Oleh : Kurtubi, Forum Ulama, Akademisi & Tokoh Masyarakat Banten
Sedikit penulis akan memberikan gambaran bahwa peristiwa geger cilegon adalah peristiwa yang paling menggemparkan di wilayah banten pada jaman kolonial Belanda, dimana terjadinya pemberontakan rakyat banten terhadap ketidak adilan dan kesewenang wenangan yang dialami rakyat banten pada umumnya, peritiwa geger cilegon terjadi pada tahun 1888.
Atas peristiwa geger cilegon, banyak pejabat pejabat yang diberhentikan, salah satunya adalah bupati serang yakni panji ganda kusuma yang kemudian digantikan oleh sutadiningrat purwa yang sekaligus menjadi bupati ke 6.
Penulis mencatat dalam sejarahnya bahwa bupati serang pertama adalah pujapar Ardi sartika yg berkuasa pada tahun 1816 sd 1827, sekitar 11 tahun bupati pertama serang menjalankan jabatannya sebagai bupati serang pertama. Bupati kedua adalah agus jayakusuma ningrat 1827 sd 1840, kemudian bupati ketiga serang adalah mandura Jayanegara 1840 sd 1848, lalu bupati serang ke empat adalah Basukin candranegara. Pada tahun 1870 diangkatlah bupati serang kelima yakni panji ganda kusuma dan diberhentikan pada tahun 1888. Menariknya pergantian bupati kelima yakni panji ganda kusuma ini disinyalir bahwa bupati ke lima ini tidak menceritakan kepada residen banten ttg peristiwa geger cilegon yang terjadi pada tahun 1888.
Perlu diketahui bahwa cilegon dahulunya adalah masih merupakan bagian dari wilayah kabupaten serang.
Ada hal yg menarik yakni ketika bupati serang setelah lemerdekaan Republik Indonesia yakni bupati safarudin yang menjabat bupati serang pada tahun 1968 sd 1974, kemudian pasca bupati safarudin selesai menjalankan jabatannya, diangkatlah PJ alias penjabat bupati serang yakni Ronggo Waluyo.
Pada saat penjabat bupati serang inilah munculnya pembangunan pertamanya Krakatau Steel.
Pembangunan pabrik Krakatau Steel berjalan dengan baik karena adanya kompromi dan kesepakatan kesepakatan dengan para tokoh banten dalam hal pembangunan.
Lalu, bagaimana dengan yang terjadi sekarang?? Pembangunan PIK2 di wilayah pesisir tangerang utara dan serang utara!!
Pembangunan PIK2 di wilayah pesisir tangerang utara sampe serang utara menimbulkan gejolak protes oleh para tokoh, ulama dan masyarakat banten secara umum. Penolakan demi penolakan terus di gaungkan oleh masyarakat banten dalam pembanguan proyek PIK2 tersebut.
Dengan adanya penolakan secara masif terhadap proyek PIK2, akankah menimbulkan sejarah yang berulang pada tahun 1888 ??
Peristiwa geger cilegon menjadi simbol sebuah perjuangan masyarakat di wilayah banten terhadap adanya kedzoliman, namun peristiwa serupa rasanya tidak akan terjadi di jaman sekarang ini karena banyak faktor penyebabnya, akan tetapi tidak menutup kemungkinan adanya peritiwa perlawanan masyarakat banten terhadap proyek PIK2 berupa kekuatan massa dalam menolak PIK2 dengan semangat perlawanan. Masyarakat banten tidak anti pembangunan, masyarakat banten tidak anti investasi, selama investasi dan pembangunan di wilayah wilayah banten dilakukan dengan menjunjung tinggi dan menghormati hak hak masyarakat serta tidak mengancam sebuah kedaulatan wilayah pesisir banten, karena hakekatnya kedaulatan wilayah itu ada dua yakni kedaulatan di laut dan pesisir, yang kedua adalah kedaulatan wilayah darat.
Satu hal yang memamg perlu difahami bahwa perlawanan rakyat banten hanya akan terjadi bila adanya kolaborasi oleh para ulama dan tokoh tokoh banten serta tokoh tokoh aktivis diluar banten yang memegang teguh nilai nilai sebuah perjuangan.