Milad ke-2, Ketum KPSTI Tegaskan Pencak Silat Tradisi sebagai Identitas dan Martabat Bangsa

Ketua Umum Komite Pencak Silat Tradisi Indonesia (KPSTI), H. Mahfudz Abdurrahman, S.Sos, menegaskan bahwa peringatan Milad ke-2 KPSTI bukan sekadar seremoni organisasi, melainkan momentum peneguhan komitmen dalam menjaga marwah pencak silat tradisi sebagai warisan luhur bangsa.

Dalam pernyataan resminya, Mahfudz menyampaikan bahwa dua tahun perjalanan KPSTI memang bukan rentang waktu yang panjang dalam ukuran sejarah. Namun, periode tersebut dinilai cukup untuk menegaskan arah perjuangan dan ikhtiar kolektif dalam merawat pencak silat tradisi sebagai identitas budaya yang hidup di tengah masyarakat.

“Milad ke-2 tahun ini menjadi momentum refleksi sekaligus peneguhan tekad bahwa perjuangan melestarikan pencak silat tradisi bukan sekadar agenda organisasi, melainkan panggilan kebudayaan dan tanggung jawab peradaban,” ujarnya, Jumat (27/2/2026).

Mahfudz menekankan bahwa pencak silat tradisi tidak hanya berisi jurus dan teknik bela diri. Di dalamnya terkandung nilai adab, spiritualitas, tata krama, dan filosofi kehidupan yang diwariskan lintas generasi. Pengakuan dunia melalui penetapan UNESCO pada 2019 yang menetapkan Pencak Silat sebagai Warisan Budaya Takbenda, menurutnya, semakin menegaskan bahwa pencak silat adalah identitas kolektif bangsa Indonesia dengan nilai universal.

Baca juga:  Data Pribadi Terancam, Mahfudz Abdurrahman: Negara Jangan Jadi Penonton di Tengah Serangan Siber

Namun, ia mengingatkan bahwa pengakuan global tersebut membawa konsekuensi tanggung jawab besar. “Kita harus memastikan tradisi ini tetap lestari, otentik, dan tidak tercerabut dari akar budayanya,” tegasnya.

Di tengah arus modernisasi dan komersialisasi olahraga, Mahfudz menilai pencak silat tradisi menghadapi tantangan serius. Banyak perguruan tradisi yang berjuang mempertahankan eksistensi di tengah keterbatasan sumber daya, minimnya dukungan kebijakan, serta persoalan regenerasi.

Dalam konteks itulah KPSTI hadir sebagai wadah konsolidasi nasional bagi perguruan-perguruan silat tradisi. Organisasi ini berperan menjembatani komunikasi antar komunitas sekaligus memperjuangkan penguatan posisi hukum dan kelembagaan di hadapan negara.

Selama dua tahun terakhir, KPSTI disebut telah membangun fondasi organisasi, memperluas jejaring daerah, serta mendorong advokasi kebijakan agar pencak silat tradisi memperoleh perhatian proporsional dalam tata kelola kebudayaan nasional.

Mahfudz juga menekankan pentingnya konsolidasi internal di tubuh organisasi. Penguatan tata kelola, penataan administrasi, penyusunan basis data perguruan tradisi, hingga perumusan peta jalan pengembangan jangka panjang menjadi agenda strategis yang harus segera dituntaskan.

Baca juga:  Data Pribadi Terancam, Mahfudz Abdurrahman: Negara Jangan Jadi Penonton di Tengah Serangan Siber

Lebih jauh, ia menilai pencak silat tradisi memiliki peran strategis dalam pembangunan karakter bangsa. Nilai disiplin, keberanian, penghormatan kepada guru, serta keseimbangan lahir dan batin dinilai relevan dalam menjawab krisis moral dan tantangan sosial generasi muda saat ini.

“Pencak silat tradisi harus menjadi instrumen pendidikan karakter. Karena itu, sinergi dengan lembaga pendidikan, pemerintah daerah, dan komunitas budaya menjadi langkah penting ke depan,” kata Mahfudz.

Menutup pernyataannya, Mahfudz mengucapkan Selamat Milad ke-2 untuk KPSTI dan berharap organisasi yang dipimpinnya semakin kokoh dalam barisan, jernih dalam visi, dan teguh dalam perjuangan.

“Milad bukan sekadar peringatan usia, melainkan penanda keberlanjutan perjuangan. Dua tahun telah terlewati dan perjalanan masih panjang. Dengan niat tulus dan komitmen kuat, KPSTI harus terus menjadi pelita bagi pelestarian pencak silat tradisi Indonesia hari ini, esok, dan sepanjang zaman,” pungkasnya

Simak berita dan artikel lainnya di Google News