Anarkisme Ucapan Anggota DPR

Oleh: Muhammad Yunus Hanis Syam, Pegiat Sosial dan Budaya

Ada satu hal yang belakangan ini lebih ramai daripada konser musik, lebih seru dari sinetron, bahkan lebih menghibur dari stand-up comedy: ucapan-ucapan anggota DPR. Kita mungkin sudah terbiasa mendengar janji politik yang tak terpenuhi, tetapi rupanya ada varian baru yang lebih memikat: anarkisme ucapan.

Ya, anarkisme yang biasanya kita dengar terkait dengan kerusuhan jalanan, lempar batu, atau aksi massa, kini bermigrasi ke ruang rapat megah berpendingin ruangan: Gedung DPR RI. Bedanya, di sini tak ada gas air mata, hanya kata-kata yang meledak, liar, dan tanpa kendali rasa malu.

Beberapa anggota dewan merasa rumah dinas itu tak cukup representatif. Mereka menginginkan tambahan uang rumah, bahkan dengan nominal yang bisa membuat rakyat kecil mendadak pingsan. Bagi mereka, rumah bukan sekadar tempat tinggal, tetapi simbol martabat. Apa artinya jadi wakil rakyat jika sofa tidak dari impor Italia, karpet tidak tebal seperti hotel bintang lima, atau garasi tidak muat untuk tiga mobil?

Mungkin mereka lupa, di luar sana banyak rakyat yang masih berjuang membayar kontrakan sempit dengan genteng bocor, bahkan ada yang tidur di kolong jembatan. Tapi jangan khawatir, ucapan mereka ini pasti lahir dari semangat empati. Empati kepada diri sendiri.

“Jangan Samakan Kami dengan Orang Miskin”

Pernyataan lain yang tak kalah gemilang adalah ketika ada anggota dewan yang terang-terangan berkata, “Kami tidak bisa disamakan dengan orang miskin.” Kalimat itu bisa langsung masuk buku pelajaran satire nasional.

Baca juga:  KPK Panggil 2 Anggota DPR Terkait Korupsi CSR BI

Kalimat ini seperti mempertegas bahwa garis pemisah antara “kami” dan “mereka” begitu tebal. Rakyat yang memilih mereka mungkin hanya dianggap alat pengantar menuju kursi empuk. Seolah-olah kemiskinan adalah aib yang bisa menular hanya dengan disamakan.

Ironisnya, tanpa orang miskin yang berbaris di TPS, mungkin mereka tak akan pernah merasakan gaji bulanan jumbo, tunjangan setebal kitab suci, dan fasilitas yang lebih lengkap daripada paket liburan Eropa.

“Kami Butuh Tambahan Uang, Gaji Tidak Cukup”

Satu lagi fragmen anarkisme ucapan datang dari mereka yang mengeluh gaji anggota DPR tak cukup. Bayangkan, gaji puluhan juta per bulan, tunjangan berderet, fasilitas kesehatan kelas satu, hingga kunjungan kerja yang sering disalahpahami sebagai wisata politik, masih dirasa kurang.

Kalau gaji mereka saja tidak cukup, bagaimana dengan pedagang kaki lima yang penghasilannya tak sampai sejuta per bulan? Bagaimana dengan buruh yang upah minimumnya sering dijadikan bahan tawar-menawar politik? Apakah itu berarti rakyat seharusnya tidak hidup sama sekali?

Ucapan ini sesungguhnya bukan sekadar keluhan, tapi karya seni. Seni meracik kalimat yang bisa membuat rakyat menganga, antara ingin tertawa atau menangis.

Anarkisme Ucapan: Lebih Berbahaya dari Anarkisme Jalanan

Kenapa saya menyebut ini anarkisme ucapan? Karena ucapan-ucapan ini tidak lahir dari kesadaran kolektif untuk membangun, tapi dari ego pribadi yang liar. Kata-kata ini bukan sekadar keluar dari mulut, tapi juga merusak tatanan logika dan rasa keadilan sosial.

Baca juga:  Penembakan WNI di Malaysia, Pimpinan DPR Kritik Kinerja Kementerian P2MI

Jika anarkisme jalanan bisa merusak kaca gedung, anarkisme ucapan bisa merusak moral publik. Kata-kata pejabat punya bobot; ia bisa menjadi teladan, tapi juga bisa menjadi racun. Sayangnya, racun itu kini ditawarkan gratis setiap kali ada konferensi pers atau rapat terbuka.

Pada akhirnya, rakyat tidak bisa berbuat banyak selain menjadi penonton setia reality show politik ini. Mereka menonton, mengelus dada, kadang tertawa getir, kadang geleng-geleng kepala. Bedanya, reality show di televisi biasanya ada skrip, sedangkan anarkisme ucapan para anggota dewan ini lahir spontan—langsung dari hati yang “murni”.

Namun, mari kita akui, mungkin inilah hiburan paling konsisten yang diberikan DPR kepada rakyat: lawakan tanpa tiket masuk.

Seorang filsuf pernah berkata, ucapan adalah cermin jiwa. Jika ucapan-ucapan anggota DPR kita adalah bentuk anarkisme, maka kita patut bertanya: seperti apa jiwa yang tercermin dari mereka?

Di tengah rakyat yang berjuang keras untuk sekadar bertahan hidup, ucapan-ucapan mereka seolah menampar nalar dan nurani. Dan entah bagaimana, mereka tetap bisa menyampaikannya dengan wajah serius, seakan tak ada yang salah.

Mungkin inilah puncak pencapaian: ketika anarkisme ucapan berhasil dilembagakan, dimuliakan, bahkan disiarkan ke publik dengan percaya diri. Kita, rakyat, hanya bisa berkata: “Selamat menikmati tontonan, semoga tidak lupa bahwa di balik kata-kata itu, ada perut-perut kosong yang menunggu janji ditepati.”

 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News