Oleh: Rokhmat Widodo, Pemerhati literasi dan Kader Muhammadiyah Kudus
Perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI), telah mengubah banyak aspek kehidupan manusia, termasuk profesi pustakawan. Dahulu, pustakawan adalah pilar utama dalam dunia informasi dan pengetahuan, berperan sebagai penjaga dan pengelola sumber daya informasi di perpustakaan. Namun, seiring dengan semakin majunya AI dan sistem otomatisasi, peran pustakawan dipertanyakan: apakah profesi ini masih relevan atau akan hilang tertelan zaman?
Perpustakaan, yang dulu identik dengan rak buku yang penuh sesak dan katalog kartu manual, kini telah bertransformasi menjadi entitas digital. Sistem pencarian berbasis AI memungkinkan pengguna menemukan buku atau jurnal yang mereka butuhkan dalam hitungan detik tanpa bantuan pustakawan.
Google Scholar, OpenAI, dan database jurnal ilmiah otomatis seperti Scopus dan IEEE Xplore, semakin mengurangi ketergantungan terhadap peran pustakawan dalam membantu pencarian informasi akademik.
Selain itu, perpustakaan digital seperti Perpustakaan Nasional RI Digital Library (iPusnas), Project Gutenberg, dan Google Books telah menggantikan banyak fungsi perpustakaan fisik. Kini, masyarakat bisa mengakses ribuan buku hanya dengan beberapa klik, tanpa harus datang ke perpustakaan atau berinteraksi dengan pustakawan.
AI telah mengambil alih berbagai tugas pustakawan dengan keunggulan yang sulit disaingi manusia:
Pertama, pencarian dan pengelolaan informasi yang lebih cepat. AI dapat mengindeks, mengkategorikan, dan merekomendasikan buku atau jurnal dengan presisi tinggi. Teknologi Natural Language Processing (NLP) memungkinkan mesin memahami konteks pertanyaan pengguna dan memberikan hasil yang lebih relevan dibandingkan pencarian manual.
Kedua, layanan rekomendasi otomatis. Dengan algoritma pembelajaran mesin, AI dapat menganalisis pola pencarian pengguna dan memberikan rekomendasi bacaan yang dipersonalisasi, seperti yang dilakukan oleh Amazon Kindle atau Google Play Books.
Ketiga, chatbot pengganti pustakawan. Banyak perpustakaan telah mengadopsi chatbot berbasis AI untuk menjawab pertanyaan umum, membimbing pengguna dalam mencari informasi, atau bahkan membantu mereka memahami referensi akademik. Chatbot ini bekerja 24/7, tanpa istirahat atau batasan waktu kerja.
Keempat, pemrosesan dan analisis data perpustakaan. AI juga digunakan untuk menganalisis tren peminjaman buku, mengelola katalog secara otomatis, dan mengoptimalkan manajemen perpustakaan berdasarkan kebutuhan pengguna. Dengan analitik berbasis AI, perpustakaan dapat lebih efisien dalam mengelola koleksi mereka.
Dengan kemajuan AI, profesi pustakawan semakin terpinggirkan. Beberapa indikator yang menunjukkan potensi kepunahan profesi ini meliputi:
Pertama, menurunnya permintaan pustakawan tradisional. Di banyak negara, jumlah pustakawan yang dipekerjakan semakin berkurang karena perpustakaan lebih memilih menginvestasikan dana mereka dalam sistem digital dan AI.
Kedua, minat generasi muda yang berkurang. Profesi pustakawan tidak lagi menarik bagi generasi muda yang lebih tertarik pada bidang teknologi dan data science. Jurusan ilmu perpustakaan pun mengalami penurunan peminat di berbagai universitas.
Ketiga, otomatisasi layanan perpustakaan. Perpustakaan yang telah bertransformasi ke sistem digital lebih sedikit membutuhkan tenaga pustakawan. Bahkan, beberapa perpustakaan modern di negara maju telah menghapus hampir semua staf pustakawan dan menggantinya dengan sistem otomatis.
Keempat, kurangnya adaptasi pustakawan terhadap teknologi. Banyak pustakawan masih bertahan dengan cara kerja konvensional dan kurang mengembangkan keterampilan digital mereka. Jika tidak segera beradaptasi, mereka akan semakin tertinggal.
Meskipun AI telah mengubah wajah perpustakaan, bukan berarti profesi pustakawan sepenuhnya tidak relevan. Justru, pustakawan yang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi masih memiliki peluang untuk tetap bertahan. Beberapa strategi yang bisa dilakukan antara lain:
Pertama, menjadi pustakawan digital. Pustakawan perlu mengembangkan keterampilan dalam mengelola perpustakaan digital, memahami metadata, serta memanfaatkan teknologi AI untuk meningkatkan efisiensi kerja mereka.
Kedua, menguasai data science dan AI. Dengan memahami teknologi seperti machine learning, database management, dan analisis data, pustakawan bisa berkontribusi dalam mengembangkan sistem informasi perpustakaan yang lebih canggih.
Ketiga, memfokuskan diri pada literasi Informasi. Di era banjir informasi dan hoaks, pustakawan dapat berperan sebagai pendidik yang mengajarkan keterampilan literasi informasi kepada masyarakat, membantu mereka membedakan informasi kredibel dari yang tidak.
Keempat, kolaborasi dengan teknologi, bukan melawannya. Pustakawan yang bisa bekerja sama dengan AI, misalnya dalam mengembangkan chatbot perpustakaan atau sistem rekomendasi buku berbasis AI, akan tetap memiliki peran yang signifikan.
Profesi pustakawan memang menghadapi ancaman nyata dari AI dan otomatisasi. Namun, bukan berarti profesi ini akan hilang sepenuhnya. Mereka yang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan mengubah peran mereka menjadi lebih relevan dengan kebutuhan zaman masih memiliki peluang besar untuk bertahan. Pustakawan masa depan bukan hanya penjaga buku, tetapi juga ahli informasi digital, analis data, dan pendidik literasi informasi.
Pertanyaannya sekarang, apakah para pustakawan siap untuk beradaptasi, atau justru akan tertinggal dan tergantikan oleh AI?