Oleh: Ahmad Basri: K3PP Tubaba
Jangan salahkan rakyat jika pada akhirnya mencari jalannya sendiri dalam menegakkan kebenaran dan keadilan. Ketika suara mereka dibungkam, ketika jeritannya tak lagi didengar, ketika hukum hanya berpihak pada yang berkuasa, maka jangan heran bila rakyat menempuh jalannya sendiri.
Dalam kondisi rakyat marah dan kecewa, khotbah moral dari para tokoh agama tak lebih dari retorika kosong yang tak lagi memiliki makna. Kata – kata bijak tak lagi punya daya guna di telinga rakyat yang sudah tercekik oleh ketidakadilan dan ketidakpastian hidup.
Hari ini kita menyaksikan bagaimana kemarahan rakyat tidak lagi bisa diredam oleh janji manis maupun kata “maaf” dari penguasa. Bola api kemarahan itu kini bergerak cepat, menyala dari satu titik ke titik lain, menyambar rumah pejabat, kantor dewan, hingga simbol-simbol kekuasaan yang dianggap penuh kesombongan.
Mereka para wakil rakyat dan pejabat publik dilihat sebagai simbol keangkuhan dan oleh karena itu “wajib” diberi pelajaran. Pelajaran agar mereka sadar, tahu diri dan tahu malu bahwa kursi empuk yang mereka duduki berasal dari kedaulatan rakyat suara rakyat.
Sejarah bangsa Indonesia penuh dengan catatan bagaimana rakyat bergerak sendiri ketika negara tak lagi peduli. Reformasi 1998 lahir bukan karena kebaikan hati penguasa melainkan karena rakyat sudah tak tahan lagi hidup di bawah represi politik dan ekonomi.
Rakyat selalu menemukan jalannya sendiri. Mereka bisa marah, mereka bisa bersatu dan ketika itu terjadi, tak ada aparat maupun aturan yang bisa menghentikan gelombang tersebut. Semuanya hanya bisa terdiam membisu.
Mari kita saksikan hari ini di media sosial sebuah amuk massa, protes kolektif, penghancuran simbol kekuasaan adalah refleksi telanjang bahwa negara gagal menjadi penjamin keadilan bagi rakyat.
Hukum yang seharusnya menjadi pelindung justru berubah menjadi alat kekuasaan. Aparat lebih sigap melindungi kepentingan elite ketimbang melindungi rakyat yang tertindas.
Ini semua menunjukkan krisis legitimasi yang dalam. Bagaimana rakyat bisa berharap keadilan jika lembaga yang mengatasnamakan mereka justru sibuk memperkaya diri.
Ketika Hukum sudah tidak lagi bisa diharapkan maka rakyat pun mengambil hukum ke tangan mereka sendiri. Inilah yang disebut peradilan jalanan. Peradilan jalanan sering kali destruktif. Dibaliknya itu ada pesan yang jauh lebih kuat bahwa rakyat sudah muak, rakyat sudah kehilangan kepercayaan dan rakyat tidak akan diam.
Kemarahan rakyat tidak datang begitu saja. Lahir dari kontras mencolok antara kehidupan mewah pejabat dan penderitaan rakyat sehari-hari.
Saat rakyat antri minyak, pejabat pamer mobil mewah. Saat rakyat menjerit harga kebutuhan pokok, pejabat menggelar pesta pernikahan mewah. Ketidakpekaan inilah yang menjadi bensin bagi api kemarahan rakyat.
Rakyat bisa memaafkan kesalahan namun rakyat tidak bisa memaafkan kesombongan. Kemarahan mereka bukan semata karena lapar namun karena rasa harga diri diinjak – injak
Para pejabat lupa bahwa legitimasi kekuasaan lahir dari rakyat bukan dari harta atau kekayaan yang mereka miliki. Mereka lupa bahwa mandat rakyat bukanlah tiket untuk hidup bermewah-mewah melainkan amanah untuk melayani.
Jangan salahkan rakyat bila akhirnya memilih jalannya sendiri. Ketika sistem hukum dan politik tertutup rakyat membuka jalannya sendiri. Rakyat punya caranya sendiri.
Kemarahan rakyat adalah peringatan keras bagi negara. Peringatan itu sebuah alarm yang berbunyi nyaring yang menandakan bahwa ada yang salah dalam tubuh kekuasaan. Sayangnya banyak pejabat justru memilih menutup telinga.
Memang jalan yang dipilih rakyat tidak selalu indah. Amuk massa bisa berujung pada kekerasan dan kerusakan. Peradilan jalanan bisa menghancurkan tatanan hukum. Tapi harus diingat bahaya terbesar justru bukan terletak pada kemarahan rakyat melainkan pada penguasa tidak adil.
Jangan salahkan rakyat bila mereka memilih jalannya sendiri untuk menegakkan kebenaran dan keadilan. Jangan salahkan mereka bila rumah pejabat menjadi sasaran amarah.
Jangan salahkan mereka bila lembaga negara ditolak legitimasinya. Karena semua itu hanyalah cermin dari kegagalan negara menjalankan fungsinya.
Hari ini sekali lagi rakyat memilih jalannya sendiri. Jalan yang keras, jalan yang penuh risiko, sekaligus jalan yang menunjukkan bahwa mereka tidak akan diam menghadapi ketidakadilan.
Pertanyaannya kini apakah penguasa mau mendengar dan berbenah.atau justru menunggu bola api kemarahan itu melahap semuanya menghancurkan semua?
Kata karl marx bapak marxisme. Lawan dan hancurkan jika kamu tertindas oleh kekuasaan yang zalim dan jangan diam. Diammu menandakan dirimu kalah dan menyerah. Dan jangan sampai diammu bagian dari penindasan.