Senja perlahan turun di ufuk barat. Langit di atas kawasan Masjid Miladiyyah Kedonglo berwarna jingga keemasan, diselingi rintik hujan gerimis yang turun lembut, seolah menjadi tanda alam yang menyertai resepsi penutupan Asrama Romadhon Wahidiyah Kanak-kanak, Sabtu sore (21/2/2026).
Ratusan langkah kecil dari berbagai daerah memadati pelataran masjid. Bocah-bocah dengan busana muslim rapi itu berjalan tertib, sebagian menggenggam tas kecil, sebagian lagi merapatkan barisan. Wajah-wajah polos mereka tampak khusyuk. Saat doa dan mujahadah dipanjatkan, kepala-kepala mungil itu tertunduk dalam, bibir bergetar lirih, dan tak sedikit mata yang basah oleh air mata.
Suasana menjadi syahdu ketika lantunan doa menggema. Dalam rintik hujan yang tak kunjung reda, anak-anak itu memunajat memohon petunjuk, hidayah, serta syafaat Allah SWT dan Rasulullah SAW. Isak kecil terdengar di sela-sela dzikir. Sebuah pemandangan yang jarang terlihat: kesungguhan spiritual yang lahir dari jiwa-jiwa belia.
Selama tiga hari, mereka ditempa dalam suasana pesantren di lingkungan Pondok Pesantren Miladiyyah. Kegiatan Asrama Romadhon ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan ruang pembinaan ruhani yang dirancang untuk menanamkan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya sejak dini.
Dalam fatwa amanah dan doa restu yang singkat namun sarat makna, Romo KH Abdul Hamid Madjid, Shohibul Miladiyyah, menyampaikan pesan khusus kepada para peserta. Beliau menekankan pentingnya memperhatikan para pemateri yang telah memberikan pengajaran dan pendidikan selama asrama berlangsung.
“Bekal yang didapat selama tiga hari ini hendaknya diamalkan dan disyiarkan di daerah masing-masing,” pesan beliau di hadapan ratusan santri cilik dan wali yang hadir.
Menurutnya, ilmu dan pengalaman ruhani yang diperoleh bukan untuk berhenti di Kedonglo, tetapi harus menjadi cahaya yang dibawa pulang, menerangi keluarga dan lingkungan.
Beliau juga menambahkan pesan penting tentang tradisi mujahadah di bulan Ramadhan semasa sugengnya Mbah Kyai Abdul Madjid QS wa RA, Mu’alif Sholawat Wahidiyah. Setiap bulan Ramadhan, setelah sholat fardhu Isyak dan sebelum sholat sunnah Tarawih didirikan, beliau Mu’alif bermujahadah terlebih dahulu, lalu dilanjutkan dengan sholat Tarawih 23 rakaat.
Tradisi itu menjadi teladan spiritual yang terus dijaga dan diwariskan hingga kini, sebagai bentuk istiqamah dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Menjelang akhir acara, suasana kembali mengharu biru ketika Nida’ Empat Penjuru dikumandangkan. Seruan itu menggema, menyatu dengan udara senja dan gerimis yang masih turun perlahan. Setelahnya, para peserta diberi kesempatan musyafahah—bersalaman dan saling memaafkan—baik sesama kanak-kanak maupun dengan para hadirin.
Satu per satu anak-anak itu maju, mencium tangan para sesepuh, menyalami teman-temannya, sebagian kembali meneteskan air mata. Bagi mereka, tiga hari kebersamaan di asrama bukan sekadar kegiatan, tetapi pengalaman batin yang membekas.
Di tengah senja yang kian redup, ratusan bocah itu pulang membawa sesuatu yang tak kasat mata: getar doa, pelajaran keikhlasan, dan kenangan tentang gerimis yang menjadi saksi bisu awal perjalanan ruhani mereka. Pewarta: Hadi Hoy





