Di sebuah kota metropolis yang tak pernah tidur, gemerlap lampu malam menjadi saksi ribuan manusia memburu kenikmatan. Di balik hiruk pikuk itu, lahirlah seorang lelaki yang oleh lingkungannya dijuluki “penyamun”. Bukan sekadar perampas harta, tetapi penyamun waktu, penyamun makna hidupnya sendiri.
Ia tumbuh di lingkungan yang serba ada. Apa pun yang dilihat, didengar, dan dirasa—semuanya pernah dicoba. Kenikmatan dunia, termasuk yang diharamkan, menjadi bagian dari keseharian. Baginya, hidup adalah pesta panjang tanpa jeda. Tak ada rasa takut, tak ada rasa bersalah. Semua dianggap wajar, karena lingkungan membentuknya demikian.
Namun, seiring waktu, pesta itu terasa hambar.
Kehilangan Arah di Tengah Gemerlap
Ada satu fase ketika gemerlap tak lagi memikat. Tawa teman-teman terasa kosong. Gelas minuman beralkohol yang dulu dianggap simbol kebebasan kini menyisakan getir di hati. Di tengah malam-malam panjangnya, ia mulai merasakan kejenuhan yang tak terjelaskan.
Dalam benaknya muncul pertanyaan sederhana tapi menghantui: Sampai kapan semua ini?
Ia menyadari hidupnya jauh dari Tuhan. Jauh dari ketenangan. Jauh dari makna. Di titik itulah, benih hijrah mulai tumbuh—pelan, nyaris tak terdengar, tapi nyata.
Pertemuan yang Mengubah Segalanya
Tak ada kebetulan dalam skenario Tuhan. Di saat kegelisahan itu memuncak, ia dipertemukan dengan seorang lelaki sederhana. Tutur katanya biasa saja, tanpa retorika tinggi. Namun setiap kalimatnya sarat makna.
“Cobalah amalan ini,” kata lelaki itu sembari menyerahkan kartu kecil seukuran KTP.
“Kalau tidak cocok, hentikan saja.”
Di kartu itu tertulis satu kalimat nida’:
“Yaa Sayyidii Yaa Rosulullah.”
Sang penyamun terdiam. Dalam hatinya bergumam, Apakah semudah itu menghidupkan hati yang telah lama mati?
Namun keinginan untuk berubah lebih kuat daripada keraguannya. “Tak ada salahnya mencoba,” pikirnya.
Malam Terakhir dalam Kegelapan
Malam itu, tepat 1 Ramadhan. Ia masih duduk bersama teman-temannya, menenggak minuman beralkohol seperti biasa. Ia belum sepenuhnya berubah. Tapi di dalam hatinya, ada perasaan yang berbeda—seperti seseorang yang sedang bersiap mengucap selamat tinggal.
Satu per satu temannya pulang. Ia tertinggal dalam kesunyian. Kantuk datang bersama sisa pengaruh alkohol. Ia terlelap.
Tepat pukul 01.00 dini hari, ia terbangun.
Entah mengapa, kantuknya hilang seketika. Sunyi malam terasa berbeda. Ada dorongan kuat yang tak bisa dijelaskan—ia ingin membaca amalan yang diberikan kepadanya.
Perlahan ia mengambil tasbih kayu gaharu. Butir demi butir disentuhnya. Dengan suara pelan, ia mulai melafalkan:
“Yaa Sayyidii Yaa Rosulullah…”
Diulanginya kalimat itu. Lagi dan lagi. Satu butir tasbih, satu panggilan cinta. Tanpa terasa waktu berlalu hingga terdengar suara dari surau:
“Sahur… sahur…”
Malam itu, bau alkohol masih tersisa di mulutnya. Tapi hatinya mulai dibersihkan oleh dzikir yang tulus. Ada sesuatu yang pecah dalam dirinya—benteng keras yang selama ini mengurung cahaya.
Istana Tanpa Karpet Merah
Ia menyadari, hidup yang selama ini dibanggakannya hanyalah istana tanpa karpet merah. Megah di luar, tapi kosong di dalam. Tak ada kehormatan sejati, tak ada ketenangan.
Hijrah bukan tentang pakaian baru. Bukan tentang citra. Bukan tentang pengakuan manusia. Hijrah adalah keberanian mengakui bahwa kita salah, lalu memilih kembali.
Firman Allah dalam Al-Qur’an mengingatkan:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
Ayat itu seakan menjadi jawaban atas kegelisahannya.
Ia juga teringat pesan spiritual yang menguatkannya:
“Barang siapa yang bersungguh-sungguh (mujahadah) mencari jalan menuju-Ku, pasti akan Aku tunjukkan jalan menuju-Ku.”
Hijrah bukan keajaiban instan. Ia adalah proses. Ada jatuh bangun. Ada ragu. Ada godaan untuk kembali. Namun malam 1 Ramadhan itu menjadi titik balik—titik di mana ia memilih cahaya daripada gelap.
Pintu Taubat Selalu Terbuka
Kisah sang penyamun adalah cermin bagi kita semua. Seberapa pun dosa yang pernah dilakukan, pintu taubat tidak pernah tertutup. Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang.
Tidak ada manusia yang terlalu kotor untuk dibersihkan. Tidak ada hati yang terlalu mati untuk dihidupkan kembali. Selama ada kemauan, selama ada mujahadah, selalu ada jalan.
Hijrah bukan milik para ustaz, bukan milik orang yang sudah suci. Hijrah justru milik mereka yang sadar bahwa dirinya penuh noda dan ingin pulang.
Dan di malam yang sunyi itu, ketika dzikir lirih menggema di antara butiran tasbih, seorang penyamun menemukan jalannya pulang—tanpa karpet merah, tanpa sorotan lampu, hanya dengan air mata dan harap.
Karena sejatinya, istana yang megah bukanlah yang bertabur kemewahan, melainkan hati yang kembali hidup dalam cahaya Tuhan. Hadi Hoy






