. Dalam kondisi keterpurukan ekonomi, enggan menghentikan IKN, kereta api cepat Jakarta Bandung, pembangunan infra struktur dan proyek mercu suar lainnya yang hanya karena hawa nafsu ambisinya

Kekuasan makin pongah, arogan, penyimpangan, kekejian, ketidak adilan, kebohongan justru ketika negara sedang berjalan sempoyongan. Dalam ketidak berdayakan, memposisikan polisi dipermak menjadi super body sebagai hammer memukul siapapun yang beroposisi atau melawan penguasa.

Anehnya rezim tidak sedikitpun merasa bersalah , bahkan makin jumawa dengan macam rekaya pencitraan, kosong rasa dan peduli “anjing menggonggong kafilah tetap berlalu” sekalipun gelombang demo sudah sampai menuntut Presiden mundur atau turun.

Tidak melihat bara sekam semakin membesar dipastikan akan berubah menjadi kekuatan revolusi sosial dan setiap saat bisa menerkamnya.

Baca juga:  Tatkala Sepak Bola Dunia Berduka

Indonesia sudah miskin peradaban, kesantunan, etika dan benar benar lepas dari nilai nilai Pancasila. Bahkan UUD 45 juga sudah di mangsa.

Roda pemerintahan semua sedang menuju jalan buntu menembus lorong terjal. Bagaikan sang raja hutan “telinga tuli mata buta” malah meminta penambahan masa jabatan.

Dalam kondisi yang gawat dan rumit, beberapa pejabat tinggi negara, luluh lantak di mamah oligarki : “In the struggle, I’m selling myself more often than not on the highest bidder purely for thrill and money” (Dalam berjuang, saya lebih sering menjual diri saya pada penawar tertinggi semata-mata untuk kesenangan dan uang)

Negara dalam bahaya, dikawal pejabat negara kekinian “enjoy live” tidak peduli kapan lagi buka saat ini menjual diri.


Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *