Ipda Onny Adi Anugrah SE, MH: Wajah Humanis Polisi dari Pacitan yang Dekat dengan Masyarakat

Di sebuah wilayah pesisir selatan Jawa Timur yang tenang, sosok polisi dengan badan tegap dan senyum ramah kerap terlihat menyapa warga tanpa sekat. Ia adalah Ipda Onny Adi Anugrah SE, MH, Wakil Kepala Kepolisian Sektor (Waka Polsek) Pacitan, figur aparat yang memaknai tugas kepolisian bukan sekadar penegakan hukum, melainkan juga pengabdian sosial yang menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat.

Bagi banyak warga, kehadiran polisi sering identik dengan situasi darurat atau penegakan aturan. Namun Onny menghadirkan nuansa berbeda. Tubuhnya yang tegap memberi kesan wibawa, tetapi senyumnya yang ringan segera mencairkan jarak. Ia memilih hadir di tengah masyarakat—bukan menunggu laporan datang ke kantor.

Pendekatan ini bukan strategi pencitraan, melainkan keyakinan bahwa keamanan lahir dari kedekatan. Ia memahami bahwa rasa aman masyarakat tidak cukup dibangun melalui patroli dan prosedur, tetapi melalui komunikasi, kepercayaan, dan keteladanan.

Baca juga:  Polisi Gelar Penyuluhan Disiplin dan Bahaya Medsos di SMA SR 23 Pacitan

Salah satu perhatian utama Onny adalah generasi muda. Ia rutin turun langsung ke lingkungan warga, sekolah, hingga forum kepemudaan untuk memberikan penyuluhan mengenai:

-Bahaya penyalahgunaan narkoba

-Ancaman tawuran pelajar

-Pentingnya disiplin hukum sejak usia dini

-Peran keluarga dalam membentuk karakter anak

Bagi Onny, pencegahan jauh lebih bernilai daripada penindakan. Ia percaya bahwa satu anak yang terselamatkan dari narkoba berarti satu masa depan yang tetap terjaga.

Cara penyampaiannya pun sederhana—tanpa bahasa hukum yang rumit. Ia berbicara lugas, mudah dipahami, dan dekat dengan realitas keseharian remaja. Pendekatan inilah yang membuat pesan-pesannya lebih membekas.

Meski memegang jabatan struktural sebagai wakil kepala sektor, Onny tidak membangun jarak birokratis. Ia justru dikenal mudah dihubungi, bahkan melalui pesan WhatsApp (WA).

Keterbukaan ini mencerminkan gaya kepemimpinan pelayanan—bahwa jabatan bukan tembok pemisah, melainkan jembatan penghubung antara institusi negara dan warga.

Di tengah tantangan kepercayaan publik terhadap aparat, sikap responsif seperti ini menjadi energi positif yang memperkuat hubungan sosial antara polisi dan masyarakat.

Baca juga:  Polisi Gelar Penyuluhan Disiplin dan Bahaya Medsos di SMA SR 23 Pacitan

Seragam kepolisian sering dipandang simbol kekuasaan. Namun pada diri Onny, seragam itu justru menjadi sarana pengabdian. Ia menunjukkan bahwa ketegasan hukum dapat berjalan berdampingan dengan empati kemanusiaan.

Senyum yang ia tebarkan bukan sekadar keramahan personal, melainkan pesan bahwa keamanan tidak harus terasa menakutkan. Polisi bisa hadir sebagai sahabat, pendengar, sekaligus pelindung.

Pacitan mungkin jauh dari hiruk-pikuk kota besar, tetapi tantangan sosial tetap nyata—pergaulan bebas, narkoba, konflik remaja, hingga perubahan budaya. Di ruang inilah peran polisi humanis menjadi sangat penting.

Melalui langkah-langkah kecil yang konsisten—menyapa warga, memberi edukasi, membuka komunikasi—Onny sedang merawat harapan: bahwa keamanan lahir dari kebersamaan, bukan ketakutan.

Ia bukan hanya aparat penegak hukum.
Ia adalah penghubung kepercayaan.
Ia adalah wajah humanis kepolisian di selatan Jawa.

Dan selama senyum itu tetap hadir di tengah masyarakat, rasa aman akan selalu menemukan jalannya.

 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News