Oleh: Yunus Hanis Syam, Alumni FAI UMY
Ramadan selalu menghadirkan suasana yang berbeda. Linimasa media sosial mendadak berubah wajah. Unggahan sahur pertama, foto berbuka puasa, potongan ayat suci, video tadarus, hingga dokumentasi sedekah menjadi arus utama. Masjid yang biasanya lengang di luar Ramadan, kini hadir dalam bingkai Instagram, Facebook, TikTok, dan X.
Fenomena ini menghadirkan pertanyaan penting: apakah semua itu murni syiar, atau terselip hasrat ingin dipandang saleh?
Di era digital, ruang publik dan ruang privat kian tipis batasnya. Ibadah yang dahulu berlangsung dalam keheningan kini mudah beralih menjadi konten. Seseorang yang sedang itikaf di sepuluh malam terakhir, tanpa sadar merasa perlu mengabadikan momen. Tangan yang menengadah dalam doa tak jarang diikuti kamera yang siap menangkap sudut terbaik.
Niat menjadi wilayah paling sunyi sekaligus paling genting.
Syiar agama adalah perintah mulia. Islam mendorong umatnya untuk menebarkan kebaikan, mengajak pada kebenaran, dan saling mengingatkan. Dalam konteks ini, media sosial memang dapat menjadi sarana dakwah yang efektif. Banyak orang tersentuh karena melihat ajakan berbagi takjil, program sedekah, atau kajian daring.
Namun persoalannya bukan pada medianya, melainkan pada getaran batin yang menyertainya.
Ada perbedaan tipis antara mengajak dan ingin diakui. Antara memberi contoh dan ingin dipuji. Antara berbagi inspirasi dan menunggu validasi. Ketika unggahan ibadah diikuti dengan perasaan senang karena mendapat banyak pujian, di situlah alarm batin perlu berbunyi.
Riya tidak selalu hadir dalam bentuk yang kasar. Ia sering menyelinap dengan bahasa yang lembut. Seseorang mungkin berkata, “Ini untuk memotivasi teman-teman.” Tetapi di relung hati, ada harapan disebut alim, disebut dermawan, disebut rajin beribadah.
Rasulullah mengingatkan bahwa perkara kecil yang tersembunyi bisa menghapus nilai amal besar. Dalam tradisi tasawuf, para ulama menempatkan pengawasan niat sebagai fondasi utama. Tanpa keikhlasan, amal bisa kehilangan ruhnya.
Suatu sore di awal Ramadan, di sebuah masjid kampung yang sederhana, seorang pemuda duduk bersila usai tarawih. Ia membuka ponsel, memotret Al-Qur’an yang masih terbuka di hadapannya. Sudut pencahayaan diatur agar terlihat hangat. Lalu ia menuliskan keterangan: “Semoga istiqamah sampai akhir hayat.”
Beberapa menit kemudian, notifikasi berdatangan. “MasyaAllah.” “Semoga kita semua bisa seperti ini.” “InsyaAllah berkah.” Ia tersenyum.
Di sisi lain masjid, seorang bapak tua yang tak memiliki akun media sosial masih melanjutkan wiridnya dalam diam. Tak ada yang memotretnya. Tak ada yang memberi tanda suka. Tak ada komentar pujian. Hanya ada keheningan dan napas yang pelan.
Siapa yang lebih tulus? Pertanyaan ini tidak untuk menghakimi. Sebab manusia tak pernah benar-benar tahu isi hati orang lain. Akan tetapi, kisah ini menggambarkan realitas zaman: ibadah dan citra diri kerap berkelindan.
Media sosial bekerja dengan algoritma pengakuan. Ia memberi panggung, memberi sorotan, memberi angka. Angka itulah yang sering tanpa sadar menjadi ukuran keberhasilan. Bahkan keberhasilan spiritual pun bisa terdistorsi menjadi performa.
Budaya digital membentuk mentalitas tampil. Setiap orang adalah kreator, setiap momen berpotensi menjadi konten. Tidak terkecuali momen ibadah. Sementara itu, manusia memiliki kebutuhan dasar untuk dihargai dan diakui. Kombinasi keduanya menciptakan ruang rawan riya.
Ramadan, yang semestinya menjadi bulan latihan menahan diri, justru bisa berubah menjadi musim kompetisi citra kesalehan. Lomba siapa paling banyak khatam, siapa paling rutin tahajud, siapa paling aktif berbagi. Padahal amal yang paling bernilai seringkali tersembunyi.
Para ulama terdahulu banyak yang merahasiakan ibadahnya. Ada yang menangis di malam hari dan berpura-pura sakit agar orang tak tahu ia bangun untuk tahajud. Ada yang bersedekah diam-diam hingga tangan kirinya tak mengetahui apa yang diberikan tangan kanannya.
Mereka takut amalnya tercampur oleh pujian manusia.
Tulisan ini bukan vonis bahwa setiap unggahan ibadah adalah riya. Tidak semua orang yang berbagi aktivitas keagamaan sedang mencari pengakuan. Banyak yang tulus ingin mengajak. Banyak yang ingin menyebarkan semangat kebaikan.
Yang perlu dijaga adalah kejujuran terhadap diri sendiri.
Sebelum menekan tombol “unggah”, ada baiknya bertanya: Jika tidak ada yang melihat, apakah aku tetap melakukannya?
Jika tidak ada pujian, apakah aku tetap bahagia melaksanakannya? Jika tidak ada yang tahu, apakah ibadah ini tetap terasa cukup?
Pertanyaan-pertanyaan itu membantu membersihkan niat.
Ramadan adalah sekolah keikhlasan. Puasa mengajarkan kita bahwa ada ibadah yang tak terlihat manusia. Orang lain bisa saja mengira kita berpuasa, padahal kita membatalkannya diam-diam. Artinya, validasi utama bukan pada manusia, melainkan pada Allah.
Di tengah derasnya arus konten religius, mungkin kita perlu belajar menghargai keheningan. Tidak semua kebaikan harus diumumkan. Tidak semua air mata perlu direkam. Tidak semua doa perlu dipublikasikan.
Ibadah yang tersembunyi sering lebih kuat membentuk karakter. Ia membangun hubungan personal dengan Tuhan tanpa perantara sorotan publik. Dalam kesunyian itulah jiwa ditempa, bukan oleh tepuk tangan, tetapi oleh kesadaran akan kehadiran Ilahi.
Media sosial hanyalah alat. Ia bisa menjadi ladang pahala, bisa pula menjadi ladang kesia-siaan. Pilihannya ada pada niat dan cara kita menggunakannya.
Ramadan datang untuk membersihkan hati. Maka yang paling utama bukan bagaimana orang melihat ibadah kita, melainkan bagaimana Allah menilainya. Jika hati jernih, unggahan pun bisa menjadi kebaikan. Jika hati keruh, bahkan ibadah yang sunyi pun bisa ternodai.
Di ujungnya, yang menentukan bukan kamera, bukan komentar, bukan jumlah pengikut. Yang menentukan adalah keikhlasan yang mungkin hanya kita dan Tuhan yang benar-benar mengetahuinya.




