by

Pembunuhan Salim Kancil, Muncul Perlawanan Petani ke Rezim Jokowi

Jokowi memanfaatkan petani untuk pencitraan (IST)
Jokowi memanfaatkan petani untuk pencitraan (IST)

Terbunuhnya petani asal Lumajang, Salim Kancil karena melawan pertambangan bisa memunculkan perlawanan terhadap penguasa saat ini.

“Petani kecil Salim Kancil dibunuh, menandakan penguasa tidak ada wibawanya, ini peringatan buat Jokowi akan ada perlawanan dari para petani,” kata pengamat politik Muslim Arbi kepada suaranasional, Selasa (29/9).

Menurut Muslim, bukan hanya di Lumajang, para petani di Rembang sedang melawan adanya pabrik Semen di daerah tersebut. “Justru Gubernur Jawa Tengah dari PDIP Ganjar Pranowo yang katanya pembela wong cilik justru setuju ada pabrik semen. Perlawanan petani di sana juga sangat kuat,” ungkap Muslim.

Baca juga:  Mantan Relawan Minta Jokowi Menyerah Urus Negara

Kata Muslim, saat ini, di bawah Rezim Jokowi, para petani semakin terpinggirkan. “Berbagai kebijakan justru membuat petani makin sengsara. Petani hanya dimanfaatkan Jokowi saja untuk menaikkan popularitas,” jelas Muslim.

Sebagaimana diberitakan Harian Nasional ada pembunuhan terhadap petani Salim Kancil (46) dan penganiayaan berat terhadap Tosan (52) di Desa Selok Awar-awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

Peristiwa tragis yang dialami aktivis Forum Komunikasi Masyarakat Peduli Desa Selok Awar-awar itu terjadi pada Sabtu (26/9). Salom dan Tosan, dua dari enam petani, yang sudah diancam oknum tertentu karena sering demo menolak tambang pasir ilegal di daerahnya. Penambangan itu sudah dimulai pada awal 2014.

Baca juga:  Tak Punya Akhlak, Tim Jokowi-KH Ma'ruf Amin Catut Ulama Sepuh Madura

Ketika itu, warga mendapatkan undangan kepala desa soal sosialisasi pembuatan kawasan wisata tepi pantai Watu Pecak. Namun, hingga kini hasil sosialisasi belum pernah terealisasi. Yang terjadi justru maraknya pertambangan pasir di areal tersebut. Konsesi tambang pasir itu diduga atas nama PT Indo Modern Mining Sejahtera (PT IMMS). Secara hukum, lahan itu milik Perhutani.

Loading...
Loading...

loading...

News Feed