Oleh: Rokhmat Widodo, Pengajar SMK Luqmanul Hakim Kudus, Kader Muhammadiyah Kudus
Setiap tahun, umat Islam di berbagai belahan dunia sering menghadapi perbedaan dalam menentukan awal bulan Ramadan. Perbedaan ini disebabkan oleh perbedaan metode dalam penetapan awal bulan, yaitu metode rukyat (pengamatan hilal) dan metode hisab (perhitungan astronomi). Di Indonesia, perbedaan ini kadang-kadang menyebabkan sebagian umat Islam memulai puasa pada hari yang berbeda.
Namun, apakah perbedaan ini seharusnya menjadi pemicu perpecahan di antara sesama Muslim? Dalam Islam, ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam) adalah prinsip utama yang harus dijaga. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menyikapi perbedaan ini dengan bijak dan tetap mengutamakan persatuan umat.
Islam menempatkan ukhuwah Islamiyah sebagai pilar utama dalam kehidupan bermasyarakat. Al-Qur’an dan hadits Nabi Muhammad banyak mengajarkan pentingnya persaudaraan dan larangan perpecahan.
Al-Qur’an menyerukan persatuan umat. “Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuh-musuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara…” (QS. Ali Imran: 103)
Ayat ini menegaskan bahwa persatuan dalam Islam adalah nikmat dari Allah yang harus dijaga. Berpegang teguh pada tali Allah berarti mengikuti ajaran-Nya dengan penuh keikhlasan dan menghindari segala bentuk perpecahan.
Rasulullah melarang umat Islam saling bertikai. “Janganlah kalian saling membenci, jangan saling mendengki, jangan saling membelakangi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara…” (HR. Muslim no. 2563)
Hadits ini menekankan pentingnya menjaga hubungan baik sesama Muslim, termasuk dalam menghadapi perbedaan dalam hal ibadah seperti awal Ramadan.
Dalam sejarah Islam, para sahabat Rasulullah juga sering mengalami perbedaan dalam hal fiqih, tetapi mereka tetap menjaga ukhuwah. Rasulullah bersabda: “Perbedaan pendapat di antara umatku adalah rahmat.” (HR. Al-Baihaqi dalam Al-Madkhal, no. 209)
Perbedaan dalam menentukan awal Ramadan seharusnya disikapi sebagai bagian dari kekayaan khazanah Islam, bukan sebagai pemicu perpecahan.
Mengapa Ada Perbedaan Awal Puasa?
Perbedaan dalam penetapan awal Ramadan disebabkan oleh metode yang digunakan oleh masing-masing kelompok ulama dan pemerintah di berbagai negara.
-Metode Rukyat (Pengamatan Hilal)
Berdasarkan hadits Nabi Muhammad
“Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal), dan berbukalah kalian karena melihatnya. Jika tertutup awan, maka sempurnakanlah bulan Sya’ban menjadi tiga puluh hari.” (HR. Bukhari no. 1909 dan Muslim no. 1081)
Metode ini mengutamakan pengamatan langsung terhadap bulan sabit yang menandai awal bulan hijriyah.
-Metode Hisab (Perhitungan Astronomi)
Beberapa ulama berpendapat bahwa dengan kemajuan ilmu astronomi, hisab dapat digunakan sebagai metode yang lebih akurat dalam menentukan awal bulan hijriyah.
Di Indonesia, perbedaan ini sering terjadi antara organisasi Islam seperti Muhammadiyah (yang cenderung menggunakan hisab) dan NU (yang cenderung menggunakan rukyat). Namun, pemerintah melalui Kementerian Agama berusaha menyatukan perbedaan ini dengan mengadakan sidang isbat sebagai forum musyawarah.
Cara Menyikapi Perbedaan dengan Bijak
Pertama, menghormati keputusan masing-masing pihak. Jika ada perbedaan dalam awal Ramadan, setiap Muslim harus menghormati pendapat dan keputusan kelompok lain tanpa mencela atau merendahkan.
Kedua, tidak menganggap kelompok kain salah secara mutlak. Baik rukyat maupun hisab memiliki dasar dalil masing-masing. Oleh karena itu, kita tidak boleh mengklaim bahwa hanya satu metode yang benar dan yang lain salah.
Jangan sampai perbedaan ini membuat kita terpecah-belah. Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu…”(QS. Al-Hujurat: 10)
Gunakan perbedaan ini sebagai ajang edukasi dan dakwah tentang pentingnya sikap toleransi dan persatuan dalam Islam.
Perbedaan dalam penentuan awal Ramadan adalah bagian dari kekayaan khazanah Islam dan tidak boleh menjadi sumber perpecahan. Islam mengajarkan persaudaraan dan melarang perpecahan, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an dan hadits.
Sebagai umat Islam, kita harus menyikapi perbedaan ini dengan bijak, saling menghormati, dan tetap menjaga ukhuwah Islamiyah. Dengan demikian, kita dapat menjalankan ibadah Ramadan dengan tenang dan penuh keberkahan, tanpa terganggu oleh perdebatan yang tidak perlu.
Semoga kita semua bisa menjadi bagian dari umat Islam yang selalu mengutamakan persatuan dan menjadikan perbedaan sebagai rahmat, bukan sebagai pemicu perpecahan. Aamiin.