Dukungan terhadap Presiden Prabowo Subianto untuk melanjutkan kepemimpinan selama dua periode mulai menguat dari berbagai elemen masyarakat. Salah satu yang secara terbuka menyatakan sikap tersebut adalah Perhimpunan Pergerakan Jejaring Nasional Aktivis 98 (PPJNA 98) melalui Ketua Umumnya, Anto Kusumayuda.
Menurut Anto, dukungan kepada Prabowo bukan semata sikap politik jangka pendek, melainkan didasarkan pada pembacaan terhadap kinerja pemerintahan serta tingkat penerimaan publik yang dinilai tinggi. Ia menilai arah kebijakan nasional di bawah kepemimpinan Prabowo menunjukkan konsistensi pada stabilitas negara, penguatan ekonomi, serta keberlanjutan program sosial yang menyentuh masyarakat luas.
“Jika melihat indikator kepuasan publik yang tinggi, maka wajar bila muncul harapan agar kepemimpinan ini dapat berlanjut dua periode demi menjaga kesinambungan pembangunan,” ujar Anto dalam keterangannya, Rabu (11/2/2026).
Dasar utama dukungan tersebut merujuk pada hasil survei lembaga Indikator Politik Indonesia yang mencatat 79,9 persen responden merasa puas terhadap kinerja Presiden Prabowo. Angka ini dipandang sebagai sinyal kuat bahwa kebijakan pemerintah memperoleh legitimasi sosial yang cukup luas pada fase awal pemerintahan.
Dalam pembacaan politik, tingkat kepuasan mendekati 80 persen tergolong sangat tinggi untuk ukuran pemerintahan yang masih berjalan relatif awal. Hal ini menunjukkan kombinasi antara ekspektasi publik yang terpenuhi serta kepercayaan terhadap arah kepemimpinan nasional.
Sejumlah analis menilai, jika tren kepuasan tersebut mampu dipertahankan hingga pertengahan masa jabatan, maka peluang dukungan politik menuju periode kedua akan semakin terbuka—baik dari partai politik, kelompok masyarakat sipil, maupun pemilih akar rumput.
Dukungan dari PPJNA 98 memiliki dimensi simbolik tersendiri dalam lanskap politik Indonesia. Kelompok aktivis 1998 dikenal sebagai motor gerakan reformasi yang selama ini identik dengan sikap kritis terhadap kekuasaan.
Karena itu, pernyataan dukungan terhadap presiden yang sedang berkuasa mencerminkan pergeseran orientasi gerakan sipil dari semata kontrol kekuasaan menuju stabilitas dan keberlanjutan pembangunan. Dalam konteks demokrasi yang semakin matang, sebagian elemen masyarakat sipil mulai menempatkan efektivitas pemerintahan sebagai variabel penting selain kebebasan politik.
Anto menegaskan bahwa sikap PPJNA 98 tetap berada dalam kerangka kritis-konstruktif. Dukungan dua periode, menurutnya, bukan cek kosong, melainkan dorongan agar pemerintah menjaga komitmen pada reformasi, keadilan sosial, serta tata kelola yang bersih.
Meski pemilihan presiden berikutnya masih beberapa tahun lagi, wacana Prabowo dua periode mulai menjadi bagian dari percakapan politik nasional. Fenomena ini lazim terjadi ketika tingkat kepuasan publik terhadap petahana berada pada level tinggi.
Namun demikian, perjalanan menuju 2029 tidak akan lepas dari berbagai tantangan, antara lain:
-Stabilitas ekonomi global yang berpengaruh pada kesejahteraan domestik
-Pemerataan pembangunan antarwilayah
-Penguatan lapangan kerja dan daya beli masyarakat
-Konsistensi pemberantasan korupsi serta reformasi birokrasi
Keberhasilan menjawab tantangan tersebut akan sangat menentukan apakah dukungan publik dapat bertahan atau justru mengalami penurunan menjelang kontestasi politik berikutnya.
Dukungan PPJNA 98 mencerminkan harapan terhadap kesinambungan kepemimpinan nasional di tengah situasi global yang tidak menentu. Banyak kalangan menilai stabilitas politik menjadi faktor penting agar agenda pembangunan tidak terputus oleh pergantian arah kebijakan.
Di sisi lain, demokrasi tetap menuntut akuntabilitas dan evaluasi berkelanjutan. Tingginya kepuasan publik justru menjadi ujian tersendiri bagi pemerintahan Prabowo untuk mempertahankan kinerja, memperluas manfaat pembangunan, serta menjaga kepercayaan masyarakat.
Jika fondasi tersebut mampu dijaga, maka dukungan menuju dua periode berpotensi berkembang dari sekadar wacana menjadi realitas politik pada Pemilu Presiden 2029.





