✒️ Oleh: Asruri Muhammad
Ramadhan selalu datang dengan kemeriahan ibadah. Masjid penuh, jadwal amalan padat, dan semangat beribadah meningkat drastis. Namun pertanyaan mendasarnya adalah: apakah ibadah Ramadhan kita hanya sah secara hukum, atau juga bernilai tinggi di sisi Allah?
Pertanyaan ini penting, karena dalam Islam setiap ibadah—terutama ibadah wajib seperti shalat dan puasa—memiliki dua nilai sekaligus.
Dua Nilai dalam Ibadah
Dalam setiap ibadah, terutama ibadah wajib memiliki dua unsur nilai:
Pertama, nilai menggugurkan kewajiban.
Jika syarat dan rukun ibadah terpenuhi, maka ibadah tersebut sah secara fiqih dan kewajiban telah gugur. Shalat yang dikerjakan sesuai rukun dan syaratnya tidak perlu diulang. Puasa Ramadhan yang dijalani sesuai ketentuan syariat juga telah menggugurkan kewajiban.
Namun, sahnya ibadah tidak otomatis menjamin nilainya di sisi Allah.
Kedua, nilai pahala.
Nilai pahala sangat bergantung pada kualitas ibadah: keikhlasan niat, kehadiran hati, kekhusyukan, serta dampaknya terhadap akhlak dan ketakwaan. Di sinilah letak perbedaan besar antara ibadah ritual dan ibadah spiritual.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya seorang hamba selesai dari shalatnya, namun tidak dicatat baginya kecuali sepersepuluh, sepersembilan, seperdelapan… atau seperdua dari shalatnya.”
(HR. Abu Dawud).
Hadits ini menunjukkan bahwa shalat yang sah belum tentu bernilai utuh. Bahkan ada shalat yang pahalanya sangat kecil, meski secara hukum telah menggugurkan kewajiban.
Demikian pula dalam puasa. Rasulullah ﷺ mengingatkan:
“Betapa banyak orang berpuasa, namun tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar dan dahaga.”
(HR. Ahmad).
Puasa mereka sah, kewajiban telah gugur, tetapi nilai pahalanya bisa nol, karena puasa tidak melahirkan pengendalian diri, ketakwaan, dan akhlak mulia.
Ramadhan Ritual: Sah tapi Dangkal
Inilah yang disebut Ramadhan ritual: ibadah dijalankan sebatas memenuhi tuntutan hukum dan tradisi. Puasa menahan lapar, shalat sekadar gerakan, tarawih mengejar rakaat, tilawah mengejar khatam. Ibadah sah, tetapi tidak berbekas.
Ritualnya hidup, tetapi ruhnya lemah.
*Ramadhan Spiritual: Sah dan Bernilai*
Sebaliknya, Ramadhan spiritual adalah Ramadhan yang tidak hanya sah secara fiqih, tetapi bernilai tinggi secara spiritual. Puasa melatih kejujuran dan muraqabah. Shalat menghadirkan hati sebelum menghadirkan badan. Al-Qur’an tidak hanya dibaca, tetapi membimbing cara berpikir dan bersikap.
Allah menegaskan tujuan puasa:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)
Takwa inilah ukuran keberhasilan Ramadhan, bukan sekadar sahnya ibadah.
Dari Aktsaru ‘Amalan ke Ahsanu ‘Amalan
Pada titik inilah penting meluruskan cara pandang kita tentang nilai ibadah. Al-Qur’an sejak awal tidak mengarahkan umat untuk berlomba pada banyaknya amal (aktsaru ‘amalan), tetapi pada kualitas amal (ahsanu ‘amalan). Allah Ta‘ala berfirman:
“Dialah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kalian, siapa di antara kalian yang paling baik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2).
Para ulama menjelaskan bahwa ahsanu ‘amalan adalah amal yang paling ikhlas niatnya dan paling benar tuntunan pelaksanaannya, bukan yang paling ramai dan paling banyak secara lahiriah. Inilah yang sering luput dalam praktik ibadah Ramadhan. Kita sibuk menghitung jumlah rakaat, khataman, dan aktivitas ibadah, tetapi kurang jujur menilai kualitas shalat, kehadiran hati dalam puasa, dan keikhlasan dalam amal. Padahal, ibadah yang sah bisa saja hanya menggugurkan kewajiban, sementara nilai pahalanya sangat sedikit, bahkan nyaris nol, jika kehilangan ruh keikhlasan dan kesadaran kepada Allah. Tanpa perubahan mindset dari aktsaru ‘amalan menuju ahsanu ‘amalan, Ramadhan berisiko terus berulang sebagai rutinitas ritual, bukan proses pendewasaan spiritual.
Ramadhan Datang dan Pergi, Nilai Ibadah yang Menentukan
Ramadhan akan datang dan pasti akan berlalu. Namun nilai ibadah kitalah yang akan tinggal. Jika setelah Ramadhan shalat lebih terjaga, dosa lebih ditinggalkan, dan akhlak lebih lembut, maka itulah tanda Ramadhan spiritual.
Tetapi jika yang berubah hanya jadwal makan dan tidur, maka Ramadhan itu mungkin hanya ritual—sah, tetapi tidak bernilai tinggi di sisi Allah.(*)
Tentang Penulis:
Asruri Muhammad
Pemerhati Soaial Keagamaan, tinggal di Jakarta Selatan.





