Oleh: Yunus Hanis Syam, Alumni FAI UMY
Keluarga Alumni Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (KAUMY) telah menyelenggarakan Musyawarah Nasional (Munas) ke-8. Forum tertinggi alumni ini semestinya menjadi ruang konsolidasi gagasan, penguatan jejaring, serta peneguhan peran strategis alumni UMY bagi kampus, persyarikatan, dan bangsa. Namun, harapan itu justru berbanding terbalik dengan realitas yang terjadi.
Terpilihnya Nasarudin sebagai Ketua Umum KAUMY melalui Munas ke-8 memang disambut dengan pemberitaan positif di sejumlah media online. Narasi yang dibangun seolah menggambarkan KAUMY sebagai organisasi alumni yang solid, mapan, dan terpandang. Sayangnya, citra tersebut tidak mencerminkan kondisi internal yang sesungguhnya. Di balik kemasan pemberitaan, KAUMY justru memperlihatkan gejala rapuh dan krisis serius yang mengancam masa depannya.
Penyelenggaraan Munas KAUMY ke-8 patut dipertanyakan secara organisatoris. Proses yang seharusnya menjunjung tinggi prinsip transparansi, partisipasi, dan akuntabilitas justru dinilai penuh kecacatan. Munas bukan lagi menjadi forum musyawarah kolektif alumni, melainkan terkesan dijadikan batu loncatan ambisi pribadi dan kelompok tertentu.
Dalam organisasi alumni, Munas seharusnya menjadi ruang refleksi dan evaluasi kinerja kepengurusan sebelumnya. Apa yang telah dilakukan? Apa kontribusi nyata alumni bagi almamater dan masyarakat? Namun pertanyaan-pertanyaan mendasar itu nyaris tak terdengar gaungnya. Munas berlalu tanpa pertanggungjawaban yang jelas, tanpa arah strategis yang terukur, dan tanpa agenda besar yang menjawab tantangan alumni ke depan.
Jika sejak proses awal sudah bermasalah, maka wajar jika publik alumni mempertanyakan legitimasi moral dan organisatoris hasil Munas tersebut.
Fakta yang paling memprihatinkan adalah minimnya kontribusi nyata KAUMY selama ini. Sebagai organisasi alumni dari salah satu universitas Muhammadiyah terbesar, KAUMY seharusnya memiliki daya tawar dan peran strategis:
1. Menjadi jembatan antara alumni dan kampus
2. Mendukung pengembangan akademik, riset, dan mahasiswa
3. Menguatkan jejaring profesional dan kewirausahaan alumni
4. Menjadi kekuatan moral dan intelektual dalam isu kebangsaan
Namun realitasnya, KAUMY nyaris tak terdengar kiprahnya. Tidak ada program unggulan yang berkelanjutan, tidak ada advokasi alumni, bahkan tidak tampak peran signifikan dalam membantu UMY menghadapi tantangan zaman. Organisasi ini seolah hanya hidup di atas kertas dan aktif saat momentum politik internal berlangsung.
Yang lebih mengherankan dan sekaligus mengecewakan adalah sikap diam para alumni UMY yang kini bekerja di lingkungan kampus, baik sebagai dosen maupun karyawan. Sebagai kaum intelektual, mereka seharusnya menjadi suara moral dan penyeimbang dalam dinamika organisasi alumni.
Diamnya mereka menimbulkan tanda tanya besar:
Apakah karena takut?
Apakah karena merasa tidak memiliki kepentingan?
Ataukah karena sudah terbiasa dengan budaya organisasi yang stagnan?
Jika kaum terdidik memilih bungkam di tengah persoalan organisasi, maka krisis bukan hanya terjadi pada KAUMY, tetapi juga pada etos intelektual alumni itu sendiri.
Peribahasa Arab “wala mauta wala haya”—tidak mati dan tidak hidup—sangat tepat menggambarkan kondisi KAUMY hari ini. Organisasi ini tidak benar-benar mati karena masih ada struktur, nama besar, dan klaim legitimasi. Namun ia juga tidak hidup karena tidak memiliki denyut gerakan, visi kolektif, dan kontribusi nyata.
Dalam kondisi seperti ini, KAUMY berada di ambang kehancuran, bukan karena serangan dari luar, melainkan karena pembusukan dari dalam:
-Krisis kepemimpinan visioner
-Lemahnya budaya kritik dan evaluasi
-Dominasi kepentingan pribadi
-Hilangnya idealisme alumni
Jika KAUMY ingin diselamatkan, maka diperlukan keberanian kolektif untuk melakukan koreksi total. Alumni harus berani bersuara, menuntut transparansi, dan mendorong reformasi organisasi. Kepemimpinan KAUMY ke depan tidak cukup hanya bermodal legitimasi formal Munas, tetapi harus dibuktikan dengan kerja nyata, keterbukaan, dan keberpihakan pada kepentingan alumni secara luas.
Jika tidak, maka KAUMY akan terus terjebak dalam ruang hampa—hidup segan, mati tak mau—hingga akhirnya benar-benar ditinggalkan oleh alumni yang seharusnya menjadi kekuatan utamanya.





