Romli Awaludin: Jalan Panjang Pemuda Desa Takeranklating Lamongan Menuju Kepemimpinan Berintegritas

Di tengah riuhnya dinamika politik nasional menuju 2027, sebuah nama mulai bergema dari pelosok Kabupaten Lamongan. Bukan dari gedung-gedung kekuasaan, melainkan dari Desa Takeranklating, Kecamatan Tikung. Namanya Romli Awaludin—pemuda desa yang tumbuh dari tradisi, ditempa oleh organisasi, dan kini siap melangkah lebih jauh membawa gagasan perubahan.

Romli bukan sosok instan. Jalan hidupnya adalah potret panjang pengabdian sosial, keagamaan, dan kebangsaan yang dimulai sejak usia muda. Ia hadir sebagai representasi pemuda desa yang tidak sekadar kritis, tetapi juga berani mengambil tanggung jawab.

Lahir dan besar di lingkungan Nahdlatul Ulama yang kental, Romli Awaludin akrab dengan nilai gotong royong, kemandirian, dan kedisiplinan sejak dini. Lingkungan desa membentuknya menjadi pribadi yang membumi, sementara organisasi membentuknya menjadi pemimpin.

Sejak tahun 2006, Romli telah mengabdikan diri sebagai anggota Banser NU, sebuah pilihan yang menuntut loyalitas, keberanian, dan kesiapan berkorban. Selama bertahun-tahun, ia berada di garda terdepan menjaga keamanan kegiatan keagamaan dan sosial masyarakat. Bagi Romli, Banser bukan sekadar seragam, melainkan sekolah karakter.

“Di Banser, kami diajarkan bahwa menjaga umat dan bangsa adalah panggilan moral,” ujar Romli suatu ketika.

Jejak kepemimpinan Romli semakin nyata ketika ia dipercaya memimpin PAC IPNU Kecamatan Tikung (2005–2007). Di usia yang relatif muda, ia membina kader-kader pelajar NU, menanamkan nilai kepemimpinan, disiplin organisasi, dan cinta tanah air. Masa ini menjadi fondasi kuat bagi kepemimpinan Romli di kemudian hari.

Baca juga:  Warga Lamongan Mengeluh Krisis Air Bersih, PDAM Dinilai Lalai Beri Informasi

Karier organisasinya berlanjut di GP Ansor, organisasi kepemudaan yang dikenal progresif dan responsif terhadap isu sosial. Ia menjabat sebagai Pengurus Harian PAC GP Ansor Kecamatan Tikung Bidang Sosial Kemasyarakatan (2017–2018). Di posisi ini, Romli aktif menginisiasi berbagai program sosial—mulai dari bantuan warga kurang mampu, respon bencana, hingga penguatan solidaritas antarwarga desa.

Puncaknya, Romli dipercaya sebagai Ketua Ranting GP Ansor Desa Takeranklating (2018–2020). Di bawah kepemimpinannya, Ansor desa tidak hanya hidup secara administratif, tetapi menjadi motor kegiatan sosial dan keagamaan yang nyata dirasakan masyarakat.

Tak berhenti di ranah sosial, Romli juga terlibat langsung dalam sistem pemerintahan desa. Pada tahun 2012, ia menjadi Anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Takeranklating. Peran ini membuka ruang baginya untuk memahami tata kelola desa, dinamika anggaran, serta pentingnya transparansi dan akuntabilitas publik.

Pengalaman di BPD memperkuat pandangannya bahwa kemajuan desa tidak cukup hanya dengan niat baik, tetapi harus ditopang oleh sistem yang bersih dan partisipatif.

“Desa harus dikelola dengan jujur dan terbuka. Anggaran desa adalah amanah rakyat, bukan milik segelintir orang,” tegasnya.

Baca juga:  Aksi Sopir Lumpuhkan Jalur Sukodadi-Gresik, Tuntut Hentikan ODOL dan Revisi UU LLAJ

Memasuki tahun politik 2027, nama Romli Awaludin mulai diperbincangkan sebagai figur pemuda potensial. Namun ia menolak disebut sekadar ambisius. Baginya, politik adalah alat pengabdian, bukan tujuan.

“Saya siap mengguncang 2027 bukan dengan kata-kata semata, melainkan aksi nyata untuk desa kita. Pemuda Takeranklating harus menjadi pelopor perubahan—menguatkan gotong royong, memperjuangkan transparansi anggaran, dan membangun desa yang maju dan berdaulat,” ujar Romli kepada awak media.

Komitmennya mencakup isu-isu krusial desa: kemiskinan struktural, akses pendidikan, pemberdayaan pemuda, serta tata kelola keuangan desa yang bersih. Ia meyakini bahwa perubahan besar selalu dimulai dari desa.

Kehadiran Romli Awaludin menjadi inspirasi bagi banyak pemuda Desa Takeranklating dan Kecamatan Tikung. Ia membuktikan bahwa pemuda desa tidak harus meninggalkan akar untuk bermimpi besar. Justru dari desa, kepemimpinan autentik lahir.

Di tengah tantangan zaman—ketimpangan pembangunan, apatisme politik, dan krisis kepercayaan publik—Romli tampil sebagai simbol harapan baru: pemimpin muda yang berangkat dari nilai, bergerak dengan integritas, dan menatap masa depan dengan keberanian.

Masyarakat Takeranklating patut berbangga. Dari desa kecil ini, lahir sosok pemuda unggul yang siap berkontribusi bukan hanya untuk Lamongan, tetapi juga untuk Indonesia. Pewarta: Hadi Hoy

 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News